Umat Islam Butuh Pelindung

Hot News

Hotline

Umat Islam Butuh Pelindung


(Foto/https://merahputih.com)



Oleh : S. Latifah Nabhaan* 

Pasca beredarnya bocoran dokumen rahasia kepada Konsorsium Internasional Wartawan Investigasi (ICIJ) – The Chinese Cable tentang perlakuan jahat terhadap jutaan Muslim Uyghur di kamp-kamp konsentrasi dengan penjagaan ketat, kekerasan, indoktrinasi, intimidasi, diskriminasi, penindasan, penyiksaan, pengucilan, penyekapan dan pelarangan ibadah atas muslim Uyghur di Xinjiang China membuka mata dunia.

Republik Rakyat China yang secara hegemonik menguasai perkonomian dunia merasa yakin tak akan ada reaksi signifikan. Ia telah mampu menciptakan ketergantungan dunia, termasuk dunia Islam. Pemerintah-pemerintah yang memiliki ketergantungan menjadi tak berdaya, takut bereaksi, apalagi menekan. Kondisi psiko-politis ini dimanfaatkan oleh Pemerintah RRC untuk melakukan kekerasan, intimidasi, diskriminasi, penindasan, bahkan kekejaman atas muslim Uyghur di Xinjiang China.

Isu-isu terkait Kebijakan Pemerintah RRC yang secara sistematis melakukan kekerasan, indoktrinasi, intimidasi, diskriminasi, penindasan, penyiksaan, pengucilan, penyekapan dan pelarangan ibadah atas muslim Uyghur di Xinjiang China. Jika itu terjadi, maka itu merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia dan melecehkan Hukum Internasional serta bertentangan dengan Universal Declaration of Human Right, karena beragama merupakan sebuah kebebasan atau Hak Asasi Manusia yang paling mendasar sebagaimana diatur dalam International Covenant on Social and Political Right.

Sebenarnya sudah lama santer beredar kabar bahwa Pemerintah China membangun semacam kamp konsentrasi ala Nazi yang bertujuan mempersekusi dan menyiksa orang-orang Uyghur yang dicurigai. Di dalam kamp konsentrasi yang sanggup menampung hingga sejuta orang, warga muslim Uyghur mengalami proses di de-Islamisasi.

Kabar yang terdengar mereka dipaksa makan babi, minum alkohol, menyanyikan lagu-lagu komunis dan melarang hal-hal yang berbau Islam, melarang puasa, apalagi sholat dan bahkan mengucapkan ‘Insya Allah’ pun dilarang. Selebihnya yang ada di kamp itu adalah penyiksaan dan hukuman mati.

Pemerintah China berulang kali membantah berita ini, mereka mengatakan bahwa kamp itu adalah untuk pelatihan vodkasi, bukan untuk penyiksaan. Tapi China tidak mengizinkan orang asing apalagi peneliti independen untuk turun langsung dan melihat apa yang terjadi di sana. Bagaimana seluruh dunia yakin hal itu adalah hoaks seperti yang dibantah oleh Pemerintah China jika mereka sendiri tidak bisa diselidiki secara independen?

Perkembangan terakhir Permerintah China bahkan mencoba ‘menyuap’ ormas-ormas keagaamaan besar, tidak terkecuali di Indonesia. Ketua PBNU sendiri bahkan sempat mengatakan bahwa ‘Penyiksaan yang terjadi di Xinjiang’ adalah HOAKS. Entah dari mana dia mendapatkan data hingga bisa berkata seperti itu.

‘Apa manfaatnya membela Uyghur?’

Uyghur benar-benar dianaktirikan, bahkan oleh saudaranya sendiri sesama umat muslim. Umat Islam di seluruh dunia jauh lebih tertarik membela Palestina ketimbang umat muslim Uyghur. Orang-orang muslim di seluruh dunia memiliki alasan yang kuat untuk membela orang-orang Palestina. Sedangkan di Xinjiang apa alasan yang kuat? 

"Apa manfaatnya membela Uyghur? Di sana tidak ada Masjidil Aqsa?" kira-kira mungkin begitu jika ditanya alasannya. Dan membela Uyghur juga lebih berbahaya dibandingkan membela umat Islam di ‘negara lemah’ seperti di Rohingya, Myanmar. Cina sama sekali bukan negara lemah, mencari gara-gara dengan China implikasinya bisa merusak kemitraan dengan China, yang merupakan mitra dagang terbesar dan akhirnya bisa berakibat fatal ke perekonomian.

