Alergi Tepuk Anak Sholeh

Hot News

Hotline

Alergi Tepuk Anak Sholeh

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh: Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST*


Aku [prok 3x] 
Anak Saleh [prok 3x]
Rajin Shalat [prok 3x]
Rajin ngaji [prok 3x]
Cinta Islam [prok 3x] Sampai Mati
Lailaaha illallah, Muhammadur Rasulullah
Islam, Islam, Yes
Kafir, Kafir, No

Demikianlah lirik tepuk anak shaleh yang belakangan ini ramai dibicarakan. Dilansir dari merdeka.com, tepuk ini mulai dipermasalahkan setelah salah seorang wali murid SD Negeri Timuran Kota Yogyakarta, ia tak sengaja mendengar lantunan lirik tepuk anak shaleh tersebut pada acara pembinaan pramuka yang diselenggarakan di sekolah anaknya pada Jum'at, 10 Januari 2020 lalu. Ibu berinisial K tersebut lantas melaporkan temuannya tersebut kepada pihak sekolah.

Setelah bergulirnya pemberitaan di media terkait kejadian tersebut, beberapa tokoh pun menyampaikan komentarnya. “Merendahkan keberagaman dan keberagamaan. Itu tanggapan saya. Tidak baik bagi keutuhan bangsa ini," kata Mahfud MD.






Sultan Hamengkubuwono X menilai materi seperti itu sebaiknya tidak diajarkan di pramuka. Ia menegaskan tak ada orang kafir di Indonesia. "Tidak tempatnya di situ dan tidak perlu mengatakan seperti itu. Ya kan? Di Indonesia tidak ada kafir," katanya.

Kejadian ini juga tak luput dari sorotan KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih sering disapa Gus Mus. Dilansir dari tirto.id, Gus Mus memberikan komentar saat menjadi pembicara dalam acara dialog kebangsaan dengan tema “Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman” di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Selasa (14/1/2020).

"Kemarin saya baca itu, sakit sekali saya merasa. Kok ada pramuka, kok yel-nya Islam yes kafir no," kata Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah tersebut. "Wong mendem (orang mabuk) kok sampai begitu. Itu nyekoki-nya bagaimana? Itu merusak betul. Merusak. Menyakitkan sekali karena itu dilakukan oleh orang yang mengaku beragama," kata Gus Mus menambahkan.

Bahkan menurut Direktur Maarif Institute, Abdul Rohim Ghazali, dilansir dari bbc.com, ia berkomentar bahwa kejadian di SD Negeri Timuran itu mencerminkan fenomena umum ekstrakurikuler sebagai medium penyemai intoleransi di kalangan pelajar. Merujuk hasil survei yang dilakukan Maarif Institute selama tahun 2017 di enam provinsi, aktivitas di sekolah setelah jam belajar-mengajar kerap disusupi paham intoleransi, bahkan radikalisme.

Pertanyaan kemudian, mengapa tepuk anak shaleh dianggap wujud intoleransi dan menjadi bibit-bibit radikalisme? Apakah ketika seorang muslim melantunkannya menandakan bahwa ia intoleran? Ataukah dengan melantunkannya lantas menjadikan sesorang melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada radikalisme semisal melakukan pengeboman? Adakah fakta yang demikian?

Pada realitanya, menyanyikan lagu bernuansa Islam tak berkorelasi dengan aktivitas yang menjurus pada radikalisme. Pun dengan tuduhan intoleran yang sama sekali tak terbukti. Ketakutan- ketakutan semacam ini memang sengaja dimunculkan oleh Barat sebagai salah satu upaya menjegal kebangkitan Islam.

Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (NIC) memprediksi akan adanya kebangkitan Islam yang mulai tegak mulai di tahun 2020, hal ini agaknya menjadi momok bagi Barat, mengingat mereka adalah pengemban ideologi kapitalisme yang tak pernah lelah berusaha merintangi kebangkitan Islam. Sebab apabila Islam telah bangkit maka roda kehidupan dunia pasti akan berputar menumbangkan kapitalisme.

Sebuah ideologi sejatinya akan berusaha menjadi pemimpin peradaban dunia. Maka, kapitalisme tentu tak rela posisinya digantikan oleh yang lainnya, terlebih oleh sistem Islam. Beragam strategi pun mereka tempuh demi menjaga eksistensi mereka, mulai dari hard power (serangan fisik) hingga soft power (serangan pemikiran).

