Bismillah (Part 2)

Hot News

Hotline

Bismillah (Part 2)

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)

Oleh: Mariyam Sundari


Malam yang Indah, angin yang dingin menusuk qalbu. Seperti biasanya Cucun terbangun pada malam-malam hari lalu berwudhu, melaksanakan sholat malam Tahajud, berdo’a penuh harap kepada Allah Swt akan terkabulnya semua do’a.

Subhanallah, Alhamdulillah, Walaailla haillallahuAllahuakbar, laahawlaawallaa kuwata illaa billah. Maha suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya selain pertolongan Allah.” Dalam sujud Cucun berdo’a kepada Allah dan menyerahkan segala urusan masalah hanya kepada Allah Azzawajalla semata, karena Allah jualah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. 

Allah Swt. Berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 153:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Allah Swt. juga berfirman dalam Al-Qur'an: Surat At-Talaq Ayat 3:
 وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Air mata kerinduan kepada Allah terus mengalir deras, serta yakin setiap masalah pasti ada jalan keluar. Kuliah ataupun tidak kuliah itu adalah kehendak Allah Swt. Kalaupun tidak bisa kuliah di Universitas Cucun akan terus semangat belajar mencari ilmu dijalan lain, apa pun yang dilakukannya yang penting mendapat ridho Allah Swt, sesuatu itu yang melintas dalam benaknya.

“Kak! kakak Cucun bisa minta tolong kak?” Teriak adek Nur dari dapur. “Ada apa dek kok teriak-teriak, minta tolong apa?” Cucun keluar dari kamar melihat adeknya didapur. “Cucikan piring yaa kak aku mau tidur kak capek.” Kata adek Nur sambil memeluk kakaknya Cucun.

“Itukan tugas kamu dek, nanti kakak bilangin Emak loh” Kata Cucun bilang sambil tersenyum dan  memastikan supaya adekknya mau cuci piring. “Hmmm! Dasar manja.” Kata Kak Rohani yang masuk lewat pintu dapur sambil mencubit pipi adek Nur.

“Pokoknya dicucikan yaa Kak, pleezz deh! kakakku sayang.” Dek Nur berkata sambil mendekatkan kepalanya menempel dibahu Cucun. “Oke lah kalau begitu, tapi ada syaratnya buat adekku tersayang, adek harus rajin sholat, ngaji, dan belajar, Oke?” Kata Cucun sambil mencubit hidung adek Nur.

“Oke, deh Kakak, Siap!” Jawab adek Nur yang senang gembira, karena terbebas dari kerjaan kemudian lari-lari kecil menuju kamarnya. “Mau aja dikerjain sama adek Nur Cun.” Kata Kak Rohani yang tampak kesal melihat kelakuan adik bungsunya yang manja. Cucun hanya tersenyum sambil mengerjakan tugasnya didapur.

“Kenapa Cun kok kelihatan murung, tidak seperti biasanya.” Tanya kak Rohani keheranan. “Iyaa Kak, Aku mau kuliah tapi Emak gak mendukung, tapi aku pingin banget kak, gimana yaa kak apa bisa bantu.” Jawab Cucun polos.”

“Kuliah itu biayanya mahal Dek, mungkin Emak bingung memikirkan biayanya darimana?” Jawab kak Rohani meyakinkan. “Iyaa sih kak. Walaupun begitu kan aku niat kak, semahal apa sih bagi Allah Kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi.” Jawab Cucun penuh keyakinan.

“Berdoa ajalah dek, kakak juga hanya bisa bantu do’a, moga ada jalan keluarnya yaa.” Kak Rohani mendukung. “Amiin. Makasih yaa kak.” Jawab Cucun sambil memeluk kakaknya.

“Al-Hamdulillah”
Semilir angin sore hari, membuat Emak terbuai melamun. Suara motor Kak Sugeng, anak Emak dan Abah yang ketiga, profesinya Thabib muda berhenti didepan rumah.

“Assallamualaikum, Mak”. Kak Sugeng menyapa Emak sambil mencium tangannya. “Dari mana anakku? Emak bertanya. “Dari Rumahnya Nurida.” Jawab Kak Sugeng singkat. “Siapa Nurida?” Tanya Emak yang belum kenal Nurida.

“Nurida, calon anak menantu Emak, bapaknya Tentara, tinggalnya di Sentosa (nama suatu kampung, yang letakknya dibelakang Patrajaya Palembang, Sumatra Selatan).” Jawab Kak Sugeng, mengenalkan.




