Cinta Duniawi Menurut Ajaran Islam

Hot News

Hotline

Cinta Duniawi Menurut Ajaran Islam


(Foto/https://mujahiddakwah.com)


Oleh: Diana*


Setiap Muslim harus mengendalikan cintanya pada harta. Jangan sampai berlebihan. Ketika mencintai dunia berlebihan akan mendorong orang untuk memperoleh harta tanpa peduli halal atau haram.

Jika sudah demikian, cinta harta akan menjadi sumber bencana baik bagi individu maupun masyarakat sekitar. Orang yang mencari harta dengan jalan yang haram tentu berdosa dan menanggung akibatnya di dunia maupun akhirat. Di antara akibat di dunia yang harus ditanggung adalah dicabutnya keberkahan.

Allah SWT telah menciptakan pada diri manusia gharizah al-baqa yakni naluri mempertahankan eksistensi diri. Salah satu perwujudannya adalah kecintaan manusia pada harta dan kekuasaan. Allah SWT berfirman:

زُيِّنَلِلنَّاسِحُبُّالشَّهَوَاتِمِنَالنِّسَاءِوَالْبَنِينَوَالْقَنَاطِيرِالْمُقَنطَرَةِمِنَالذَّهَبِوَالْفِضَّةِوَالْخَيْلِالْمُسَوَّمَةِوَالْأَنْعَامِوَالْحَرْثِذَٰلِكَمَتَاعُالْحَيَاةِالدُّنْيَاوَاللَّهُعِندَهُحُسْنُالْمَآبِ

Telah dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa saja yang diinginkan, yaitu: para wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (TQS Ali Imran [3]: 14).

Dalam Al-Quran saja sudah jelas, bahwa manusia sifatnya mencintai harta. Cinta akan harta dapat penulis kelompokkan sebagai berikut:

Cinta Harta dan Korupsi

Harta kebanyakan diperoleh melalui interaksi, muamalah, dan transaksi dengan orang lain. Harta yang didapat dengan cara maksiat berarti diperoleh melalui transaksi yang melanggar syariah. Dalam hal ini tentu ada pihak yang dizhalimi atau dilanggar haknya. Semua itu terjadi karena dorongan cinta harta yang berlebihan.







Misalnya saja korupsi. Dampaknya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bisa berupa pelayanan yang terhambat atau masyarakat terhalang dari manfaat harta yang dikorupsi. Bahkan korupsi bisa mengakibatkan dharar (bahaya), misalnya ketika yang dikorupsi adalah dana pembangunan proyek tertentu. Akibatnya kualitas infrastrukur dan fasilitas akan menurun. Dana yang diperoleh tidak digunakan semua untuk pembangunan proyek, namun ada saja yang masuk ke kantong pribadi. Pembangunan yang tidak maksimal, dengan kontruksi yang asal jadi dan dana yang terbatas tentu akan membahayakan masyarakat ketika menggunakan infrastruktur tersebut nanti.

Cinta Kekuasaan

Bukan hanya cinta harta, korupsi juga dipengaruhi oleh hasrat atas kekuasaan atau jabatan. Di situlah cinta harta bertemu dengan cinta kekuasaan atau jabatan.

Cinta kekuasaan juga akan mendorong penguasa untuk mempertahankan kekuasaan selama mungkin. Baik tetap ada di tangannya atau di tangan keluarga, kroni dan koleganya. Dari situ lahirlah politik dinasti atau kroni. Terjadilah politik keluarga. . Bukan mustahil, hal tersebut dilakukan oleh para penguasa untuk pengamanan jabatan dalam pemerintahan. Naluri tidak mau hidup susah adalah faktor utama yang mendorong penguasa bertindak demikian

Kalau hal demikian sudah terjadi, akibat yang paling besar dirasakan masyarakat dimana pemerintahan menjadi otoriter, kebijakan  hanya berdasarkan kehendak ia dan keluarganya saja yang duduk dalam kursi pemerintahan.

Dalam sistem demokrasi saat ini, kekuasaan politik sangat dipengaruhi oleh unsur popularitas dan kampanye. Untuk itu dibutuhkan dana besar. Diduga salah satu caranya adalah dengan kolusi dan memanfaatkan kekuasaan untuk mendapatkan harta.

