Toleransi Dalam Syariat Islam

Hot News

Hotline

Toleransi Dalam Syariat Islam

(Foto/https://insists.id)


Oleh: Tri Setiawati, S.Si*

Bagaimana Islam memandang toleransi antar umat beragama? Beberapa waktu lalu Indonesia dihebohkan dengan sikap seorang walikota di sebuah wilayah.

Rombongan dipimpin Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar didampingi istri, Ferry Silviana Feronica mengunjungi sejumlah gereja di Kota Kediri, dimana para jamaahnya tengah merayakan Hari Natal. Sarat rasa kekeluargaan, para umat Kristiani ini menyambut hangat dan beberapa menjadikan moment ini untuk swafoto. Berangkat dari halaman Balai Kota Kediri, gereja pertama dituju GKJW, kemudian berlanjut ke Gereja Getsemani, Santo Yosep, GBI Semboja dan GKI Kediri (duta.co, 24/12/2019).

Ditemui usai kegiatan kunjungan terakhir di GKI Mas Abu, sapaan akrab walikota, menyampaikan bahwa kunjungan ini untuk memastikan perayaan Natal berlangsung nyaman dan lancar. “Kita memastikan saudara-saudara kita, Umat Kristiani merayakan Natal pada tahun ini berjalan lancar dan semoga membawa berkah untuk Kota Kediri,” ungkapnya.

Ada pesan disampaikan walikota dihadapan para jamaah selama kunjungan, selain memberikan ucapan terima kasih karena selama ini telah turut mendukung program pembangunan dan menciptakan kedamaian di Kota Kediri.

“Saya sampaikan terima kasih, kami di sini untuk mengucapkan selamat natal dan semoga Tuhan memberkahi kita semua. Bersama-sama kita hidup di dalam kota yang mampu menjaga kedamaian dan aman,” terangnya.

Selanjutnya, pesan disampaikan orang nomor satu ini, agar menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah-belah. “Jika ada berita miring, tidak usah dishare karena keberagaman ini menunjukkan Bhineka Tunggal Ika. Mari selalu berdoa dan semoga Tuhan selalu memberkahi menjadikan Kota Kediri guyub rukun. Mari kita selalu menjalin komunikasi, berdiskusi dan menjaga keutuhan,” ucapnya.

Melihat sejumlah anak muda dan mahasiswa berada dalam gereja, juga mendapat apresiasi khusus dari Mas Abu. “Saya Islam tapi saya datang ke gereja untuk mengucapkan Selamat Natal. Jangan saling menyakiti dan semoga semua diberi panjang umur,” imbuhnya.


Pemimpin Muslim yang turut menghadiri perayaan agama lain merupakan salah satu contoh upaya toleransi versi sekarang. Di balik itu, masih banyak terjadi model toleransi lainnya, seperti ucapan Natal dari seorang Muslim, pegawai yang diminta bosnya untuk menyiapkan kartu ucapan dan kado Natal, karyawan yang dituntut turut menggunakan atribut Natal, atau Muslim yang ikut-ikutan perayaan Natal.

Toleransi semacam ini menjamur akibat penerapan sebuah sistem yang sarat akan kebebasan. Sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang memberikan celah lebar untuk bersemayamnya kebebasan di tengah-tengah masyarakat, termasuk kebebasan aqidah. Mereka tak lagi peduli apakah toleransi akan mengorbankan aqidah atau tidak. Mereka pun tak paham, mana hal yang perlu ditoleransi dan bagaimana seharusnya diri menunjukkan sikap toleransi tersebut.

Sikap toleransi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna mendiamkan atau membiarkan. Secara luas, toleransi berarti sikap yang membiarkan perbuatan orang lain tanpa mengganggunya serta menghormati mereka. Jika dikembalikan kepada makna toleransi itu sendiri, maka toleransi saat perayaan Natal adalah dengan membiarkan penganutnya melakukan perayaan tersebut, menghormati, tidak mengganggu, dan tidak pula ikut campur.

Islam sebagai agama damai yang menjunjung tinggi toleransi sudah punya standar yang jelas dan tidak akan berubah. Seharusnya, seorang Muslim sejati sudah paham standar ini. Bagaimanakah Islam memandang toleransi? Simple saja. Islam membagi perkara toleransi ke dalam dua ranah.

Pertama, ranah prinsip
Ranah ini berkaitan dengan permasalahan aqidah dan ibadah. Untuk permasalahan prinsip, maka Muslim tidak boleh ikut campur dalam hal aqidah dan ibadah agama lain. Seperti perayaan Natal yang menyangkut masalah aqidah. Walau hanya sekedar ucapan selamat Natal, tapi tanpa sadar kita telah mengiyakan konsep ketuhanan mereka (trinitas). Padahal Islam jelas menjadikan ketauhidan sebagai konsep ketuhanan bagi Muslim.

Bahkan dalam Al-Qur'an, Allah juga telah menyerukan tentang toleransi terkait aqidah dan ibadah. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Kafirun ayat 6 yang berbunyi:
لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Ayat ini jelas mengisyaratkan bahwa tidak ada saling tolong menolong dalam perkara aqidah dan ibadah, meski hanya bertukar kartu ucapan ataupun kado hadiah. Jangan sampai pula kita tasyabbuh (menyerupai suatu kaum dalam hal yang khusus bagi mereka) meski tak berniat menyerupai mereka. Seperti dalam sabda Rasulullah SAW:
من تشبه بقوم فهو منهم

Kedua, ranah teknis
Ranah ini menyangkut perkara umum di luar aqidah dan ibadah, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Dalam perkara tersebut, Muslim diperbolehkan saling tolong menolong dengan penganut agama lain. Muslim dibolehkan mengajarkan ilmu kepada non Muslim, berjual beli dengan mereka, ataupun melakukan pengobatan asalkan tetap mengikuti batasan hukum syara'.

Karena Islam adalah agama yang memanusiakan manusia, maka tentunya Islam akan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Islam tidak akan mendiskriminasi umat agama lain yang minoritas, meski Muslim adalah mayoritas.

Sejarah pun telah mencatat betapa luar biasanya peradaban Islam dalam menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Selama sekitar 13 abad lamanya, Islam pernah menyatukan 2/3 wilayah dunia dengan penduduknya dari berbagai suku bangsa, ras, bahkan agama yang berbeda.

Meski berbeda-beda, namun mereka dapat hidup rukun dan damai. Mengapa? Karena Islam punya aturan terbaik dalam hal toleransi dan menyatukan perbedaan. Aturan mana lagi yang lebih baik? Adakah aturan lain yang sesempurna aturan Allah Yang Maha Sempurna?

*/Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.