“Alhamdulillah, bawa kesini Nurida Nak, punya persiapan apa buat menikah.” Tanya Emak yang ingin anaknya segera menikah. “Persiapannya seadanya Mak, hehee...” Jawab Kak Sugeng sambil tersenyum malu.

“Yaa sudahlah nanti Mak jual ladang, buat pernikahan kamu.” Jawab Emak, meyakinkan Kak Sugeng. “Besok Abah dan Emak mau kerumah keluarganya Nurida, memutuskan tanggal pernikahan.” Kata Emak yang ingin segera punya menantu baru. Kak Sugeng tersenyum bahagia.

Emak, mempunyai dua ladang yang cukup luas, pembelian hasil dari perdagangannya yang giat menabung. Keenam anak Emak dan Abah, yang sudah menikah adalah Kak Rohani yang sudah mempunyai 3 Putra, kak Sendi, Putra dan kak Cipto. Yang belum Menikah adalah Kak Sugeng, Cundali Mubarok, dan Adek Nur. Kedua keluarga dipertemukan, tanggal pernikahan sudah ditetapkan, Kak Sugeng dan Nurida dinikahkan.

“Al-Hamdulillah”
Rumah Abah Syam dan Emak Rukiyah sangat ramai didatangi para tetangga untuk mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada Kak Sugeng dan Nurida. Salah satunya adalah Lisa. Tetangga dekat Emak, mempunyai dua anak perempuan, Putri dan Eka. Suaminya bernama Anto yang Ibunya (Mak Oda) adalah teman dekatnya Emak Rukiyah.

“Al-Hamdulillah..., Emak Rukiyah mendapat anak menantu baru, selamat yaa Sugeng dan Nurida, semoga menjadi keluarga yang langgeng, banyak anak dan Sakinah, Mawadah, Warohmah.” Kata Lisa tetangga Emak Rukiyah, yang turut gembira. “Amiin....” Jawab Emak kak Sugeng juga Nurida secara bersamaan.

“Mak aku mau tanya sebentar, rumah kecil kayu Emak sudah ada yang menempati belum?” Kata Lisa bertanya penuh harap. “Belum ada yang menempati, sudah diperbaiki tinggal dibersihkan, memangnya kenapa Nak Lisa tanya rumah itu?” Jawab Emak yang kemudian balik bertanya.

“Gimana kalau aku sewa saja Mak sementara, satu tahun karena suamiku tidak ingin tinggal bersama dengan Ibu saya, satu rumah pinginnya mandiri.” Kata Lisa menjelaskan. “Oh. Begitu? Iyaa boleh asal dirawat saja rumahnya yaa Nak Lisa, ini juga mungkin rezeki anak saya Cundali yang mau kuliah katanya.” Jawab Emak dengan tersenyum.“Beres Mak.” Kata Lisa sambil menyalami Mak Rukiyah lagi, dan pamit pulang.

Mendengar kata-kata Emak soal kuliah Cucun yang ada disamping Emak yang mendengar percakapan Emak dan Lisa spontan tersenyum sangat gembira, mencium kening Emak dan masuk kedalam kamar, langsung melakukan sujud syukur kepada Allah Swt, sambil meneteskan air Mata bahagia. “Subhanallah Al-Hamdulillah, Al-Hamdulillah, Al-Hamdulillah Allahuakbar.” Bibir ini selalu basah tidak henti-hentinya berucap Tahmid, “Al-Hamdulillah.”

Lisa bersama Suami dan anak-anaknya tinggal  di Rumah Emak disewa selama satu  tahun. Emak dan  Abah Syam memiliki tiga rumah. Satu rumah panggung yang terbuat dari kayu. Kedua rumah batu tapi masih harus renovasi, walaupun begitu sudah bisa ditinggali. Ketiga rumah mungil yang tidak terlalu besar juga tidak tinggi, yang dindingnya terbuat dari kayu papan didalamnya bisa di sekat untuk kamar dan ruang depan dapur dan kamar mandi.

“Bismillah”
Pagi hari yang begitu cerah yang tidak begitu mendung juga tidak begitu panas, angin yang berhembus terasa sejuk, bising suara kendaraan beroda dua (motor) tetap terdengar ditelinga. Emak Rukiyah terlihat sudah Mandi dan memakai baju rapi.

“Cun, Cucun ayoo!” Suara Emak mencari Cucun yang masuk kedalam kamar anak nya. “Iyaa Mak... Sebentar!” Jawab Cucun yang baru melepas mukenahnya sehabis sholat dhuha. “Cucun mau kuliah dimana? Ayo Emak antarkan untuk mendaftar kuliah.” Tanya Emak.

