Bencana dan Musibah Sebagai Isyarat Agar Kembali Mengingat Allah

Hot News

Hotline

Bencana dan Musibah Sebagai Isyarat Agar Kembali Mengingat Allah

(Foto/https//youtube.com)

Oleh: Yeyen*


Bencana kembali melanda, musibah kembali menyapa. Kali ini kembali hadir dalam wujud banjir. Seperti yang terjadi di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor dan di beberapa daerah sekitarnya. Sebagian memicu tanah longsor, salah satunya seperti yang terjadi di beberapa titik di Kecamatan Sukajaya Bogor.

Para ulama mendefinisikan musibah sebagai “segala sesuatu yang dibenci yang terjadi pada manusia” (kullu makruuhin yahullu bi al-insan) (Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam al-Wasith, hlm. 527). Berbagai musibah yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, seperti gempa bumi dan banjir misalnya, benar-benar telah melahirkan berbagai hal yang dibenci, seperti robohnya rumah, kematian anggota keluarga, rusaknya perabotan, dan sebagainya.

Bagian dari Ujian
Bencana di negeri ini, termasuk banjir dan longsor, tentu bukan sekali-dua kali terjadi. Bahkan sepanjang 2019 saja, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sebanyak 3.768 kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia. Di antaranya berupa gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, longsor, kebakaran hutan, dll. Menurut BNPB, akibat bencana sepanjang 2019, tercatat sebanyak 478 orang meninggal dunia, 109 hilang, 6,1 juta jiwa mengungsi dan 3.419 luka-luka. Bencana ini juga mengakibatkan terjadinya kerusakan pada sebanyak 73.427 rumah dan 2.017 fasilitas meliputi 1.121 sekolah, 684 rumah ibadah, 212 fasilitas kesehatan, 274 kantor dan 442 jembatan (Katadata.co.id, 31/12/2019).

Semua bencana tersebut tentu harus disikapi secara tepat oleh setiap Muslim. Dalam hal bencana karena faktor alam seperti gempa bumi, gunung meletus dan tsunami, semua itu merupakan bagian dari sunatullah dan qadha’ (ketentuan) dari Allah SWT yang tak mungkin ditolak atau dicegah. Di antara adab dalam menyikapi qadha’ ini adalah sikap ridha juga sabar. Baik bagi korban sendiri maupun keluarga korban. Bagi kaum Mukmin, qadha’ ini merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga dengan berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 155).

Penghapus Dosa
Selain sebagai ujian, bencana apapun yang menimpa seorang Mukmin, besar atau kecil, sesungguhnya bisa menjadi wasilah bagi penghapusan sebagian dosa-dosanya. Rasulullah saw. bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah (bencana) berupa kesulitan, rasa sakit, kesedihan, kegalauan, kesusahan hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tentu, dosa-dosa tersebut dapat terhapus dari orang yang tertimpa musibah jika ia mampu menyikapi musibah itu dengan keridhaan dan kesabaran (Lihat: Ibn Qudamah al-Maqdisi, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, 1/272; As-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin, 1/255).

Akibat Dosa dan Kemaksiatan
Selain karena faktor alam, tidak sedikit juga kejadian bencana yang justru diakibatkan ulah manusia sendiri. Contohnya kasus bencana asap beberapa waktu lalu, selain karena adanya kebakaran hutan (yang tidak disengaja), juga karena adanya upaya pembakaran hutan (secara sengaja) oleh beberapa korporasi/perusahaan. Sepanjang tahun 2019 saja BNPB mencatat setidaknya ada 747 kasus kebakaran/pembakaran hutan.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun telah memenangkan gugatan perdata atas kasus kejahatan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan total ganti rugi senilai Rp.315 triliun. Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Penegakan Hukum (Gakkum), selain memenangkan gugatan atas sejumlah korporasi, Ditjen Gakkum juga sudah menyegel 84 korporasi yang terlibat dalam kasus kejahatan Karhutla (Katadata.co.id, 18/11/2019).

Lalu dalam hal bencana berupa banjir dan longsor, selain karena curah hujan yang tinggi, juga ada faktor penyebab lain. Seperti dalam kasus banjir bandang dan tanah longsor di Lebak, Banten yang penyebabnya antara lain adalah karena perambahan hutan dan penambangan liar (Kompas.tv, 7/1/2020). Selain itu, banjir yang melanda Kawasan Jakarta khususnya di sebagian area Tol Jakarta-Cikampek, menurut Kemenhub, diakibatkan oleh Proyek Kereta Cepat. Proyek tersebut dianggap telah menutupi sejumlah saluran air, akibatnya air meluap dan menimbulkan banjir (Detik.com, 6/1/2020).

