Sosok Religius pun Kerdil di Hadapan Hukum Dunia Kapitalis-Liberal

Hot News

Hotline

Sosok Religius pun Kerdil di Hadapan Hukum Dunia Kapitalis-Liberal


(Foto/https://wawasan.pengajaran.blogspot.com)


Oleh : Nusaibah Al Khanza*


Gubernur Anies Baswedan kembali naik daun karena sedang hangat diperbincangkan. Hal ini bermula dari pemberian penghargaan pada diskotik Colloseum. Penghargaan tersebut wujud apresiasi terhadap kontribusi pada pengembangan pariwisata sebagai bagian dari program prioritas pembangunan. Namun, belum lenyap kontroversi akan hal itu, kini nama Anies kembali menjadi buah bibir akibat pencabutan terhadap award yang telah ia berikan. Seperti dilansir dari CNBC Indonesia bahwa sang Gubernur memutuskan untuk mencabut penghargaan Adhikarya Wisata kepada diskotik Collosseum. Keputusan itu disampaikan Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah dalam konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (16/12/19) sore.

Meskipun pada akhirnya pemberian award ini dicabut sebab ternyata diskotik yang dipilih tersebut dianggap tidak lolos salah satu kriteria yakni bebas dari bisnis narkoba. Nah, pemberian penghargaan yang pernah dilakukan ini telah cukup membuktikan bahwa Anies yang dikenal sebagai sosok yang religius pun tunduk dan tak berkutik di bawah aturan kapitalis liberal.

Sungguh tampak jelas bahwa religiusitas sangat kerdil di hadapan kapitalisme yang menganggap usaha hiburan malam (diskotik) termasuk bagian pariwisata yang diatur oleh undang-undang. Sehingga keberadaannya legal selama tidak melanggar aturan/regulasi. Yakni soal miras dan prostitusi adalah legal namun tidak dengan bisnis narkoba. Padahal, ketiganya jelas merupakan maksiat di dalam agama Islam.






Dalam kacamata seorang muslim juga sangat jelas bahwa dari sudut manapun tidak ada hal positif dari sebuah diskotik yang aktifitasnya tidak lepas dari miras, ikhtilath dan bahkan dekat pada prostitusi, narkoba dan maksiat lainnya.

Siapapun pemimpinnya selama regulasi yang ditegakkan berasas sekuler kapitalis maka ‘religiusitasnya’ tidak bisa menghalangi pemberian award dan pelegalan tempat maksiat tersebut. Padahal sebagai pemimpin muslim harusnya paham bahwa wajib mengambil hukum hanya dari Al-Quran dan Hadist.

Allah SWT berfirman:
"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36)

Dari ayat di atas jelas bahwa tidak layak mengambil hukum selain Islam. Dan dalam masalah tempat hiburan malam, Islam dengan tegas mengharamkannya meskipun dari tempat tersebut dapat menyerap tenaga kerja, memberikan pemasukan dari pajak miras dan menghasilkan devisa dari pariwisata negara.

Pemimpin yang berlandaskan pada keimanan akan mengambil keputusan bukan atas asas manfaat, melainkan atas asas akidah yang diyakininya yakni Islam. Oleh karena itu, sangat penting melaksanakan aturan Islam dalam segala lini kehidupan agar religiusitas tidak tunduk di bawah aturan manusia yang penuh hawa nafsu semata.



*/Penulis adalah Pemerhati Kebijakan Publik

Editor : Tiara Cassandra

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.