Krisis Natuna Benih Krisis Kedaulatan Bangsa

Hot News

Hotline

Krisis Natuna Benih Krisis Kedaulatan Bangsa

(Foto/https//mojok.co)


Oleh : Yeni Marliani*


Perairan Natuna Kepulauan Riau memanas beberapa waktu lalu. Berawal dari ulah Negeri Tirai Bambu sebagai sumber permasalahan. Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla) menuturkan puluhan kapal nelayan penangkap ikan milik Cina bebas berlayar dikawal kapal penjaga pantai dan kapal perangnya.

Indonesia menganggap kapal-kapal Cina tersebut menerobos wilayah ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif) Indonesia. Sementara Cina sendiri mengklaim wilayah perairan dekat Natuna bagian dari Laut Cina Selatan tersebut adalah kedaulatan mereka.

ZEEI ditetapkan berdasarkan UNCLOS (United Nations Convention for the Law of the Sea) atau Konvensi Hukum Laut PBB yang disahkan pada 1982. Yakni area laut yang berjarak 200 mil dari garis dasar pantai terluar.

Kendati demikian, Cina sebagai anggota UNCLOS tidak mengakuinya. Cina memiliki aturan sendiri yakni NDL (Nine Dash Line) atau sembilan garis putus-putus, yaitu wilayah historis Laut Cina Selatan (LCS) seluas 2 juta kilometer persegi yang 90% di dalamnya mereka klaim sebagai hak maritim. Meliputi Kepulauan Paracel dan Kepulauan Spratly termasuk di dalamnya sebagian perairan Natuna wilayah Indonesia.

Garis-garis putus ini muncul di peta Dinasti Qing dari Zaman Kekaisaran Tiongkok dan masih ada di peta-peta Republik Tiongkok di Taiwan. Laut China Selatan adalah laut tepi bagian dari Samudra Pasifik, yang membentang dari Selat Karimata dan Selat Malaka hingga Selat Taiwan dengan luas kurang lebih 3.500.000 kilometer persegi. Laut ini memiliki potensi strategis yang besar karena sepertiga kapal dunia melintasinya. Laut ini juga memiliki kekayaan makhluk hidup yang mampu menopang kebutuhan Asia Tenggara sekaligus cadangan minyak dan gas alam yang besar.

Potensi Perairan Natuna

Berdasarkan studi identifikasi potensi sumber daya kelautan dan perikanan Provinsi Kepulauan Riau, tahun 2011, potensi ikan laut Natuna mencapai 504.212,85 ton per tahun. (Tirto.id, 9/1/20)

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, perairan Natuna dipenuhi berbagai jenis ikan. Potensi ikan pelagis mencapai 327.976 ton, ikan demersal 159.700 ton, cumi-cumi 23.499 ton, rajungan 9.711 ton, kepiting 2.318 ton, dan lobster 1.421 ton per tahun serta ikan lainnya. (m.cnnindonesia.com, 7/1/20)




Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, Blok East Natuna mempunyai kandungan volume gas di tempat (Initial Gas in Place/IGIP) sebanyak 222 triliun kaki kubik (tcf). Cadangan gas alam itu tidak akan habis untuk 30 tahun mendatang. Sementara, potensi gas recoverable di Kepulauan Natuna sebesar 46 tcf setara dengan 8,383 miliar barel minyak.

Tak hanya itu, potensi minyak perairan Natuna mencapai 36 juta barel minyak. Namun baru dimanfaatkan sekitar 25 ribu barel minyak.

Total, 500 juta barel cadangan energi terdapat di Natuna. Itu dari sisi volume, jika diuangkan, kekayaan gas Natuna bernilai mencapai Rp 6.000 triliun. Angka ini didapat dari asumsi rata-rata minyak selama periode eksploitasi sebesar USD 75 per barel dan kurs Rp 10.000 per USD. Nilai kekayaan ini sangat besar jika dibandingkan pendapatan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Potensi lainnya adalah sebagai jalur perdagangan strategis. Laut Natuna menjadi rute utama bagi sepertiga pelayaran dunia. Tercatat jumlah kapal yang lalu-lalang mencapai 1.000 unit per harinya.

Sikap Pemerintah Terkait Persoalan Natuna

Kemolekan potensi perairan Natuna menjadi rebutan berbagai negara. Tak terkecuali Cina. Perlu kita sadari, NDL yang dibuat sepihak adalah karangan untuk mengukuhkan dominasinya di kawasan Natuna. Sudah semestinya Indonesia bersikap tegas dan mengerahkan segala kemampuan mengusir Cina.

