Panglima Islam Laksamana Cheng Ho Menjelajah Dunia Menyebarkan Syiar

Hot News

Hotline

Panglima Islam Laksamana Cheng Ho Menjelajah Dunia Menyebarkan Syiar

(Foto/https//zetizen.jawapos.com)

Oleh: Rosendah Dwi Maulaya*


Bermula dari perjalanan hijrahnya Ja’far bin Abi Thalib dan rombongannya. Mereka hendak menuju ke sebuah negeri yang terletak di Afrika, yang saat ini bernama Ethiopia. Namun badai besar menghantam kapal dan membuat mereka terdampar di semenanjung Cina. Kejadian itu membuat Ja’far beserta rombongannya harus tinggal di sana selama beberapa bulan.

Pada saat itu agama Islam sedang mengalami perkembangan, termasuk di negeri Cina. Meskipun tak terlalu pesat, namun setidaknya sudah ada lentera kecil yang menjadi cikal-bakal Islam di negeri tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya seorang Panglima perang Tiongkok bernama Phu Sao Keng yang dikenal sebagai muslim yang taat saat itu.

Sekembalinya dari Cina, Ja’far bercerita pada Rasulullah, bahwa dirinya dan rombongan disambut dengan hangat melebihi kerabat di negeri tirai bambu tersebut. Ja’far menyampaikan permintaan Phu Sao Keng kepada Rasulullah agar didatangkan ulama dari Arab ke negerinya. Rasul pun menyetujui dan mengirim sahabat terbaik. Diutuslah Saad Ibn Abu Waqash untuk berdakwah di sana.

Melalui tulisan ini, penulis hendak mengupas sejarah Islam di Tiongkok dari abad ke tujuh sampai penyebaran Islam di nusantara oleh Laksamana Cheng Ho. Ada beberapa sumber yang dijadikan rujukan namun satu yang mendominasi tulisan ini, yaitu buku karya Baha Zarkhovice yang berjudul ‘Laksamana Cheng Ho Panglima Islam Penakluk Dunia’.

Sejarah Tiongkok tentu saja sangat banyak, namun dalam tulisan ini penulis hanya fokus membahas perkembangan Islam dengan mengambil tokoh seorang laksamana yang telah banyak memberikan sumbangsih terhadap kemajuan Islam di eranya.

Pada dasarnya Tiongkok saat itu tidaklah memiliki agama. Mereka hanya kenal dengan pemahaman Confusianisme dan Taoisme, yang merupakan cikal-bakal perkembangan budaya tiongkok yang mengajarkan mereka mengenai filsafat dan politik. Dengan kata lain agama di Cina merupakan impor dari luar.

Lao Tzu yang merupakan penemu ajaran Taoisme bertutur, “Kebencian menurut Taoisme hanya dapat dihilangkan dengan menghilangkan hasrat duniawi pada diri manusia”. Sekilas pandangan Lao Tzu ini mirip dengan ajaran Tasawuf dalam Islam, sehingga alasan ini mungkin yang membuat warga Tiongkok pada saat itu tidak langsung menolak saat Islam datang ke tanah mereka. Bahkan menurut beberapa literatur, terjadi akulturasi dua kebudayaan berbeda di negeri tersebut, dimana bangunan mesjid di Tiongkok mirip dengan bangunan candi tempat ibadah agama lain.

Perjalanan Islam dari Dinasti Tang ke Dinasti Ming, dari Sa’ad ibn Abu Waqash ke Pemuda Yunnan

Dinasti Tang mulai berkuasa sejak 18 Juni 618. Agama resmi yang dianut keluarga kerajaan serta mayoritas rakyat adalah agama budha. Di era ini Tiongkok mendapat kunjungan dari orang Arab bernama Sa’ad ibn Abu Waqash. Kunjungan tersebut disambut dengan tangan terbuka oleh kaisar Ghouzong. Kaisar sampai-sampai memerintahkan untuk membuat mesjid di kota Canton yang merupakan mesjid pertama di daratan Tionghoa. Selama rentang waktu tahun 960-1279, Dinasti Tang dijungkirbalikan oleh Dinasti Song, dinasti yang berdiri sebelum kedatangan bangsa Mongol.

Dinasti Song terbilang cukup maju saat itu. Mereka mulai menggunakan uang kertas sebagai alat pembayaran yang sah. Negeri Tiongkok semakin ramai, karena bertambahnya pedagang muslim yang terus berdatangan semenjak Dinasti Tang. Kaisar Shenzhong pemimpin dinasti Song juga mengundang 5300 orang Islam yang berasal dari Bukhara untuk menetap di Tiongkok, dari sinilah kemudian terbentuklah sebuah komunitas muslim di Tiongkok yang dipimpin oleh Amir Sayyid, atau yang lebih dikenal sebagai So-Fei-Er.

Kedatangan bangsa Mongol membuat peradaban Dinasti Song yang semula cemerlang perlahan meredup, sampai akhirnya pemerintahan berhasil diambil alih oleh bangsa Mongol. Dari sinilah Tiongkok mulai dipimpin oleh Dinasti Yuan yang merupakan bangsa pendatang, tidak seperti dinasti-dinasti sebelumnyaSebagai kelompok minoritas, bangsa Mongol memberikan status yang lebih tinggi kepada penduduk Muslim, Yahudi, dan Kristen daripada suku Han yang merupakan suku asli Tiongkok.

