2012 Kesabaran Naik Haji Ditinggal Suami dan Sakitnya Buah Hati

Hot News

Hotline

2012 Kesabaran Naik Haji Ditinggal Suami dan Sakitnya Buah Hati


(Sumber Foto/https://www.bbc.com/indonesia/majalah-43186861)


Tahun 2012 bisa dikatakan tahun sedih namun tatkala pelajaran berharga dalam hidup ini. Karena kenapa, pada tahun tersebut juga saya sedang Naik Haji yang tidak mendapatkan dukungan penuh oleh suami yang kini sudah tak bersama. Ya, begitu juga pembiayaan dalam tabungan Naik haji diambil dari keringat kerja yang juga buat suami

Namun tepatnya pada tahun 2010, kami mendapatkan undangan manasik haji dari anak pertama kami dari sekolahnya. Secara tak disangka sang mantan suami berkenan naik haji, melihat hal itu saya lari sekencang kancil untuk segera memproses Haji.

Singkat cerita, dalam rasa gembira suami menemani Naik haji ternyata tidak jadi sehingga semangat langsung turun. Dengan itu juga pada anak saya terkena kanker darah selama kurang lebih 8 bulan harus dirawat yang dilalui dari perawatan untuk dikemo. 





Bayi berusia 2 Tahun pun yang terasa di setiap sendi Bundanya sangat meluluhlantahkan asa dan panjangnya lara. Sering kali sakit itu tak tertahan, bayipun menangis 5 hari tak henti, panas 41 derajat, merusak isi kepala sampai air mata pun tak bersisa. Tonjokan ke dinding toilet kamar mandi sampai darah mengucur dari tangan, satu satunya hiburan sementara yang membawa lega sesaat.

Dalam hal itu juga, kesempatan panggilan pemberitahuan dari Pemerintah datang di awal 2012 untuk kami berdua. Suami Istri berangkat bersama, sesuai mimpi panjang yang berharap terlaksana. Namun keadaan Hammam (anak ke-dua yang sakit) baru saja selesai kemo dan masuk masa remisi, mengharuskan kami menunda kepergian suami, karena khawatir jatahnya bisa hangus bila tidak dipakai. 

Kehidupan layaknya Roller Coaster, gak tau kapan up dan tiba tiba down. Ayah yang selama ini menguatkan batin mental karena komunikasi suami istri yang sudah banyak menurun saat itu, dengan berbagai sebab, dipanggil Allah SWT menghadapnya di dini hari jumat pula. Hari mulia yang bercucuran air mata.

Kepergian haji sendiri, dalam kondisi duka yang mendalam, membawa kebiasaan baru kepada manusia yang hampa hatinya. Ketidak percayaan diri atas kualitas diri sebagai Bunda anak Down Sindrome survivor leukimia dan hilangnya cinta kasih sayang dari Ayah, menghasilkan kebiasaan doa yang unik. Meninggal di tanah suci dan masuk surga.

(Foto; Nila/Penulis Bunda Kathe Bersama Tim Usaha selepas Meeting di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan)

Tak ada tawaf wajib maupun sunnah yang tidak dilalui dengan air mata lara dan doa unik versi saya. Allah maha menjaga, saat terik suhu sudah 45 derajat celcius, yang mungkin tidak seberapa panas dibanding neraka, di hati yang sudah kosong tersisa desah lirih, ya Allah panaaaas. Tak sanggup bibir ini berdoa dan mengeluh teringat dosa dan lara. Selalu Allah jawab dengan hujan seketika, yang di tiap derai airnya terasa elusan dan dekapan peluk erat dari Nya penghapus duka. Bukan sekali dua kali ini terjadi. Hujan 5 menit yang sekonyong konyong berbisik....hey Kathy mendekatlah.

*Diceritakan oleh Dra. Katherina Patrisia, MBA, Seorang Perempuan yang kini memiliki banyak usaha dari kucuran keringat semangatnya di Jakarta & Padang


Editor : Mas Andre Hariyanto


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.