Menghapus HIV Aids dengan Perbaikan Akhlak

Hot News

Hotline

Menghapus HIV Aids dengan Perbaikan Akhlak

(Foto/https//republika.co.id)



Oleh : Siti Subaidah*


Miris, Balikpapan kini dikejutkan dengan peristiwa yang mengiris hati. Pasalnya, diketahui seorang bayi terinfeksi virus HIV Aids yang terjangkiti dari sang ibu. Namun yang lebih memilukan, sang ibu bahkan menolak untuk merawatnya dan sang ayah kabur setelah mengetahui istri dan anaknya mengidap penyakit mematikan tersebut.

Usut punya usut ternyata virus tersebut ditularkan oleh sang suami yang memang sedari awal  mengidap penyakit HIV Aids. Bayi malang tersebut merupakan buah dari hubungan terlarang antara sang ibu dan sang ayah sebelum resmi menikah. Beruntung, pihak Rumah Aman Joyoboyo mau menampung dan merawat bayi tersebut. Saat ini Dinas Sosial dan pihak-pihak terkait sedang mencarikan solusi terbaik untuk bayi tersebut (procal.co).

Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan mencatat di tahun 2017 terdapat 1.110 kasus penularan HIV Aids. Sementara di tahun 2018 terdapat penambahan jumlah kasus HIV aids baru dengan total kini mencapai 1.507 kasus. Bahkan di sepanjang tahun 2018 terdapat 10 kematian yang disebabkan oleh penyakit ini. Angka-angka tersebut tentu menyimpulkan banyak asumsi yang ada dibenak kita. Sudah sebegitu rentannyakah kota Balikpapan?.

Padahal, seperti kita ketahui bersama HIV Aids sampai saat ini belum ada obatnya.  Selama ini para pengidap HIV meminum obat untuk meningkatkan imun (daya tahan tubuh) yaitu antiretroviral (ARV). Penderita harus meminum obat dalam jangka waktu tertentu bahkan seumur hidup sehingga virus tersebut tidak menyerang sel darah putih hingga menyebabkan penderita mengidap penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Ketika ditelusuri faktor penyebab HIV Aids yang paling mendominasi adalah perilaku seks bebas dan penggunaaan narkoba dengan jarum suntik. Selain itu virus HIV ini belakangan diketahui banyak terdeteksi pada ibu hamil. Perilaku seks bebas dan narkoba merupakan perilaku yang timbul dari gaya hidup kapitalis sekuler.

Gaya hidup ini menjadikan seseorang hanya memandang hidup dari sisi materi dan kesenangan duniawi semata. Maka tidaklah heran jika semakin kesini perilaku buruk di masyarakat berkembang. Bahkan dahulu yang mungkin dianggap tabu menjadi sesuatu yang biasa diera sekarang layaknya pergaulan bebas dan narkoba. Semua ini buntut dari penerapan gaya hidup tersebut.






Lalu bagaimana pandangan islam terkait permasalahan ini? Islam memandang bahwa HIV Aids bukanlah semata-mata persoalan kesehatan (medis) namun merupakan buntut panjang dari persoalan perilaku. Sebab telah terbukti penyebab terbesar penularan HIV Aids adalah perilaku seks bebas, baik itu zina dan homoseksual dan narkoba.

Islam memiliki beberapa mekanisme untuk menyelesaikan persoalan ini yakni pertama, melakukan pencegahan munculnya perilaku beresiko HIV Aids dengan melakukan pendidikan dan pembinaan kepribadian Islam.

Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan Islam yang menyeluruh dan komprehensif, dimana setiap individu muslim dipahamkan untuk kembali terikat pada hukum-hukum Islam dalam interaksi sosial. Seperti larangan mendekati zina dan berzina itu sendiri, larangan khalwat, larangan ikhtilat (campur baur laki perempuan), selalu menutup aurat, memalingkan pandangan dari aurat, larangan masuk rumah tanpa izin, dan lain-lain. Selain itu perlu juga upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, dan memberantas lingkungan yang tidak kondusif

Kedua, memberantas perilaku beresiko penyebab HIV Aids (seks bebas dan penyalahgunaan narkoba) yakni dengan menutup pintu-pintu yang mengakibatkan munculnya segala rangsangan menuju seks bebas. Negara wajib melarang pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya.

Begitu juga dengan narkoba, hal-hal yang dapat membuat peredaran dan penggunanya semakin luas akan di tutup. Selain itu pemberian sanksi tegas akan diberlakukan oleh negara kepada pelaku perzinahan, seks menyimpang, penyalahguna narkoba, konsumen khamr, beserta pihak-pihak  terkait yang menjadikan seks bebas dan narkoba sebagai bisnis mewah. Sanksi yang diberikan mampu memberikan efek jera atau dengan kata lain menegakkan sistem hukum dan sistem persanksian Islam.

Ketiga, pencegahan penularan kepada orang sehat yang dilakukan dengan mengkarantina pasien terinfeksi (terutama stadium AIDS) untuk memastikan tidak terbukanya peluang penularan. Kepada penderita HIV Aids, negara harus melakukan pendataan konkret.

Negara bisa memaksa pihak-pihak yang dicurigai rentan terinveksi HIV/AIDS untuk diperiksa darahnya.  Karantina dimaksudkan bukan bentuk diskriminasi, karena negara wajib menjamin hak-hak hidupnya. Bahkan negara wajib menggratiskan biaya pengobatannya, memberinya santunan selama dikarantina, diberikan akses pendidikan, peribadatan, dan  keterampilan.

Di sisi lain, negara wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk membiayai penelitian guna menemukan obat HIV/AIDS. Dengan demikian, diharapkan penderita bisa disembuhkan

Ketiga mekanisme tersebut akan mampu menyelesaikan permasalahan HIV Aids hingga keakar-akarnya. Oleh karena itu, menoleh kepada keagungan hukum Allah bukan hanya menjadikan kita sebagai individu mulia di mata Allah. Namun lebih dari itu, penerapan Islam secara sempurna mampu menjadikan manusia hidup dalam keberkahan baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam bishawab.



*/Penulis adalah Pemerhati Lingkungan dan Generasi, Anggota MT Khairunnisa Baltim, Aktivis Forum Ibu Peduli Generasi Balikpapan

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.