Seperti halnya Uyghur, kekejaman yang setara dengan genosida terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar terus berlangsung. Marzuki Darusman mengatakan kepada wartawan di markas PBB di New York bahwa pejabat Myanmar dipersiapkan untuk melanjutkan siklus kekerasan terhadap Muslim Rohingya, kecuali jika ada langkah-langkah untuk mengakhiri kekerasan itu.
Sebanyak 400.000 Muslim Rohingya yang belum meninggalkan negara itu terus menghadapi "bagian paling parah" dari penindasan yang sedang berlangsung, kata Darusman.

“Saat ini sedang berlangsung" katanya, seraya menyerukan kepada masyarakat Internasional untuk bertindak guna menghentikan pelanggaran. Berpidato di depan wartawan, penyidik khusus PBB Yanghee Lee mengatakan meski ada harapan, Penasihat Negara Aung San Suu Kyi akan mengantar era baru bagi Myanmar, situasinya “benar-benar tidak jauh berbeda dari masa lalu”.

Sejak Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar, menurut laporan yang dikeluarkan oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario. Lebih dari 34.000 Muslim Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan itu yang berjudul “Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tidak Terkira”. Sekitar 18.000 wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya sebagian besar anak-anak dan perempuan melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas pada bulan Agustus 2017.

PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massa, pembunuhan (termasuk bayi, dan anak-anak kecil, pemukulan brutal, penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar). Dalam laporannya, penyidik PBB itu mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Seringnya terjadi pembantaian terhadap kaum muslim mengingatkan kita pada masa ke Khilafahan di mana seluruh warga negara yang ada di dunia merasakan hidup dengan aman, damai, sejahtera dan merasakan keadilan, tidak membeda-bedakan ras, suku bangsa dan agama.

Khilafah  tidak hanya untuk orang Islam, non muslim pun bisa hidup di dalamnya. Dalam Islam warga negara non muslim disebut sebagai dzimmi yang berasal dari kata dzimmah yang berarti "kewajiban untuk memenuhi perjanjian". Islam menganggap orang yang tinggal di bawah naungan Islam sebagai warga  negara Islam dan mereka semua berhak  mendapatkan perlakuan yang sama. Negara harus menjaga, melindungi, keyakinan, akal, kehidupan dan harta benda mereka. Bahkan merekapun mendapatkan keamanan, kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan yang sama seperti kaum muslim. 

Islam menjamin perlindungan terhadap orang-orang non muslim, hal ini di sampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa "Barangsiapa membunuh seorang mu'ahid (kafir yang mendapat jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekalipun" (HR. Ahmad).

Selain itu, Islam pun melindungi Non-muslim yang hidup dibawah naungan Khilafah meski mereka tetap memeluk agama & keyakinan mereka. Rasulullah SAW bersabda "Siapa saja yang menganiaya ahli dzimmah, akulah yang akan menjadi penuntutnya" (HR. Al Habib Al Baqhdady).

Oleh sebab itu agama Yahudi, Nasrani, dan Islam bisa hidup berdampingan aman, damai, dan semua merasakan keadilan yang sama. Mereka non-muslim tidak dipaksa meninggalkan agama mereka, mereka diberikan jaminan hidup dan juga keamanan dari Khalifah. Alhasil Khilafah dapat memberikan rasa aman.

Berbeda dengan sekarang, hilangnya perisai umat yakni Daulah Khilafah Islamiyah tepatnya tanggal 3 Maret 1924, menjadikan kaum muslim tidak lagi memiliki institusi yang mampu melindungi dan memberikan rasa aman. Kekerasan demi kekerasan terus menimpa kaum muslimin, darah nyawa kaum muslim teramat murah. Seperti yang terjadi di New Zealand, Suriah, Palestina, Rohingya, Uyghur dan negeri muslim yang lain. 

Dunia bungkam begitu pun para penguasa muslim. Entah berapa banyak lagi kaum muslim yang akan mejadi korban kejahatan, kebiadaban dunia barat Yahudi.

Sikap dunia islam yang ambigu terhadap kekerasan yang di alami kaum muslim, memperpanjang derita umat Islam di berbagai belahan dunia. Kaum muslim saat ini menanggung penderitaan yang menahun.

Karenanya tidak bisa di sangkal lagi umat Islam butuh kekuatan nyata yang mampu menyelamatkan dan melindungi mereka. Umat Islam butuh institusi politik yang independen yang tidak terpengaruh tekanan asing. Umat Islam butuh pelindung, dan siapakah pahlawan itu?

Semoga penderitaan-penderitaan kaum muslimin seluruh dunia dapat menyadarkan kita semua. Bahwa meskipun mayoritas umat Islam di dunia ini, tetap saja menjadi kaum minoritas di dalam kehidupan ini terutama di bidang pemberdayaan alam dan pemimpin bumi (khalifah fil ardh). Wallahu 'alam. 

*/Penulis adalah Aktivis Mahasiswa


Editor : Indah Nurul Kamilia




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.