Upaya Diri Ditengah Maraknya Penjahat Kelamin

Hot News

Hotline

Upaya Diri Ditengah Maraknya Penjahat Kelamin


(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)

Oleh: Endang Setyowati


Bak gunung es, masalah yang mendera umat saat ini kian hari kian merajalela. Pertengahan tahun lalu saja, bagaimana ditemukannya sebanyak 175 pelajar pria di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang diduga pernah melakukan hubungan sesama jenis yang disebut sebagai lelaki seks dengan lelaki (LSL). Dari jumlah tersebut, 21 pelajar di antaranya positif tertular penyakit HIV. Sekitar 60 persen dari remaja pelaku hubungan LSL tersebut, menurut Dinas Kesehatan, berusia antara 11 dan 20 tahun dan berstatus sebagai pelajar. (InewsJatim.id 31/7/2019).

Kemudian ditambah kasus Reynhard yang baru-baru ini mengemparkan jagat. Bagaimana tidak Reynhard Sinaga, pria asal Jambi ini terjerat kasus kejahatan homoseksual terhadap 190 pria di Inggris. Dan kini, di Tulungagung, salah satu kota di Jawa Timur "geger" lagi dengan ditangkapnya  Muhammad Hasan alias Mami Hasan oleh polisi karena melakukan pencabulan terhadap 11 anak laki-laki di bawah umur. Hasan diketahui merupakan ketua Ikatan Gay Tulungagung (IGATA).

Pengungkapan perkara ini karena laporan dari masyarakat," terang Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko saat jumpa pers bersama Dirreskrimum Kombes Pol Pitra Ratulangi di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Senin (20/1/2020). Menurut Trunoyudo, kasus itu terungkap setelah pada 3 Januari 2020, Polda Jatim mendapatkan laporan dari masyarakat. Laporan tersebut dituangkan dalam Laporan Polisi Nomor: LPB/03/I/2020/UM/JATIM.
           
Setelah dilakukan penyelidikan, Subdit Renakta menangkap Mami Hasan atas dugaan perkara tindak pidana rangkaian kebohongan atau membujuk anak atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan Perpu No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 202 tentang perlindungan anak. 




Polisi membekuk mami Hasan di Krajan Gondang, Kecamatan Gondang, Tulungagung. Hasan membujuk korban dengan iming-iming uang sebesar Rp.150 ribu hingga Rp.250 ribu. Kemudian Hasan mengajak korban ke rumahnya dan berlanjut dengan tindakan asusila. Aksi tersebut berulang sejak tahun 2018 hingga 2019. “Anak-anak yang minum kopi di sana, dia membujuk dengan iming-iming Rp 150 hingga Rp 250 ribu. Anak yang terjebak dibawa di rumah yang bersangkutan. Di sana dia melakukan pencabulan terhadap korban,” beber Pitra.

Sementara itu, di hadapan polisi, Hasan mengaku kebanyakan korban pencabulan datang kepadanya saat membutuhkan uang. Ia menyambut baik dan mengajak korban ke kamarnya (Kumparan, 20/1/2020). Kemungkinan besar masalah serupa juga banyak terjadi di tempat lain.

Betapa menyedihkan, bagaimana masalah mendera umat saat ini, datang silih berganti. Hal ini bisa terjadi karena para predator ini hidup dengan tenang di tengah-tengah masyarakat. Mereka mungkin tidak mencolok dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga masyarakat luas pun kurang menyadari kehadirannya. Padahal pemerkosa, LKL(gay), lesbi, biseksual dan transgender merajalela di era kapitalis sekuler saat ini. Penyebabnya sudah pasti karena budaya barat yang telah merasuki budaya dan menggeser norma-norma agama di negeri ini, salah satunya dengan memisahkan agama dalam kehidupan.

Belum lagi pergaulan para mileneal saat ini seolah tidak memiliki batas. Misalnya, mereka tidak risih bercampur baur dalam menonton konser, sering kongkow-kongkow bersama antara laki-laki dan perempuan hingga larut malam tanpa ada sedikitpun manfaatnya. Terlebih orang tua, terkadang ada yang membatasi pergaulan anak lelakinya sebatas dengan anak lelaki saja, karena ditakutkan jika bergaul dengan lawan jenis akan berbahaya, tetapi ternyata, justru berteman dengan sesama jenis juga menimbulkan petaka seperti dipaparkan di awal tadi.

Para pelaku sex menyimpang ini, bagai mendapat angin segar di negeri ini. Karena selain mendapatkan perlindungan dari Hak Asasi Manusia (HAM) juga mendapatkan para pendukung, dan bahkan pendukungnya hingga dunia internasional. Termasuk PBB dengan bukti diperbolehkannya hubungan sejenis di berbagai negara, hingga merekapun bisa memiliki anak. Inilah yang terjadi jika mengambil hukum selain Islam. Sialnya, justru saat ini bangsa kita mengambil dan memakai sistem sekuler berikut paham liberalisme yang kemudian melahirkan bergaimacam masalah-masalah sosial. Salah satunya penyimpangan kelamin, padahal liwath atau sering disebut gay sangat dilaknat. Padahal Rasulullah saw pernah bersabda: "Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum nabi luth.(HR. Ahmad).

Terlalu bebasnya pergaulan dan longgarnya sanksi bagi pelaku predator semakin membuka lebar pintu kejahatan terjadi. Ditambah lemahnya Undang-undang yang dibuat negara, menyebabkan tidak adanya efek jera sedikitpun kepada para pelaku. Sehingga pelaku bermunculan lagi dan lagi.

Maka sudah seharusnya kita bersama-sama memberantas penyimpangan ini, mulai dari akar-akarnya dengan mencampakkan ideologi sekulerisme kapitalisme inimenerap, dan menggantikannya dengan aturan Islam dalam semua lini kehidupan.

Saat ini, kita perlu melakukan beberapa hal agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Pertama: Meningkatkan ketaqwaan individu kepada Allah SWT, sehingga keimanan mereka bisa menjadi  pondasi serta imunitas dari serangan virus ini. Kedua: Kontrol masyarakat, sangat diperlukan. Sudah seharusnya masyarakat saling mengingatkan serta  saling menjaga, serta membangun kesadaran dalam masyarakat, bahwa virus ini bukan gen bawaan, tapi penyakit sosial yang harus dimusnahkan. Ketiga: Peran negara sangat diperlukan dalam menyelamatkan generasi. Maka negara harus membuat hukum yang mampu memberi efek jera pada para pelaku sehingga masyarakatnya terjaga dari virus ini, akhirnya tidak sempat untuk berkembang.

Langkah tersebut akan lebih mudah jika kita bersama-sama menerapkan hukum syariah secara kaffah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga umat Islam serta masyarakat luas akan tercegah dari perilaku yang menyimpang ini. Allah SWT berfirman: "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (TQS. Al-Ma'idah: 50)Wallahu a’lam bi showab.



Editor: Muh Fahrurozi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.