Namun, amat disayangkan. Respon Indonesia lembek dan kendor. Jangankan tindakan, ucapan beberapa pejabatnya tak menunjukkan kegaharan. Menteri Pertahanan saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Prabowo mengatakan "Kita cool saja. Kita santai kok ya. Kita selesaikan dengan baik ya. Bagaimana pun Cina negara sahabat" (Tirto.id, 3/1/20)

Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan pun senada. Ia meminta perkara ini tak perlu dibesar-besarkan. “Kita tidak pernah mengakui klaim itu. Itu sederhana kok, enggak usah terlalu diributkan," ucap Luhut.

Padahal jelas, Cina melakukan peremehan terhadap kedaulatan Indonesia. Sikap lembek dan kendor ini karena Indonesia tengah terjebak dalam pusaran piutang dan investasi dengan Cina.

Berdasarkan data statistik utang luar negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis Bank Indonesia (BI) per September 2019, utang Indonesia yang berasal dari Cina tercatat sebesar 17,75 miliar dolar AS atau setara Rp 274 triliun (kurs Rp 13.940). Cina kreditur terbesar ke empat setelah Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat.

Tak hanya utang, jeratan investasi Cina  pada 2019 mencapai 3,31 miliar dolar AS ke 1.888 proyek. Cina negara investor terbesar ketiga bagi Indonesia. Dua hal ini (utang dan investasi) jelas menunjukkan ketergantungan ekonomi terhadap Cina.

Selain itu, jika adu kekuatan secara de facto militer Indonesia jauh di bawah Cina. Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), anggaran militer Cina pada tahun 2018 mencapai 250 miliar dolar AS (Rp 3.485 triliun). Sementara anggaran militer Indonesia pada 2018, nilainya 7,44 miliar dolar AS ( Rp 104,12 triliun). Anggaran militer Cina bahkan lebih besar dari total APBN Indonesia tahun 2018 yang sebesar Rp 2.220 triliun. Jika ditinjau dari jumlah personel militer, menurut GFP total personil militer Cina mencapai 2,7 juta orang. Sementara jumlah tentara di Indonesia ditaksir mencapai 800 ribu.

Alutsista Cina juga lebih unggul. Cina memiliki 3.187 pesawat militer untuk pertempuran dan transport. Sementara Indonesia hanya 451 unit pesawat militer. Alutsista angkatan laut Cina lebih unggul karena total asetnya mencapai 714 unit. Indonesia hanya memiliki 221 unit (CNBC Indonesia, 5/1/2020).

Krisis perairan Natuna semestinya menyadarkan kita. Ketika ekonomi dibangun atas utang dan investasi asing, kedaulatan negara akan krisis. Bahkan tak ada nyali mempertahankan kedaulatan sedetik saja. Kedaulatan bisa tergadai di kemudian hari. Sebab, sedikit saja kita lembek akan menjadi preseden. Awalnya ikan yang dicuri selanjutnya tanah air yang dicuri. Sekarang Cina, berikutnya negara-negara lain akan mengikuti.

Solusi Islam dalam Menjaga Kedaulatan

Krisis Natuna mengingatkan kembali pada solusi Islam terkait mekanisme pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), jalinan hubungan bilateral, dan persatuan umat Islam.

Islam mengatur bagaimana pengelolaan SDA. Tugas negara ialah mengurusi umat, dengan cara mengelola SDA secara independen dan menyerahkan hasil pengelolaan itu pada rakyat. Berupa pemenuhan fasilitas umum, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Bentuk kerja sama dalam Islam tergantung dari posisi negara tersebut. Bagi negara yang nyata memusuhi Islam dikategorikan sebagai negara muharibain fi’lan. Maka, diharamkan melakukan kerja sama dalam bentuk apa pun.

Bagi negara-negara yang terikat perjanjian. Maka boleh menjalin kerja sama. Asalkan tidak menimbulkan kerugian dan mengancam kedaulatan. Dengan demikian, negara tidak boleh asal melakukan kerja sama, namun harus sesuai hukum syariat.

Cina negara adidaya kawasan Asia dengan sosialisme-kapitalismenya akan mudah saja mencaplok negeri-negeri muslim sekawasannya yang notabene kaya SDA seperti Indonesia. Sehingga butuh sistem pemerintahan yang tangguh dan mampu menandingi negara adidaya kawasan, bahkan dunia. Syariat Islam mewajibkan menjaga diri dan mempertahankan kedaulatan negara.

Sembari mengupayakan sistem yang tepat, upaya pembelaan negara harus terus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Tak maulah Indonesia yang sudah merdeka, kembali terjajah ekonominya. Solusi permasalahan ini tak cukup hanya dari pemerintah. Kalau menunggu pemerintah bertindak kapan jadinya? Maka, pemuda perlu berani menyadarkan dan mengkritisi sikap pemerintah yang sudah menyeleweng dan tak mau membela kedaulatan negara. Wallahu a'lam bisshowab.



*/Penulis adalah Anggota Komunitas Muslimah Peduli Generasi Brebes

Editor: Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.