Mereka berusaha menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai dan ajaran Islam secara perlahan hingga nantinya akan mampu membuat umat Islam benar-benar meninggalkan ajaran agamanya dan mengambil nilai-nilai Barat dalam menjalani kehidupan. Segala hal yang berbau Islam akan dipertentangkan. Bahkan di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD), yel-yel bernuansa Islam pun menjadi incaran. Yel-yel yang mengandung kata “kafir” itu dilabeli yel-yel intoleran dan anti kebhinekaan, begitulah salah satu cara mereka bekerja.

Padahal, adanya stigma tersebut justru menandakan praktik intoleransi yang sebenarnya. Lirik dalam yel-yel tersebut jelas diperuntukkan untuk individu umat Islam, bukan untuk umat beragama lain. Seperti yang diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendi tahun 2017 lalu yang dikutip dari Islamindonesia.id, “Kalo untuk dirinya sendiri bener kan, memang bener untuk dirinya sendiri, kan dia bilang dirinya sendiri tidak boleh kafir.”

Namun yang paling menyedihkannya, yel-yel tersebut justru menuai protes keras dari kalangan umat Islam sendiri. Inilah tujuan dari program deIslamisasi. Menjadikan umat Islam justru alergi pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Bukan hanya yel-yel yang dipermasalahkan, namun juga melebar ke pengaturan tempat duduk siswa laki-laki dan perempuan sampai kewajiban berjilbab pun diprotes.

Entah apa yang merasuki mereka yang berpendapat demikian. Terlebih apabila keluar dari lisan seorang muslim. Bukankah pemahaman agama sudah seharusnya ditanamkan sejak dini agar kelak ketika dewasa ia akan mudah melaksanakan segala syari'at-Nya?

Maka tak heran jika saat ini rasa-rasanya Islamophobia bukan hanya diidap oleh umat non muslim, bahkan umat Islam pun tak kebal dari virus Islamophobia ini. Virus yang sengaja diciptakan Barat sedari tahun 2001 itu memang tak akan berhenti selama masih ada umat Islam di dunia ini. Sebab tujuan utamanya memang membuat kebencian terhadap Islam, baik dalam diri umat Islam maupun umat non muslim.

Adanya Islamophobia dalam tubuh umat Islam tak lepas dari strategi Barat. Melalui lembaga RAND Corporation (sebuah lembaga think tank Amerika Serikat), Barat dengan sengaja membagi umat Islam menjadi (1) kaum fundamentalis; (2) kaum tradisionalis; (3) kaum modernis; (4) kaum sekularis. Term Islam Radikal adalah term yang digunakan untuk membahasakan lebih tajam dari term Islam Fundamentalis (www.al-waie.id).

Islam Fundamentalis yang dicirikan menolak nilai-nilai Barat serta menginginkan penerapan syariat Islam sebab mereka menganggap Islam sebagai jalan hidup, dijadikan target utama untuk diperselisihkan dengan Islam jenis lain terutama Islam modernis yang mengusung modernitas (perubahan ajaran Islam sesuai dengan tuntutan zaman) dan Islam sekularis yang menginginkan agar umat Islam menjadikan agama hanya sebagai urusan pribadi dan harus dipisahkan dari ranah publik.

Islam kalangan modernis dan sekularis inilah yang dinilai sebagai Islam yang terbuka dengan pemikiran-pemikiran Barat sehingga bisa dijadikan sebagai senjata untuk menyerang Islam fundamentalis. Tentu saja hal ini mengakibatkan banyak gesekan di kalangan internal umat Islam sendiri.

Di satu sisi ada umat Islam yang menginginkan penerapan Islam dalam kehidupan secara menyeluru. Sedangkan di sisi lain justru ada umat Islam yang menyeru untuk memisahkan antara agama dengan kehidupan selayaknya pemikiran Barat yakni sekulerisme, serta menginginkan agar Islam diselaraskan dengan zaman.

Itulah yang dikehendaki oleh bangsa Barat. Mereka paham betul bahwa ketika perpecahan menggerogoti tubuh umat Islam dan Islamophobia berhasil disuntikkan, maka Islam sebagai ideologi yang berpotensi menumbangkan ideologi kapitalisme tak dapat segera terwujud. Dengan begitu mereka akan dapat terus mengemban ideologinya di dunia ini. Wallahu a'lam bish-shawab.



*/Penulis Merupakan Aktivis Muslimah

Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.