Bunuh Diri Pelajar, Problematika Remaja yang Harus Dicermati

Hot News

Hotline

Bunuh Diri Pelajar, Problematika Remaja yang Harus Dicermati

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh : Wahyu Utami, S.Pd*


Di awal tahun 2020, dunia pendidikan kembali digegerkan dengan kejadian bunuh diri SN, siswi kelas VIII SMPN 147 Jakarta. Sekalipun kepala sekolah membantah, namun diduga kuat SN bunuh diri karena depresi mendapat perisakan/bullying verbal dari teman-temannya di sekolah. Kekerasan oleh remaja secara verbal baik di dunia nyata maupun di media sosial cenderung meningkat dan berdampak serius pada kesehatan mental mereka. Dan sepanjang tahun 2017-2019, DKI Jakarta tercacat sebagai provinsi dengan kekerasan anak tertinggi se-Indonesia (TribunJakarta 19/06/2019). Ternyata pembangunan infrastruktur besar-besaran di ibukota tidak berbanding lurus dengan wajah generasi penerus umat.

Media sosial terbukti meningkatkan depresi remaja. Para Ilmuwan menemukan terdapat hubungan antara penggunaan media sosial dan gejala depresi pada anak berusia 14 tahun dan hubungan itu jauh lebih kuat untuk anak perempuan daripada anak laki-laki. Fakta itu diungkap melalui penelitian berjudul Social Media Use and Adolescent Mental Health: Findings From the UK Millennium Cohort Study

Selain itu, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal EClinical Medicine tercatat bahwa perempuan yang menggunakan media sosial 50 persen lebih berisiko terkena depresi daripada laki-laki yang hanya 35 persen. Penelitian ini membandingkan anak-anak yang menggunakan media sosial 1 sampai 3 jam per harinya. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa penggunaan media sosial juga berpengaruh kepada peningkatan pelecehan online, kurang tidur, dan body shaming, yang tentu saja selanjutnya akan meningkatkan gejala depresi yang lebih tinggi.

Akar Masalah Remaja

Problematika remaja berawal dari disfungsi orangtua di rumah. Banyak orangtua tidak paham dan tidak fokus dalam mendidik anak. Banyak orangtua hanya berperan sebagai pabrik anak dan mesin ATM ketimbang sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Dari disfungsi orangtua, anak-anak tumbuh dengan jiwa anti sosial, pemarah, dan miskin empati. 






Remaja kita juga punya pengasuh lain yaitu lingkungan dan negara. Kedua pengasuh ini sekarang juga sedang sama-sama mengalami disfungsi. Lingkungan sosial remaja penuh budaya hedonisme. Setiap hari remaja disuguhi dengan tontonan yang tidak mendidik seperti film Dilan dan KPop sehingga mereka jauh dari jiwa kesetiakawanan sosial. Parahnya figur dunia hiburan ini justru didukung oleh negara dengan memasukkannya dalam soal ujian sekolah. Apa manfaatnya untuk pengembangan karakter remaja? 

Negara adalah orangtua terbesar bagi para remaja. Negara memiliki kekuatan untuk mendidik dan mendisiplinkan remaja, termasuk membentuk karakter positif pada mereka. Namun, seberapa besarkah negara sudah berperan dalam hal ini? Alih-alih menanamkan nilai positif dan menguatkan nilai agama, negara justru menakut-nakuti pelajar dan orang tua dengan ancaman radikalisme dan tidak kunjung tuntas menyelesaikan kasus tawuran, pergaulan bebas, klithih, kekerasan, geng motor, narkoba yang terus meningkat. Negara telah gagal fokus melihat  masalah remaja.

Solusi: Pendidikan Islam, Wujudkan Generasi Berkualitas

Saat ini yang dibutuhkan oleh remaja adalah penguatan karakter dan nilai-nilai keislaman pada diri mereka. Dan Islam telah mengatur bahwa negara adalah penanggungjawab utama yang berkewajiban menyelenggarakan pendidikan agar dapat mencetak generasi yang berkualitas. Ustadz Ismail Yusanto dalam bukunya yang berjudul Menggagas Sistem Pendidikan Islam menuliskan bahwa pendidikan Islam terlahir dari sebuah paradigma Islam. Berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan dunia; sebelum dunia dan kehidupan setelahnya; serta kaitan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.

Paradigma pendidikan Islam tentu tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam itu sendiri. Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Itulah tujuan pendidikan Islam. Asasnya adalah akidah Islam. Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.

Sistem pendidikan di dalam Islam dibuat dalam bentuk yang integral/terpadu. Pendidikan tidak hanya terpusat pada satu aspek sekolah saja tetapi juga memadukan unsur yang lain yaitu keluarga dan masyarakat. Keluarga akan berperan sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Penanaman nilai-nilai aqidah dan keterikatan anak kepada hukum syara diawali dari pendidikan di dalam keluarga. Masyarakat akan menjalankan fungsi kontrol sosial dan memberikan lingkungan yang kondusif untuk mendukung pembentukan kepribadian anak. 

Apabila ketiga aspek ini telah terpadu dan bersinergi, maka tujuan pendidikan untuk mewujudkan generasi berkualitas akan bisa tercapai. Mari kita bersegera membangun pendidikan Islam yang akan melahirkan generasi yang berkualitas yaitu generasi yang berkepribadian Islam.



*/Penulis adalah Pendidik dan Pemerhati Pendidikan Yogyakarta

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.