“Emak pinginnya Cucun kuliah dimana?” Cucun balik bertanya. “Pinginnya Emak Cucun masuk Sekolah Perawat atau Bidan.” Jawab Emak. “Iyaa, Emak aku mau.” Jawab Cucun dengan senyuman, dan bergegas memakai baju dan kerudungnya.

Dengan naik kendaraan umum Bus kota Transmusi, Emak dan Cucun pergi bersama. Emak dan Cucun turun dari Bus. Sudah sampai tujuan, Sekolah keperawatan Aisyah yang letakknya di jalan Merdeka Palembang (Sumatra Selatan).

“Assallamualaikum, kak saya Cucun dan ini Ibu saya, kedatangan kami kesini untuk mendaftar sekolah perawat, apakah masih ada peluang untuk mendaftar.” Kata Cucun bertanya dengan Salah satu Asisten Sekolah.

“Waalaikummussallam, silahkan duduk dulu dek, biar kami jelaskan. Untuk pendaftaran Mahasiswa baru mohon maaf pihak Sekolah tidak menerima Mahasiswa baru lagi karena sudah batas akhir ujian gelombang kedua, kami tidak membuka untuk gelombang ketiga Insya Allah kami akan menerima Mahasiswa baru lagi tahun depan.” Jawab Asisten Sekolah.

“Baiklah kak, terimakasih.” Kata Cucun yang sambil membawa tas dan menggandeng Ibunya keluar gedung sekolah. Emak dan Cucun pergi  Ke Sekolah lain kearah kilometer tiga setengah menuju Sekolah Islam Negeri Raden Fatah Palembang, namun hasilnya tetap sama, pendaftaran Mahasiswa baru sudah ditutup dan akan menerima lagi tahun depan.

Terakhir Emak dan Cucun mampir Ke Sekolah Kebidanan Universitas Kader Bangsa (UKB) yang letaknya dipangkal jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) Palembang, tapi hasilnya tetap sama pendaftaran Mahasiswa baru sudah ditutup.

Karena terlalu lama Ijazah dikeluarkan dari Sekolah juga menunggu adanya biaya yang baru ada, Cucun terlambat mendaftar kuliah. Tetapi walaupun begitu Cucun tidak putus asa, uangnya ditabung sambil mencari tambahan buat biaya kuliah untuk tahun depan.

Kegiatan Cucun dirumah selain aktif pada kegiatan Remaja (IRMA) Ikatan Remaja Mushollah, juga mendapat amanah mengurus kegiatan taman kanak-kanak (TK) taman pengajian Alqur’an (TPA) juga bergabung dalam Dewan Pengurus Pusat (DPP), Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia, (BKPRMI) Sumatera Selatan, juga mengikuti kursus menjahit dan bordir di yanet kilometer tiga setengah Palembang.

“Bismillah”
Di keheningan malam Cucun memanjatkan Do’a.“Yaa Robbi..., janganlah diri ini terlalu gembira terhadap sesuatu, boleh jadi sesuatu itu kurang baik menurut engkau untukku yaa Robbi, dan janganlah diri ini terlalu berlebihan tidak menyukai sesuatu, boleh jadi sesuatu yang tidak aku sukai itu terbaik menurutmu bagiku. Aku menyerahkan segala urusanku padamu yaa Robbi. Laahaulaa wallaa kuwata illaa billahil ‘aliyil ‘adzim. Tiada daya dan upaya kecuali hanya pertolonganmu yaa Robbi. Amiin Allahumma Amiin.”

Menjelang Ramadhan, masyarakat Desa Karang Luhur masih tetap semangat mempersiapkan diri untuk kegiatan Mushollah, pada hari pertama Bulan Ramadhan sore hari menjelang berbuka Mushollah terlihat ramai dipenuhi anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak, untuk berbuka bersama kemudian malamnya sholat tarawih berjamaah dilanjutkan tadarrus Al-quran.

Abah Syam terlihat ceria menyambut Ramadhan, walau kegiatan Abah Syam sekarang hanya sibuk mengurus warga kampung yang meminta Abah Syam berdoa ketika ada hajatan. Abah saat ini sudah berusia lanjut, juga sudah dipensiunkan dari kerjanya sebagai buruh kilang, kesehariannya hanya dirumah.

Walaupun begitu Abah Syam tidaklah menganggur, banyak warga desa yang sering memanggil Abah minta dibetulkan sesuatu yang rusak, misal listrik, kompor, sepeda dan lain-lain. Abah mempunyai banyak keahlian misal membetulkan listrik, membetulkan sepeda dan motor, ahli dalam bidang bangunan, juga bisa membuat es krim dan camilan sering jadi sateran warga ketika ada hajatan.