Semua bencana yang terakhir ini jelas akibat dari sejumlah pelanggaran yang dilakukan oleh manusia. Di antaranya dalam wujud tindakan merusak hutan, melakukan penambangan liar, mengabaikan Amdal, dll. Pemerintah pun cenderung lalai bahkan abai terhadap pelaku pelanggaran tersebut. Bahkan yang ironis, Pemerintah sendiri malah seolah “memfasilitasi” para pelaku pelanggaran tersebut. Misal, hanya demi menggenjot investasi, Pemerintah melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) atau Badan Pertanahan Nasional (BPN) berencana menghapuskan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan juga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) (Okezone.com, 8/11/2019).

Semua bencana ini dalam bahasa al-Quran merupakan akibat dari dosa dan kemaksiatan manusia. Seperti firman Allah SWT berikut:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya).” (QS ar-Rum [30]: 41).

Teladan Khalifah Umar ra. dalam Mengatasi Bencana
Imam al-Haramain (W. 478 H) menceritakan bahwa pada masa Khalifah Umar ra, pernah terjadi gempa bumi, namun ia segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Saat itu bumi sedang berguncang keras, Khalifah Umar ra. lalu memukul bumi dengan cambuk sambil berkata, “Tenanglah engkau, bumi. Bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.” Seketika bumi pun behenti berguncang.

Imam al-Haramain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Sebabnya, Khalifah Umar ra. adalah Amirul Mukminin secara lahir dan batin, beliau adalah khalifah Allah bagi bumi dan penduduknya (Yusuf al-Nabhani, Jami’ Karamat al-Awliya’, 1/157—158).

Demikianlah ketakwaan Khalifah Umar ra, sebagai pemimpin ia sanggup menjadikan bumi “bersahabat” dengan manusia. Sebaliknya, dosa dan kemaksiatan yang terjadi hari ini, khususnya yang dilakukan oleh penguasa, bisa menyebabkan bumi terus berguncang. Imam Ibnu katsir mengutip pernyataan Abu al-Aliyah terkait perusakan bumi, kata Abu al-Aliyah:

مَنْ عَصَى اللَّهَ فِي الْأَرْضِ فَقَدْ أَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ لِأَنَّ صَلَاحَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ

Artinya: “Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah di bumi maka sungguh ia telah merusak bumi. Sungguh kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan (kepada Allah SWT).” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Karim, 6/320).

Segera Bertobat!
Karena itu, satu-satunya cara untuk mengakhiri ragam bencana ini tidak lain dengan bersegera bertobat kepada Allah SWT. Tobat harus dilakukan oleh segenap komponen bangsa, khususnya para penguasa dan pejabat negara. Mereka harus segera bertobat dari dosa dan maksiat,  juga ragam kezaliman. Kezaliman terbesar adalah saat manusia, terutama penguasa, tidak berhukum dengan hukum Allah SWT, sebagaimana yang difirmankan-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Siapa saja yang tidak memerintah/berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan, mereka adalah para pelaku kezaliman.” (QS. al-Maidah [5]: 5).

Karena itu pula, tobat terutama harus dibuktikan dengan kesediaan mereka untuk mengamalkan dan memberlakukan syariah-Nya secara kâffah dalam semua aspek kehidupan (pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb). Jika syariah Islam diterapkan secara kâffah, tentu keberkahan akan berlimpah-ruah memenuhi bumi. Mengapa? Karena penerapan hukum Islam atau syariah Islam secara kâffah adalah wujud hakiki dari ketakwaan. Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) sehingga Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat.” (QS. al-Araf [7]: 96).

Hikmah yang mungkin bisa kita petik dari musibah yang menimpa bangsa belakangan ini, bisa jadi adalah tanda agar kita kembali melihat pesan-pesan Allah SWT dalam salah satu firman-Nya:

ءَأَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِىَ تَمُورُ - أَمْ أَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ - وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

Artinya: “Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (QS. al-Mulk [67]: 16-18. Wallahu a’lam.



*/ Penulis adalah Seorang Aktivis Dakwah

Editor: Mahesa Ibrahim

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.