Panglima Terbaik Penakluk Konstantinopel

Hot News

Hotline

Panglima Terbaik Penakluk Konstantinopel

(Foto/https//republika.co.id)



Oleh: Nur Syamsiyah


Bisyarah atau kabar gembira dari Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam merupakan spirit utama bagi kaum Muslimin untuk terus berjuang meraih kemenangan. Baik itu bersumber pada Al-Quran ataupun sabda Nabi, kabar gembira selalu menjadi sumber kekuatan yang tak mampu dihentikan oleh siapa pun. Sebab, apa yang disampaikannya itu adalah benar dan pasti akan terjadi.

Sejarah telah mencatat, sekian banyak kesuksesan perjuangan umat Islam berawal dari semangat merealisasikan janji Nabi. Sebut saja kisah fenomenal yang dilakukan oleh Superhero umat Islam Muhammad Al-Fatih. Beliau bukan tokoh fiktif, melainkan tokoh yang keberadaan dan pengaruhnya sangat nyata. Hal ini sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam dalam sabdanya.

Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (khalifah) adalah amir (khalifah) yang memimpin penaklukkannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim).

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata, “Saat kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Maka, Rasulullah Saw. menjawab, Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel. (HR Ahmad)

Sejarah mencatat bahwa upaya serius penaklukan Konstantinopel telah berlangsung sejak masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (668-669 M). Namun karena kuatnya pertahanan musuh, pasukan Islam yang dipimpin olehYazid bin Muawiyah, belum mampu menaklukkan kota tersebut. Saat pengepungan ini, salah seorang Sahabat Nabi, Abu Ayyub Al Anshari wafat. Beliau dimakamkan di dekat dinding Konstantinopel sesuai wasiatnya.

Kota Konstantinopel memang terkenal dengan kota yang paling aman pada masanya. Kota ini dilindungi oleh benteng-benteng yang kokoh. Ia juga memiliki benteng alam berupa tiga lautan yang mengelilinginya, yaitu selat Basphorus, laut Marmara, dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai besar.






Sementara daratannya dijaga dengan benteng yang kokoh terbentang dari laut Marmara sampai keTanduk Emas. Dari segi kekuatan militer, kota ini terhitung sebagai kota yang terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar yang tinggi menjulang, menara pengintai yang kokoh serta ditambah dengan serdadu Byzantium di setiap penjuru kota. Dengan demikian, proses penaklukan menjadi misi yang sulit dan bahkan mustahil. Tapi seorang pemuda yang masih terbilang belia, Muhammad Al-Fatih, berhasil melakukannya.

Cita-cita untuk membebaskan Konstantinopel sebenarnya sudah ada sejak beratus-ratus tahun lalu. Upaya pembebasan terus berlanjut meskipun selalu gagal. Setelah 825 tahun menanti, Allah mengabulkan impian umat Islam tersebut melalui kepemimpinan seorang pemuda berusia 21 tahun, Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin ke-tujuh dari Daulah Utsmaniyah.

Sejarah menceritakan bahwa Muhammad Al-Fatih adalah seorang yang shalih. Sejak baligh, Al-Fatih tidak pernah meninggalkan kewajibannya dan senantiasa memperbanyak amalan sunnah. Setelah diangkat menjadi pemimpin, Al-Fatih langsung melanjutkan tradisi para pendahulunya untuk terjun dalam penaklukan Konstantinopel.

Dalam upaya penaklukan, Al-Fatih memperbanyak jumlah pasukannya hingga mencapai 250.000 personil. Angka ini merupakan jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah tentara negara lain pada saat itu.

Ia memperkuat pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan bersenjata, sehingga mereka memiliki kemampuan berperang tingkat tinggi. Hal-hal seperti itu sudah lama dipersiapkan oleh Al-Fatih untuk menghadapi penaklukan yang sudah lama pula dinanti. Tidak ketinggalan, beliau juga menanamkan nilai-nilai tauhid dan keislaman sehingga pasukannya tidak hanya siap secara fisik, namun secara ruhani dan kejiwaan juga turut diperkuat.

Setelah 53 hari berjibaku angkat senjata, yaitu dari 26 Rabi’ul Awal hingga 19 Jumadil Ula 857 H (6 April – 28 Mei 1453 M), dan dengan mengerahkan berbagai strategi termasuk memindahkan kapal-kapal melalui bukit, membuat terowongan-terowongan, dan membuat benteng bergerak dari kayu, akhirnya pada 20 Jumadil Ula 857 M (29 Mei 1453 M) Konstantinopel berhasil dibebaskan pasukan Islam. (lihat: Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-DaulahAl-‘Utsmaniyyah: ‘Awamilu An-Nuhudhwa Asbab As-Suquth, hlm. 87-107)

Nubu’at Nabi tentang penaklukkan Konstantinopel telah terbukti dan berhasil diwujudkan oleh Muhammad Al-Fatih. Ia menjadi sosok pemimpin terbaik dan pasukannya pun menjadi pasukan terbaik yang berhasil merealisasikan janji Nabi.

Bisyarah Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mampu mewarnai semangat kaum muslimin dalam mewujudkan Khilafah ‘alaminhajnubuwwah, sebagaimana sabdanya:

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aalaminhajnubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkanaadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkanjabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘alaminhajnubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw. diam.” (HR Ahmad, Shahih).

Allahu Akbar! Kapankah masa keemasan Islam itu kembali? Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam tidak menyebutkan kapan dan siapa aktornya. Kita sebagai Muslim haruslah tetap menjaga spirit Islam dan Iman dalam kehidupan, menghadirkan diri dalam perjuangan untuk menegakkan Islam di muka bumi Allah ini. Wallahua’lam.



Editor: Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.