Penyesatan Opini Hijab Tak Lagi Wajib

Hot News

Hotline

Penyesatan Opini Hijab Tak Lagi Wajib


(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh: Azrina Fauziah*


Publik baru saja dihebohkan oleh salah satu tokoh yang cukup dipandang oleh masyarakat pesantren tradisional di Indonesia. Dilansir dari tempo.co, Sinta Nuriyah istri mantan presiden ke-4 Abdurahman Wahid mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib memakai jilbab. Ia juga menuturkan bahwa ada kesalahan pemahaman pada masyarakat terkait kata jilbab dan hijab. Menurutnya, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab,“hijab itu pembatas dari bahan-bahan keras seperti kayu, sedangkan jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup, ujarnya saat sharing di chanel youtube Dedy Corbuzier.

Sontak saja media pun banyak yang meramaikan video tersebut dengan komentar pro dan kontra. Tak dipungkiri banyak penolakan yang terjadi oleh beberapa kalangan agamis terhadap pernyataan istri mantan presiden ke-4 ini. Pasalnya, penyataannya sangat bertolak dengan pemahaman mayoritas muslim di dunia. Bahwa hijab atau penutup bagi perempuan merupakan kewajiban bagi seluruh muslimah. Pernyataan yang lebih nyeleneh lagi ketika ia berupaya meyakinkan penonton bahwa kerudung adalah budaya arab dan ditambah argumen sang anak Inayah Wahid, hijab masih menjadi perbedaan pandangan ulama.

Berdasarkan firman Allah Swt, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri mu, anak-anak perempuan mu dan istri-istri orang mukmin, ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka!’ yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Ahzab: 59).

Dalam ayat tersebut Allah Swt telah mengatakan dengan jelas bahwa seorang muslimah diperintahkan untuk menutup keseluruhan tubuhnya agar ia dapat dikenal dan tidak diganggu. Bahkan seruan tersebut penyebutannya diawali kepada perempuan yang ada di keluarga Rasulullah saw. Lalu seruan kedua kepada muslimah secara umum (tafsir An Nafahat Al Makkiyah/ Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi).

Selain ayat al Qur’an, Rasul Saw juga bersabda mengenai aurat perempuan. Ketika itu Asma binti Abu Bakr datang ke rumah Nabi Saw dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasulullah Saw pun memalingkan wajahnya dan berkata, “Wahai Asma, sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh menampakkan dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau menunjuk ke wajah dan telapak tangan)”. (HR. Abu Dawud dan Baihaqi).

Dari kedua dalil ini, telah memberikan pemahaman kuat pada kita bahwa menutup aurat dengan kerudung dan jilbab merupakan kewajiban bagi kaum muslimah. Bahkan jika mau membuka kitab para ulama 4 mahzab (imam hanafi, maliki, syafi’i dan hambali) mereka pun telah menjelasakan bahwa menutup aurat dengan kerudung dan jilbab merupakan kewajiban yang tidak ada perdebatan di sana.

Pernyataan Sinta terkait hijab dan jilbab berbeda memang tak sepenuhnya salah, sebab bila menilik langsung pada al Qur’an terjemah dan diartikan dalam kamus munawir, jilbab merupakan sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah dan dada sedangkan hijab bermakna dinding yang membatasi sesudah dengan yang lain. Hijab  dapat berupa alat pemisah berupa tembok, kain dan lain-lain.

Memang tidak bisa dipungkiri, pemahaman liberal yang disampaikan oleh publik figur ini bebas diopinikan, meskipun mereka paham bahwa hal tersebut salah. Opini yang keliru ini tentu akan memberikan penyesatan pemahaman kepada khayalak umum khususnya pada masyarakat awam.



Mengapa hal ini bisa terjadi? Sekali lagi kebebasan berpendapat dan berekspresi menjadi hak individu dan dijamin oleh negara sekuler. Bahkan kita akan terheran-heran bagaimana bisa ide liberal terpapar sampai pada tokoh islam seperti istri alm Abdurahman Wahid? Sekali lagi hal ini bukalah hal yang mengejutkan. Barat khususnya Amerika Serikat sebagai negara adidaya, telah berupaya keras dalam menempuh banyak cara untuk menjegal kebangkitan islam. Salah satunya ialah menjadikan generasi islam sendiri mengemban ide-ide mereka. Upaya ini pun ditempuh mereka dengan memberikan bantuan dana sosial kepada ormas-ormas islam, memberikan peluang kerjasama antar keduanyasalah satunya ialah memberikan beasiswa kuliah untuk pelajar-pelajar muslim. Selain itu mereka mencokolkan paham-paham mereka di beberapa kampus termasuk kampus islam, seperti fakultas filsafat.  

Wajar bila selesai mengenyam pendidikan filsafat barat, mereka akan mengopinikan ide-ide kebebasan yang bertolak belakang dengan islam. Salah satunya menafsirkan AQur’an sesuai keinginan mereka dengan beralibi bahwa mereka menggunakan tafsir yang konstektual bukan tekstual, namun di sisi lain kadang tidak konsisten. Inilah cerminan negara sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupansehingga melahirkan dan melestarikan paham sesat dan menjadikan kaum muslim jauh dengan pemahaman islam yang benar. Berbeda dengan negara Khilafah yang akan memastikan pemahaman islam akan tetap diemban oleh rakyatnya dengan pendidikan aqidah yang lurus, penerapan kurikulum islam di sekolah dan memfilter paham-paham barat untuk masuk ke negeri Khilafah. Waallahu’alam



*/Penulis adalah Seorang Aktivis Dakwah dan Member Komunitas Pena Langit

Editor: Muh Fahrurozi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.