Tahap Mengenalkan Allah Kepada Buah Hati

Hot News

Hotline

Tahap Mengenalkan Allah Kepada Buah Hati

(Foto/https//shenisa.com)

Oleh: Ummu Rien-Tine*


Pengalaman sebagai pengelola Paud selama 12 tahun dan menjadi ibu dari 5 anak selama 13 tahun menyimpan banyak cerita unik seputar pendidikan anak usia dini. Salah satu pertanyaan yang sering terlontar dari anak adalah saat anak bertanya tentang Allah. Tentu saja pertanyaan ini gampang-gampang sulit, butuh jawaban cerdas dari ibu sehingga mampu mencerahkan akal anak dan menentramkan jiwanya.

Mendidik buah hati ibarat kita menaiki tangga. Langkah harus dimulai dari tangga satu, dua, tiga dan seterusnya. Jangan karena ingin segera sampai pada tujuan maka kemudian melompat karena resikonya akan jatuh dan tidak sampai pada tujuan. Begitu pula mengenalkan buah hati tentang Allah, ada step by step yang harus dilakukan dengan sabar dan telaten oleh ibu.

Tangga pertama melekatkan nama. Mengenalkan nama Allah pada si kecil insya Allah bukan perkara yang sulit. Kita hanya perlu mengulang-ulang Nama Agung tersebut dalam setiap episode kehidupan yang kita lalui bersama buah hati. Sebutlah selalu nama-Nya saat melihat sesuatu yang indah, mendapat hadiah yang menyenangkan dan juga saat mendapat musibah. Allah, jadikan nama itu menjadi nama yang terus melekat pada benak si kecil. Menimbulkan sensasi yang mengharukan saat setiap mengucap nama-Nya. Jadikan cinta kepada-Nya terus menggebu dalam sanubari kecilnya.

Tangga kedua adalah menjelaskan kepada si kecil, siapakah Allah itu? Allah adalah pencipta manusia, alam dan dunia seisinya. Mungkin si kecil akan mengernyitkan dahi mendengar kosakata baru “Pencipta”.  Jelaskan dengan kata-kata yang mudah bahwa pencipta adalah yang membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Misal BJ Habibi adalah pencipta pesawat terbang pertama di Indonesia. Artinya BJ Habibi adalah pembuat pesawat terbang pertama yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia. Allah adalah yang mencipta manusia, alam dan dunia seisinya dan tidak ada pencipta lain selain diri-Nya.

Tancapkan dalam jiwa sucinya rasa kekaguman yang luar biasa pada “kehebatan” Allah sebagai pencipta. Allah telah mengisahkan berbagai perumpamaan indah di dalam al-Qur’an agar manusia mau banyak berfikir tentang penciptaan berbagai hal. Di dalam QS.Al-Ghosiyah: 17-20, Allah berfirman yang artinya, “maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan Gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan Bumi bagaimana ia dihamparkan?”. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala ciptaan-Nya.




Ajaklah si kecil melihat sekelilingnya. Matahari dan bulan tidak pernah berebut kapan mereka harus muncul. Berjuta bintang di langit tidak pernah bertabrakan. Pasti ada yang menciptakan dan sekaligus mengaturnya. Jalan raya saja butuh rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur agar kendaraan tidak saling bertabrakan apalagi alam raya dan segala isinya.

Pertanyaan yang paling sering muncul seputar pencipta dari anak-anak adalah dimana Allah? Inilah tangga ketiga yang harus kita tapaki untuk dijelaskan kepada buah hati. Kisahkan kepada si kecil Allah berada di tempat yang sangat mulia, Arsy yang setiap saat dikelilingi oleh para malaikat yang senantiasa bertasbih memuji-Nya. Kita sekarang tidak bisa melihat Arsy Allah dan kelak insya Allah di kampung akhirat kita diizinkan untuk melihat dan merasakan keagungan-Nya. Tebarkan dalam jiwa sucinya kerinduan yang dalam suatu saat akan berjumpa dengan-Nya, merasakan keagungan-Nya dari dekat bersama orang-orang sholih terpilih dari manusia.

Tangga keempat adalah menjelaskan “seperti apa bentuk dan rupa Allah itu?” Saat kita kecil, yang saya bayangkan tentang Allah adalah seperti para dewa atau raja yang ada di film televisi. Memang menjelaskan bentuk yang abstrak kepada anak bukan perkara yang mudah. Usia anak-anak membutuhkan benda yang konkret, jelas dan terlihat oleh panca inderanya.

Kita bisa memulai menjelaskan hal ini dengan bercerita pada buah hati bahwa ada benda yang kita rasakan ada sekalipun kita tidak melihatnya. Misalnya keberadaan angin. Saat kita berada di pantai, kita bisa merasakan dengan jelas kalau ada angin yang menerpa tubuh kita sekalipun kita tidak tau bentuk angin seperti apa. Begitu juga dengan Allah. Sekalipun kita tidak pernah melihatnya, tidak pernah mendengar suaranya dan tidak bisa menyentuhnya tetapi kita bisa merasakan keberadaannya dengan melihat ciptaan-ciptaan-Nya di dunia ini.

Seperti halnya angin, kita tidak bisa melihat bentuk dan rupa Allah seperti apa. Allah Maha Suci sehingga pasti berbeda dengan mahkluk-Nya. Allah menjelaskn di dalam QS.Al-Ikhlas: 4, yang artinya “dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” Di dalam ayat yang lain Allah juga berfirman yang artinya “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS.Asy-Syura: 11).

Inilah indahnya proses menanamkan keimanan  kepada buah hati. Iman yang tumbuh dalam jiwanya melalui proses berpikir. Iman karena kecintaan dan kerinduan yang menggebu-gebu pada Rabb sang pemilik alam semesta raya. Iman kepada Alloh adalah pondasi yang akan menuntunnya untuk selalu taat pada syariat-Nya.

Saya yakin masih banyak pertanyaan-pertanyaan unik lain seputar Allah yang muncul dari buah hati. Banyak dari kita yang memilih untuk menghindar karena tidak mau ambil pusing menjawab berbagai pertanyaan mendasar tersebut. Padahal inilah pokok-pokok keimanan yang harus kita tanamkan dalam akal dan jiwanya. Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi ibu-ibu hebat dan cerdas, pencetak generasi pembangun peradaban islam di masa yang akan datang. Semoga bermanfaat. Aamiin.



*Penulis adalah Kepsek HSG Paud Khairu Ummah Bantul

Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.