Ulama Santri Ndableg

Hot News

Hotline

Ulama Santri Ndableg

(Foto/https://twitter.com)


Oleh: CeMaryam Sundari*

Buyung, pangilan untuk anak laki-laki usia remaja yang sangat agresif, pesimis, tapi cerdas. Subhanallah. 

Kerjanya Buyung setiap hari tawuran, nge-track, sering tidak pernah pulang ke rumah, setiap pulang selalu membawa masalah. Perilakunya tidak di sukai warga sekitar.

Ayah-bunda Buyung sudah tidak sanggup lagi melihat perilaku anaknya yang selalu meresahkan masyarakat. 

Akhirnya Ayah-bunda Buyung pun bersepakat memasukkan Buyung ke pondok pesantren ternama. 

Ayah : Buyung, anakku sayang, maukah kamu jadi lebih baik nak? 

Ayah dan juga bunda, ingin memasukkan kamu ke pondok pesantren favorit.

Buyung : (berpikir sejenan kemudian ia memutuskan) "Hmm ... Oke Ayah." (Dengan senyum simpulnya).

Ayah : "Alhamdulillah ." (menghela napas lega)

Buyung diantarkan ke pondok pesantren favorit (Jawa timur). Hari pertama Buyung di pesantren tampak ceria tapi wataknya sering jadi biang kerok masih belum bisa di lepas. Ia tidak mau belajar, sering mengganggu teman yang sedang fokus belajar, sering memporak-porandakan meja, kursi, lemari, dan perabot lainnya. Setiap hari selalu mendapat sanksi hukuman dari sang guru

Suatu ketika ada ulah Buyung yang sangat menjengkelkan santriwati.
Sehingga menyebabkan salah satu santriwati ada yang berteriak keras.

Santriwati : "Toloong ... Toloong ... ada pencuri!” 

Ustazah : “Ada apa, Nak? Kenapa berteriak pencuri? Mana pencurinya....” (sambil melihat-lihat di sekitar). 

Santriwati : “Pencurinya lari ke arah sana, Ustadzah ....” (menunjuk arah gerbang pembatas antara santriwan dan santriwati). 

Ustazah : “Sekiranya, apa yang di curi?” 

Santriwati : (hanya diam tidak berani berucap) 

Pertanyaan itu sampai diulang beberapa kali oleh ustazahnya. Akhirnya, santriwati bicara juga dengan penuh rasa malu. 

Santriwati : "Maaf Ustazah, Ikhwan tadi mengambil semua pakaian dalam saya, yang ada di jemuran ...."

Ustazah : (menghela nafas)Astagfirullah ... perbuatan memalukan siapa ini?!” 




Kemudian dari pihak pondok mencari tau siapa yang telah mencuri, ternyata yang mencurinya adalah Buyung. Kemudian buyung diminta untuk mengembalikan barang yang sudah dicuri dan mendapatkan sanksi.

Dengan kesepakatan bersama, karena sudah meresahkan jama'ah pondok, akhirnya Buyung dikembalikan kepada kedua orangtua nya. Hal ini di serahkan kepada pimpinan pondok K. H. Dahuri. L. tapi ternyata gugatan tersebut tidak di setujui oleh Kiai Pondok.

Kiai : Bismillahirrahmanirrahim. Buyung diantarkan oleh kedua orangtua nya ke pondok ini, dengan tujuan agar Buyung lebih baik dan merubah sikapnya yang tidak baik. Jika kita bersepakat menghantarkan Buyung kembali kepada kedua orangtuanya, tetap dalam keadaan belum berubah seperti itu, mau jadi apa Buyung, masa depannya semakin hancur, dan menyusahkan kedua orangtuanya... Juga mana tanggung jawab pondok, yang diamanahkan oleh orangtua Buyung agar menjadikan nya lebih baik?” 

Akhirnya, Buyung diasuh sendiri secara pribadi oleh pak Kiai pondok. Dengan penuh kesabaran, disiplin, tegas, dan penuh tanggung jawab. Alhamdulillah, atas doa pak kiai, akhirnya Buyung perlahan berubah menjadi lebih baik, menjadi pribadi yang saleh. 

Beberapa tahun kemudian setelah berubah Buyung dipulangkan kepada kedua orangtuanya.

Hari demi hari, tahun demi tahun pun berlalu, kerinduan pak Kiai pada muridnya Buyung selalu dirasakannya. Buyung selalu di nanti, berharap buyung datang untuk bersilaturahim ke pondok pak Kiai. 

_
Terdengar dari pintu ucapan salam. Pak kiai terus mendengar suara salam dari pintu depan rumahnya, sepertinya suaranya tidak asing lagi dalam pendengaran pak Kiai. Pak kiai pun menjawab salam itu.

Kiai : Wa'alaikummussallam, warohmatullahi....” (sambil melihat tamu yang datang adalah suami-istri dengan membawa kedua putranya) 

Kiai : “Siapakah kalian ini, Nak? Bapak belum pernah melihat sebelumnya.”

Tamu : (menatap mata pak Kiai yang saat itu sudah semakin tua usia nya. Dengan mata berkaca-kaca, tamu itu langsung terduduk sambil mencium tangan pak Kiai sambil menangis) 

Kiai : “Ada apa ini? Kenapa engkau menangis, Nak? 

Tamu : “Pak Kiai ... Coba lihat mata saya dengan saksama, siapakah saya? (sambil berdiri memandang pak Kiai) 

Kiai : Masya Allah ... Kamu adalah Buyung. Iya kamu Buyung murid kesayangan bapak ....” (Buyung pun dipeluk erat oleh pak Kiai. Semua meneteskan air mata kerinduan dan bersyukur kepada Allah, karena telah diper temukan kembali). 
Buyung : “Saya bersyukur kepada Allah Swt. telah ditemukan dengan Pak Kiai. Karena Pak Kiai yang membimbing saya mengenal Islam dan menjadikan diri saya lebih baik. Seandainya dahulu saya dibiarkan pulang ke rumah, dan tidak di asuh oleh pak kiai, mungkin hidup saya hancur karena jauh dari Islam. Terima kasih Pak Kiai... Terimakasih. Semoga Allah memberikan pahala terbaik dan tempat yang terbaik di sisi Allah swt. 

Kiai : Alhamdulillah ...  Amiin. 

Buyung sekarang menjadi ulama, ahli hadist, sering mengisi kajian di masjid -masjid, mengisi khutbah dan menjadi imam di Masjid Agung Sumatera Selatan Palembang. Ia juga sering mengisi kajian lewat udara, radio, televisi, terutama pada saat bulan ramadhan.

*/diambil dari kisah nyata K. H. Dahuri. L. (Guru ku) 

Editor: Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.