Sertifikat Pra-Nikah Ditengah Maraknya Seks Bebas

Hot News

Hotline

Sertifikat Pra-Nikah Ditengah Maraknya Seks Bebas


(Foto/https://facebook.com)


Oleh: Kartini


Pernikahan merupakan gerbang awal  menuju  biduk rumah tangga. Tidak hanya  kesiapan fisik, kesiapan mentalpun jauh lebih penting bagi setiap calon  pasangan untuk bisa mengarungi kehidupan rumah tangga.

Ujian dan cobaan senantiasa datang menerpa. Namun, tidak menjadikan  urung niat ketika melangkah ke pelaminan. Karena pernikahan merupakan ibadah yang besar di sisi Allah Swt. dan setiap pasanganpun mengharapkan kelak pernikahannya akan berbuah pahala.

Anjuran menikah ada dalam Hadist Rasullullah Saw: "Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT.untuk  separuh yang  tersisa." (HR. Ath- Thabrani dalam Mu'jamul Ausath Nomor 7643,8789).

Di era modernisasi saat ini, tidak ada  jaminan dalam menjaga keutuhan berumah tangga. Angka perceraian masih menduduki posisi teratas. Sebab-sebab yang memicu perceraianpun beragam. Dan yang paling dominan dipicu oleh lemahnya ekonomi. Sungguh miris.




Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menggagas agar setiap calon pasangan memiliki sertifikat siap nikah sebelum menikah. Beliau mengatakan pasangan yang belum lulus mengikuti bimbingan pranikah atau  sertifikasi siap kawin maka tidak dibolehkan menikah. Program ini diharapkan mulai berlaku pada tahun 2020.
"Ya sebelum lulus mengikuti pembekalan, maka enggak boleh nikah,"  kata   Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis ( 14/11) lalu.

Sertifikat siap kawin bukanlah termasuk rukun maupun syarat sah nikah di dalam Islam. Dengan menjadikan sertifikat nikah ini sebagai syarat pernikahan, tentunya akan menyalahi syariat Islam.

Tingginya angka perceraian dan maraknya seks bebas bukan hanya karena kurangnya ilmu persiapan menikah dan berumah tangga, tetapi lebih disebabkan karena sistem kehidupan hari ini yang berkiblat kepada Barat. Gaya hidup Barat yang sering menggonta-ganti pasangan seolah sudah jadi teladan dalam masyarakat, sehingga begitu mudahnya melakukan perceraian dan seks bebas. Bahkan masyarakat dibiasakan dengan gaya hidup seks bebas dan kawin cerai ini. Seolah seks bebas dang gonti-ganti pasangan sesuka hati adalah hak asasi yang dimiliki oleh manusia manapun di bumi ini.

Akar permasalahan problematika kehidupan berumah tangga,  bermasyarakat, dan bernegara ini disebabkan sistem kapitalis sekuler yang diusung oleh Barat.

Di tengah para suami kesulitan mencari kerja, justru sistem ini lebih berpihak kepada perempuan dalam hal pekerjaan. Sehingga ekonomi dalam keluarga menjadi lemah. Para suami kesulitan mencari nafkah. Pun, para gadis terjun ke dunia pekerjaan yang di dalam Islam hanya layak dijejaki oleh para lelaki. Jadi, adanya sertifikat nikah yang dimaksudkan sebagai solusi pun terkesan kabur. Tidak menjadi solusi tuntas.

Islam jelas mewajibkan setiap laki-laki dan  perempuan untuk  menikah. Karena naluri seksual butuh pemuasan, jika tidak maka akan memunculkan  kegelisahan. Jika kegelisahan tidak dipenuhi secara benar  maka akan muncul  kerusakan. Dan pemenuhan naluri itu hanya bisa melalui pernikahan. Sehingga  peran  negara sangat  dibutuhkan  dalam  memenuhi  kebutuhan naluri  dan  jasmani secara optimal  manakala masalah yang terjadi itu bersifat sistemik.

Aturan dalam Islam sangat jelas. Rambu-rambu yang menyelamatkan umat manusia telah dicontohkan Rasulullah dan para generasi muslim terbaik. Sungguh, sertifikat pra-nikah ditengah maraknya seks bebas dan tingginya angka perceraian sungguh tidak menjamin kelanggengan pernikahan dan rumah tangga yang tidak didasari dengan ilmu-ilmu keimanan dan syariat Islam. Wallahu a’lam.

Editor: Rosendah Dwi Maulaya

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.