Bahkan Teknologi Tidak Bisa Mengatasi Banjir

Hot News

Hotline

Bahkan Teknologi Tidak Bisa Mengatasi Banjir

(Foto/https://brilio.net)

  
Oleh: Lilis suryani



Musim penghujan telah tiba. Intensitas curah hujan mulai tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menjelaskan analisis BMKG bahwa tanggal 5-10 januari 2020 akan masuk aliran udara basah dari arah Samudera Hindia sebelah barat pulau sumatera di sepanjang garis ekuator. Aliran udara basah ini akan berdampak pada meningkatnya curah hujan menjadi lebih ekstrim (CNBC Indonesia).

Wilayah yang paling parah terkena imbas dari peningkatan curah hujan tersebut adalah Jakarta. Bencana banjir seolah menjadi bencana tahunan di Ibulota. Bahkan baru awal tahun 2020 kemarin, Ibukota sudah dilanda bencana banjir.







Data terakhir menyebutkan bencana banjir dan longsor di Jabodetabek menyebabkan 60 orang meninggal dunia. Sementara,jumlah warga yang terkena dampaknya mencapai 409 ribu jiwa hingga kamis (2/1) pkl 22.00 Wib. Lebih dari 173 ribu jiwa ada di tempat-tempat pengungsian. Selain itu bencana banjir juga menyebabkan kerugian materil. Akses pelayan publik terganggu,aktifitas perekonomian terhambat,hingga naiknya barang kebutuhan pokok.

Bencana banjir memang kehendak Yang Maha Kuasa, namun tentu saja kita harus berusaha agar bencana ini tidak terulang secara terus-menerus.Karena banjir tidak terjadi dengan tiba-tiba sebagai fenomena alam pasti ada penyebabnya. Salah satunya adalah debit air yang berasal dari air hujan memiliki volume yang besar. Kemudian limpahan daerah hulu lebih besar daripada air yang meresap,menguap, atau dibuang.

Maka perlu penanganan yang tepat untuk mengatasi bencana banjir. Misalnya dengan teknologi yang berguna mengendalikan peresapan dan pembuangan air. Teknologi yang paling tepat dalam peresapan air adalah dengan penanaman kembali pohon yang banyak terutama di daerah hulu. Sedangkan pembuangan yaitu membuang kelebihan air yang terdapat di permukaan ke laut. Contoh dari teknologi ini bisa dengan pembuatan situ, kanalisasi, pompanisasi, dan tanggul.

Namun segala usaha yang dilakukan untuk mengatasi bencana banjir tidak akan berjalan secara optimal tanpa pengaturan dari sistem yang benar. Faktanya, selama ini kebijakan penguasa lebih banyak memihak kaum Kapitalis. Sehingga para ahli tidak benar-benar menciptakan teknologi yang tepat sasaran. Mereka merancangnya ngawur saja, asal jadi. Karena yang jadi prioritas utama adalah rupiahnya, dana dari pembangunan untuk para pengusaha.

Islam dengan kesempurnaan sistemnya telah sejak lama bisa mengatasi permasalahan bencana alam.Hal ini telah dibuktikan sejarah bahwa islam mempunyai peradaban yang tinggi yang bertahan selama 13 abad.

Contoh-contoh pembangunan peradaban telah ada sejak zaman Rasulullah. Begitupula cara mengatasi berbagai kemungkinan bencana alam. Seharusnya hal ini dapat pula diterapkan di negeri tercinta.



Editor: Rosendah Dwi Maulaya


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.