Semenjak Abah Syam sudah tidak bekerja lagi, sikap Emak yang keras dan pengatur sering berbicara kasar kepada Abah, memerintah Abah supaya cari kerja sampingan, Emak merasa jadi tulang punggung sebagai pedagang, sikap rasa kurang bersyukur sulit ditanamkan.

“Abah, Ba! tolong angkatkan karung dari sepeda ini. Ba...Abah! Kemana sih, Abah lama sekali.” Kata Emak yang baru pulang dari pasar sehabis berdagang, dan terlihat lelah penuh amarah.

“Ada apa sih Emak, pulang-pulang kok marah-marah,  Sabar Sedikit kenapa sih, istighfar Mak, kan lagi puasa.” Jawab Abah yang baru keluar dari pintu  Rumah langsung menurunkan karung dari sepeda Emak. Emak bergegas masuk ke Rumah kemudian mandi dan ganti baju , Abah membereskan karung-karung alat dagang Emak.

“Gimana dagang nya dipasar Mak?” Tanya Abah. “Hari ini nggak dapat duit, dagangan hari ini laku sedikit. Nanti malam makan sahur apa adanya, lagian yang cari duit cuma Emak sendiri, Hmmm, cari duit sana Ba! Betah banget di rumah gak kerja. Sebel Emak!” Kata Emak sewot.

“Abah mengerti, Emak yang sabar yaa, Allah SWT menyukai  orang-orang yang sabar, jangan pakai mengatur Abah begitu, nanti bisa jadi dosa jangan sampai Allah murka.” Kata Abah kepada Emak Sambil menjelaskan.

“Halah! Tau apa Abah tentang Dosa? Kalau lama -lama begini Emak tidak Sanggup hidup dengan Abah.” Jawab Emak sambil marah-marah. “Astagfirullah.” Abah mengucap sambil menggelengkan kepala.

Abah kemudian masuk ke dalam kamar membereskan bajunya kemudian memasukkannya ke dalam koper. Abah berpamitan kepada anak-anaknya. Abah mau pergi. “Abah mau kemana?” Kata kak Rohani putri sulung Abah. “Jangan pergi Ba!” Kata Kak Sendi.

“Masya Allah, iya Ba jangan pergi, Abah nggak boleh pergi sendirian. Ada masalah apa Ba?” Tanya Kak Sugang  keheranan. “Loh, Abah mau kemana bawa pakaian segala, Nur nggak mau Abah pergi.” Kata dek Nur sambil menangis dan memeluk Abah.

“Yaa Allah Abah ada apa, setiap masalah ada solusinya Baa.” Kata Cucun menenangkan Abah. Walaupun begitu Abah tetap pergi meninggalan anak-anak dan Istrinya. Suasana rumah Abah Syam jadi hening.

Setelah beberapa minggu Abah pergi, Emak sakit-sakitan, dalam tidurnya sering menyebut nama Abah. Emak merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada Abah. Melihat kondisi Emak, Akhirnya Cucun memutuskan untuk mencari Abah sekaligus menjemputnya agar pulang, dengan mengajak Kak Sugeng untuk menemani perjalanannya.

Abah yang kini tinggal di Jakarta, memberikan alamat lewat telepon ketika berkomunikasi dengan Cucun. Setelah bertemu Abah di Jakarta kemudian Cucun menceritakan kegalauan Emak yang sedang sakit akhirnya Abah mau diajak pulang. Suasana Rumah menjadi bahagia dan haru semenjak kedatangan Abah pulang kembali. Emak pun merasa senang, meminta maaf kepada Abah dan mengakui kesalahannya perlahan penyakit Emak berangsur sembuh.

Alhamdulillah.
Ketika Hari raya Idul Fitri, sehabis sholat Eid, semua keluarga Abah Syam berkumpul untuk saling memaafkan, semua bahagia dapat berkumpul kembali memperbaiki kesalahan dan membentuk keluarga baru kembali.

“Subhanallah, Al-Hamdulillah, Walaa IllaahailallahuAllahuAkbar”
“Laahaulaa Wallaakuwata Illaabillahil ‘aliyil'adzim.”

Setelah Idul Fitri Cucun mendaftar Kuliah yang dipilih, perkuliahan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Al-Hamdulillah dengan kesabaran, akhirnya Cucun mencapai keinginannya untuk kuliah, dan menyatukan kedua orang tuanya kembali, semua ini adalah atas Ridho Allah SWT semata.
Berkat Bismillah... Bismillah... Bismillah... lalu Alhamdulillah!
(Tamat)




Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.