Di masa-masa inilah hadir seorang pemuda dari Yunnan yang bernama Ma Ho (kelak dikenal sebagai Cheng Ho), ia tergabung dalam kekuatan militer bangsa Mongol. Meskipun rela bekerja sama, namun dalam hatinya selalu tersulut amarah dan dendam untuk membebaskan bangsanya dari belenggu kekuasaan Mongol yang tak terkalahkan.

Bangsa Mongol memiliki pengaruh hampir ke seluruh dunia. Mereka berhasil menaklukan beberapa negeri seperti Jepang, Koryoi (Korea), Vietnam, dan negara negara seberang lautan. Indonesia sendiri pun pernah tercatat pernah didatangi utusan dari Jengiz Khan saat ituBahkan Dinasti Abbasiyah yang pada saat itu bisa dibilang telah mencapai peradaban yang cukup gemilang terutama mengenai ilmu pengetahuan, berhasil ditaklukan oleh bangsa Mongol. Buku-buku dan jilidan-jilidan dibakar dan dihanyutkan ke sungai.

Kekuasaan Mongol di bawah komando Jengiz Khan memang terkenal kejam dan sadis. Mereka melakukan penaklukan-penaklukan dengan membunuh warga sipil yang tak bersalah, menghancurkan rumah, bahkan membakar jalan.

Dibalik itu semua, hancurnya sebuah kekuasaan seringkali akibat dari korupsi yang dilakukan elite pemerintahan. Masih kita ingat bagaimana kebangkrutan dan kehancuran kekuasaan VOC di Indonesia akibat dari korupsi yang tak terkendali. Begitu pula dinasti Yuan.

Saat korupsi sedang merajalela, jenderal muslim dari pihak Dinasti Yuan bersama dengan pemuda suku Hui-Hui dari Yunan yang sekarang dikenal sebagai Cheng Ho melakukan pemberontakan.





Pada tahun 1368, Jenderal Zhu Yuanzhang berhasil mengalahkan bangsa Mongol kemudian mendirikan dinasti baru yang dinamai “Dinasti Ming”. Dinasti Ming disebut-sebut oleh ahli sejarah sebagai dinasti Islam pertama di Tiongkok. Kaisar Zhu Yuanzhang sendiri pernah membuat syair yang terdiri dari 100 untaian kata yang berisi puji-pujian terhadap Nabi Muhammad.

Zhu Yuanzhang yang selanjutnya dikenal sebagai kaisar Hongwu digantikan oleh kaisar Yong Lee. Pada masa pemerintahan kaisar Yong Lee (pangeran Yan) inilah berbagai macam ekspedisi laksamana Cheng Ho dilakukan untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian.

Ekspedisi Pelayaran Laksamana Cheng Ho

Dalam sejarah pelayaran dunia, Cheng Ho disebut-sebut sebagai laksamana yang mampu memimpin pelayaran terbesar dalam sejarah umat manusia. Cheng Ho hampir menghabiskan seluruh hidupnya untuk memimpin armada besarnya mengelilingi 30 negara dengan menggunakan 200 kapal dan lebih dari 30.000 awak kapal di dalamnya.

Selain untuk berdagang, utusan dari Tionghoa ini juga membawa misi yaitu menyebarkan agama Islam di daerah-daerah yang dikunjunginya. Laksamana Cheng Ho merupakan pemuda yang berasal dari suku Hui-hui di kota Kunyang Propinsi Yunnan. Ayahnya bernama Ma Hazhi, merupakan seorang muslim yang taat. Tidak mengherankan jika pengetahuan Cheng Ho tentang Islam dianggap sangat mumpuni.

Berikut destinasi pelayaran-pelayaran Laksamana Cheng Ho yang dicatat oleh sejarah.

Pelayaran ke-1: Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aru, Sumatera, Lambri, Cheylon, Kollam, Cochin, Calicut.

Pelayaran ke-2 : Champa, Jawa, Siam, Sumatera, Lambri, Calicut, Cochin, Cheylon.

Pelayaran ke-3 : Champa, Jawa, Malacca, Sumatera, Cheylon, Quillon, Cochin, Calicut, Siam, Lambri, Koryo, Ceimbature, Puttampur.

Pelayaran ke-4 : Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Sumatera, Cheylon, Cochin, Calicut, Kayal, Pahang, Kelantang, Aru, Lambri, Hormuz, Maladewa, Mogadishu, Brawa, Mallindi, Aden Muscat, Dhufar.

Pelayaran ke-5 : Champa, Pahang, Jawa, Malaka, Sumatera, Lambri, Cheylon, Sharwayn, Covhin, Calicut, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Mallindi, Aden.

Pelayaran ke-6 : Hormuz, Afrika Timur, negara negara di jazirah Arab.

Pelayaran ke-7 : Champa, Jawa, Palembang, Malaca, Sumatera, Cheylon, Calicut, Hormuz.

Ekspedisi pelayaran yang ketujuh ini merupakan ekspedisi terakhir Laksamana Cheng Ho sebelum akhirnya beliau wafat.


Cerita ini mengingatkan kita, betapa dahulu telah datang seorang jenderal pemimpin beratus-ratus kapal dan beribu-beribu awak kapal di Nusantara. Kedatangan mereka bukan untuk mengancam, melainkan untuk menjalin persahabatan juga menyebarkan Islam. Kalau saja Marcopolo atau Columbus yang berkunjung, sudah pasti mereka akan membawa misi penaklukan, menjadikan negeri tempatnya berpijak sebagai negara jajahan.



*/Penulis adalah Siswa SMAN 1 Dompu

Editor : Muh Fahrurozi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.