Agama Islam Bukan Sumber Bencana

Hot News

Hotline

Agama Islam Bukan Sumber Bencana

(Ilustrasi/ www.dapurpena.com )

Oleh: Dhiyaul Haq*


Lagi dan lagi. Kontroversial atau cari sensasional? Kembali pemerintah menyakiti hati umat Islam. Belum lama ini Yudian Wahyudi Kepala bidang baru dibentuk, Badan Pembentukan Ideologi Pancasila, menyatakan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila. Meskipun ia sempat mengklarifikasi pernyataannya, namun tetap saja hati umat Islam di Indonesia terluka.

Katanya, yang dimaksud bukanlah agama secara keseluruhan, tetapi mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila. Karena dari segi sumber dan tujuannya pancasila itu religius atau agamis. Yudian melanjutkan, pancasila adalah penopang. Untuk mewujudkannya dibutuhkan kesetiaan atau bahasa lainnya sekuler, tapi bukan sekulerisme. Tentu membutuhkan ruang waktu, pelaku, anggaran, juga perencanaan. Pernyataan Profesor Yudian ini bukanlah hal baru. Pemerintah pernah mengeluarkan statement kontroversial lainnya.





Dalam demokrasi sekuler adalah hal yang lumrah menjadikan agama sebagai musuh terbesar. Secara mendasar demokrasi bertentangan dengan Islam. Menurut asal katanya demokrasi berarti ‘rakyat berkuasa’ atau government rule the people (kata Yunani demos berarti rakyat, kratos atau karatein berarti kekuasaan atau berkuasa). Demokrasi menjadikan kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, peraturan berasal dari pendapat manusia terbanyak sehingga disebut suara mayoritas adalah suara Tuhan. Saat ini demokrasi dengan lantang menyuarakan pemisahan agama dari kehidupan (disebut sekuler). Agama hanya diakui dalam aspek ibadah ritual semata, sedangkan aspek lainnya dalam aturan Islam disingkirkan bahkan dihinakan dengan tuduhan-tuduhan nista.

Di Islam, kedaulatan tertinggi berada di tangan syara’ yang bermakna setiap apapun persoalan dalam kehidupan akan dikembalikan pada hukum tertinggi yaitu Islam. Sudah sepatutnya Muslim menjadikan Islam sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan. Sungguh tidak layak jika manusia membuat aturan dalam kehidupannya sendiri. Karena manusia adalah makhluk yang terbatas, lemah, dan rasa saling ketergantungan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya manusia membutuhkan aturan dari Dzat Yang Maha Segalanya dalam setiap aspek kehidupan.

Allah swt berfirman

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa saja yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim (QS al-Maidah [5]: 45).

Allah swt pun berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa saja yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang kafir (TQS al-Maidah [5]: 44).

Tafsir ayat tersebut tidak terlepas dari pernyataan Ibnu Abbas ra ketika membantah orang Khawarij yang mengkafirkan khalifah waktu itu. “Itu bukanlah kekafiran yang mereka pahami. Itu bukan pula kekafiran yang mengeluarkan dari agama. ‘Siapa saja yang tidak memutuskan menurut apa yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang kafir (QS al-Maidah [5]: 44)’ adalah kufr[un] duna kufr[in] (kekufuran di bawah kekufuran).”

Allah sudah mencukupkan Islam sebagai solusi dalam segala hal. Islam bukanlah sumber bencana bagi bangsa dan negara. Sebaliknya, demokrasi sekuler lah yang menjadi sumber bencana di negari ini karena mengingkari aturan Allah dalam aspek bernegara. Alangkah indahnya jika penerapan syariah Islam secara kaffah dapat diterapkan bersama bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam bi ash-showab.



*/Penulis adalah Pengajar di Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Malang

Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.