Hal itu dibuktikan antara lain oleh kasus korupsi yang dilakukan oleh anggota DPR atau DPRD selama tahun 2018, setahun menjelang pemilu yang melonjak lima kali lipat dari rata-rata tahun sebelumnya. Sungguh benar-benar miris.

Amanah Jabatan dan Kekuasaan

Jabatan dan kekuasaan ialah amanah. Berat pertanggungjawabannya. Di dalam Islam, jabatan dan kekuasaan merupakan amanah dengan dua tujuan, seperti yang dipaparkan oleh Imam al-Mawardi rahimahullah di dalam Ahkâm as-Sulthâniyah, yaitu untuk menjaga agama (harasah ad-dîn) dan mengatur dan memelihara dunia (siyâsah ad-dunyâ).

Amanah jabatan dan kekuasaan itu di akhirat hanya akan menjadi penyesalan kecuali ketika didapatkan dengan benar dan apa yang menjadi kewajiban ditunaikan dengan baik. Ketika Abu Dzar al-Ghifari radhiyallâh ‘anhu meminta amanah kepemimpinan, Nabi saw. menolaknya seraya memberi dia nasihat:

يَاأَبَاذَرّإِنَّكَضَعِيْفٌ، وَإِنَّهَاأَمَانَةٌ، وَإِنَّهَايَوْمَالْقِيَامَةِخِزْيٌوَنَدَامَةٌإِلَّامَنْأَخَذَهَابِحَقِّهَاوَأَدَّىالَّذِيعَلَيْهِفِيهَا

Abu Dzar, sungguh engkau lemah. Sungguh jabatan/kekuasaan itu adalah amanah dan ia akan menjadi kerugian dan penyesalan pada Hari Kiamat, kecuali orang yang mengambil amanah itu dengan benar dan menunaikan kewajibannya di dalamnya (HR Muslim)

Rasulullah saw. juga memperingatkan:

مَامِنْوَالٍيَلِيرَعِيَّةًمِنْالْمُسْلِمِينَفَيَمُوْتُ و َهُوَغَاشٌّلَهُمْإِلَّاحَرَّمَاللَّهُعَلَيْهِالْجَنَّةَ

Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan mereka kecuali Allah mengharamkan surga untuk dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Menghindarkan diri dari sifat cinta duniawi

Untuk menghindarkan dari sifat-sifat cinta duniawi di atas, manusia harus menegakan amal makruf nahi munkar.

Dalam hal ini kaum Muslim wajib terus melakukan amar makruf nahi munkar. Nabi saw bersabda:

َتَأْمُرُنَّبِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّعَنِالْمُنْكَرِ، أَوْلَيُؤَمِّرَنَّعَلَيْكُمْشِرَارَكُمْ، ثُمَّيَدْعُوخِيَارُكُمْ، فَلاَيُسْتَجَابُلَكُمْ

Hendaklah kalian melakukan amar makruf nahi mungkar. Kalau tidak Allah akan menjadikan orang-orang yang paling jahat di antara kalian berkuasa atas kalian. Kemudian orang-orang baik di antara kalian berdoa tetapi doa mereka tidak dikabulkan (HR Ahmad).

Allah SWT berfirman dalam TQS al-Anfal [8]: 27-28

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالَاتَخُونُوااللَّهَوَالرَّسُولَوَتَخُونُواأَمَانَاتِكُمْوَأَنْتُمْتَعْلَمُونَ .وَاعْلَمُواأَنَّمَاأَمْوَالُكُمْوَأَوْلَادُكُمْفِتْنَةٌوَأَنَّاللَّهَعِنْدَهُأَجْرٌعَظِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian sedangkan kalian tahu. Ketahuilah oleh kalian, sungguh harta-harta kalian dan anak-anak kalian bias menjadi fitnah (bencana) dan sungguh di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Kaum Muslim pun wajib memperjuangkan syariah Islam agar segera bisa diterapkan secara kaffah. Dengan itu cinta harta dan kekuasaan dapat dikelola dengan benar sehingga menjadi berkah. Wallahu’allam...


*/Penulis adalah Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Umat

Editor: Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.