Dunia Pendidikan di Dalam Islam

Hot News

Hotline

Dunia Pendidikan di Dalam Islam


(Foto/https://mahsun.net)

Oleh : Diajeng*


Tak dapat dipungkiri Indonesia adalah negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah dari Sabang hingga Merauke. Selain itu Sumber Daya Manusia (SDM)pun mampu menduduki peringkat empat dunia dengan presentase 3,53% dari populasi bumi. Tentu saja sumber daya manusia ini tidak boleh dikesampingkan. Karena kualitas warga negara-lah yang menentukan arah gerak negara itu sendiri. Negara pun memandang pendidikan sebagai aset yang akan menentukan kualitas kemajuan bangsa. Oleh karena itu, setiap warga negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi.

Banyak sudah kebijakan yang dibuat oleh negara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Bagai angin tidak dapat ditangkap, asap tidak dapat digenggam. Segala upaya peningkatan kualitas pendidikan nampak masih tak rata mencakup seluruh masyarakat. Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang baru, Nadiem Anwar Makarim, mengeluarkan gebrakan baru di dunia pendidikan Indonesia yaitu “MERDEKA BELAJAR” yang di dalamnya dijabarkan dalam 4 kebijakan, yaitu penilaian USBN komprehensif, UN 2020 jadi UN terakhir, penyederhanaan RPP, dan zonasi lebih fleksibel.

Selain itu Nadiem memaknai bahwa Merdeka Belajar adalah Merdeka Berpikir dengan dimulai dari para pengajar yang akan diturunkan. Tak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak problem dalam output pendidikan kita kini. Namun, jika dilihat dari gebrakan sang Mendikbud kita yang baru, hanya terfokus pada rancangan kinerja saja. Sedangkan kualitas hakiki sebagai manusia luput dari perhatian. Semakin hari mereka justru lebih dekat dengan nilai liberal dan kental dengan nilai-nilai Barat.




Dengan adanya kebebasan berpikir maka generasi kehilangan jati diri hakikinya sebagai hamba. Mereka tak lagi memiliki visi misi mulia di dunia. Dunialah yang menjadi prioritas kehidupan. Pendidikan saat ini hanya dijadikan komoditas pendayagunaan SDM agar siap kerja dan bersaing. Manusia dibentuk untuk menjadi pekerja terampil, bukan pencetus perubahan ataupun pembangun peradaban gemilang. Sistem pendidikan kini yang berdasar pada sekularisme hanya memproduksi manusia-manusia bebas tanpa mengerti nilai-nilai hidup. Sistem ini juga hanya mengajarkankan arti kebahagiaan sebatas nilai materi. Alhasil, lahirlah generasi tanpa iman dan krisis moral. Sungguh luar biasa tantangan dunia pendidikan di sistem sekular-kapitalis.

Selama Islam diterapakan, memang tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pendidikan berbasis Islam mampu melahirkan bibit unggul. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki :
 (1) Kepribadian Islam
 (2) Menguasai pemikiran Islam dengan andal
 (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK)
 (4) Memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Lalu mengenai kurikulum, pendidikan Islam dibangun berdasar akidah Islam. Pelajaran dan metodologinya diselaraskan dengan asas tersebut. Guru harus memiliki kepribadian dan akhlak yang baik. Bukan hanya sekadar penyampai ilmu, namun ia juga pembimbing yang baik.

Tentu saja, untuk menunjang seluruh kinerja guru harus difasilitasi dengan sebaik mungkin. Dimulai dari pelatihan-pelatihan ajar-mengajar, sarana dan prasarana, jaminan kesejahteraan hingga gaji yang memadai.

Semua itu tidak akan mungkin dicapai bila negara tidak ambil andil di dalamnya. Karena negaralah penompang pendidikan nomor satu meliputi seluruh aspek-aspek pendidikan hingga hak-hak pendidikan setiap warganya dan juga sarana prasarana serta jaminan kesejahteraan para guru.

Dan tentunya kembali lagi bak berjalan diatas air, mustahil rasanya sistem pendidikan Islam dapat diterapkan secara menyeluruh di negara yang berkiblat pada kapitalis sekularis.

Sadari bahwa gagasan Merdeka Belajar hanyalah satu dari sekian banyak program ilusi” buatan Pemerintah. Buktinya mau bagaimana pun kebijakan pendidikan di “ubek-ubek” tetap saja tidak mampu menyelesaikan problematika pendidikan negara ini.

Akhir kata, kebijakan pemerintah dalam hal ini pendidikan selalu terlihat pro-masyarakat. Namun, marilah kita lihat 2-3 tahun mendatang hasil dari rancangan Mendikbud baru ini. Akankah kebijakannya makin membuat maju dunia pendidikan ataukah hanya sekedar ilusi dan lagi-lagi kemajuan pendidikan hanyalah fatamorgana.


*/Penulis adalah Mahasiswi Universitas Swasta Banjarmasin


Editor : Tiara Cassandra

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.