Cara Islam Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan

Hot News

Hotline

Cara Islam Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Meyla Hanna


Berbagai persoalan bangsa yang dihadapi Indonesia semakin hari semakin bertambah. Juga cenderung mengalami peningkatan dari segi intensitas masalah dan kedalaman masalah yang dihadapi. Selain problematika di bidang politik-pemerintah, ekonomi, sosial kemasyarakatan, hukum dan perundangan, serta pendidikan dan layanan kesehatan, Indonesia akhir-akhir ini juga sedang menghadapi berbagai persoalan serius dalam masalah ketenagakerjaan. Tingginya angka PHK (pemutusan hubungan kerja) di berbagai perusahaan di Indonesia.

Salah satu pemberitaan mengenai PHK baru-baru ini, Director & Chief of Human Resources Indosat Irsyad Sahroni mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi terlebih dahulu kepada karyawan yang terdampak. "Per tanggal 14/02 kemarin, dari 677 karyawan yang terdampak, lebih dari 80% telah setuju menerima paket kompensasi ini," kata Irsyad. Menurutnya, keputusan tersebut dilakukan secara fair dan transparan. Kompensasi yang diberikanpun jauh lebih baik dari pada yang ditentukan dalam undang-undang.






Lebih lanjut, Irsyad menerangkan bahwa perusahaan sudah mengkaji berbagai opsi terbaik. Dengan demikian, PHK menjadi langkah strategis untuk menjadikan Indosat sebagai perusahaan telekomunikasi terdepan yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.Kami telah mengkaji secara menyeluruh semua opsi, hingga pada kesimpulan bahwa kami harus mengambil tindakan yang sulit ini. Hal ini sangat penting bagi kami untuk dapat bertahan dan bertumbuh," imbuhnya.

Berbagai masalah ketenagakerjaan seperti PHK yang kini mewarnai kondisi ketenagakerjaan dewasa ini, sebenarnya tidaklah muncul semata-mata disebabkan potret dunia ketenagakerjaan semata. Namun juga diakibatkan oleh berbagai persoalan mendasar di bidang politik-pemerintahan, sosial-ekonomi kemasyarakatan, dan pendidikan. Persoalan tingginya tingkat pengangguran, persoalan ketersediaaan lapangan kerja, masalah tingkat upah dan kesejahteraan buruh, tunjangan sosial, persoalan buruh wanita dan pekerja di bawah umur tidaklah terlepas dari kondisi politik-pemerintahan dan kondisi sosial ekonomi bangsa. Akibatnya Indonesia menghadapi berbagai persoalan lain yang lebih serius. Salah satunya adalah tingginya tingkat pengangguran.

Akar masalah ketenagakerjaan

Mencermati secara lebih mendalam berbagai persoalan ketenagakerjaan yang ada, terlihat upaya pemenuhan kebutuhan pokok dan peningkatkan kesejahteraan hidup di dalam masyarakat. Persoalan pemenuhan kebutuhan pokok baik kebutuhan barang pangan, sandang, dan papan; maupun jasa seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan adalah akar penyebab utama sekaligus faktor pendorong terjadinya permasalahan ketenagakerjaan.

Karena akar permasalahannya terletak pada pemenuhan kebutuhan hidup, maka pemerintah perlu melakukan upaya serius dan terfokus di titik ini. Persoalan ketenagakerjaan ini dapat diselesaikan dengan tuntas apabila pemerintah bersedia memperhatikan persoalan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Tentu saja, ini merupakan fungsi dan tanggungjawab negara.

Sebagai Muslim, kita diwajibkan untuk mendalami hukum-hukum Islam. Kita dapati bahwa Islam sebagai  prinsip ideologi (mabda) mampu mengatasi berbagai persoalan-persoalan yang muncul dalam ketenagakerjaan secara fundamental dan komprehensif. Dalam memecahkan masalah tersebut, misalnya, Islam memahami bahwa penyelesaiannya perlu memperhatikan faktor penyebab utama.

Untuk persoalan yang muncul akibat kebijakan negara dalam bidang politik ekonomi, menurut Islam, negaralah yang bertanggungjawab untuk menyelesaikannya. Sedangkan masalah ketenagakerjaan yang muncul akibat semata hubungan pengusaha dan pekerja, maka dapat diselesaikan oleh pengusaha dan pekerja secara internal.

Islam telah menjelaskan secara rinci bagaimana kontrak kerja pengusaha dan pekerja melalui hukum-hukum yang menyangkut ijaratul ajir. Dengan dipatuhi ketentuan-ketentuan Islam dalam hal ini, diharapkan masalah-masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik.

Tiga Langkah Islam Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan

Telah kita ketahui bahwa masalah ketenagakerjaan berakar dari pemenuhan kebutuhan hidup rakyat. Sehingga Islam mewajibkan negara menjalankan seluruh kebijakan politik ekonomi yang telah diatur dalam Islam. Hal ini ditujukan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup manusia dalam bidang politik maupun ekonomi.

Politik ekonomi Islam sendiri hanya bisa terwujud di bawah pengaturan sistem Islam. Sehingga dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia, Islam memperhatikan pemenuhan kebutuhan setiap anggota masyarakat dengan fokus perhatian kepada manusia sebagai individu dan bukan sekedar sebagai suatu komunitas yang hidup dalam sebuah negara. Hal ini berarti Islam lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan secara individual, bukan kolektif. Dengan kata lain, bagaimana agar setiap individu masyarakat dapat memenuhi seluruh kebutuhan pokok sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan mereka sehingga dapat memenuhi kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) adalah fokus perhatian pemimpin (pemerintah). Bukan hanya sekedar meningkatkan taraf hidup secara kolektif yang diukur dari rata-rata kesejahteraan seluruh anggota masyarakat (GNP).

Dengan demikian, diperlukan beberapa langkah strategis cara Islam mengatasi masalah ketenagakerjaan ini. Langkah pertama. Islam mewajibkan kepada setiap kepala keluarga untuk bekerja. Barang-barang kebutuhan pokok tidak mungkin diperoleh, kecuali apabila manusia berusaha mencarinya. Islam mendorong manusia agar bekerja, mencari rezeki, dan berusaha. Bahkan Islam telah menjadikan hukum mencari rezeki tersebut adalah fardhu. Allah SWT berfirman: “Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, serta makanlah sebagian rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk : 15). Nash tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa pada mulanya pemenuhan kebutuhan pokok dan upaya meningkatkan kesejahteraan hidup manusia adalah tugas individu itu sendiri, yakni dengan “bekerja”.
Lanjut dengan langkah kedua. Islam menyediakan berbagai fasilitas lapangan kerja agar setiap orang yang mampu bekerja dapat memperoleh pekerjaan. Jika orang-orang yang wajib bekerja telah berupaya mencari pekerjaan, namun ia tidak memperoleh pekerjaan sementara ia mampu bekerja dan telah berusaha mencari pekerjaan tersebut, maka negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan atau memberikan fasilitas agar orang yang bersangkutan dapat bekerja untuk mencari nafkah penghidupannya. Sebab, hal tersebut merupakan tanggung jawab negara. Rasullah saw bersabda : “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari sinilah, maka para ulama menyatakan bahwa wajib atas Waliyyul Amri (pemerintah) memberikan sarana-sarana pekerjaan kepada para pencari kerja. Menciptakan lapangan kerja adalah kewajiban negara dan merupakan bagian tanggung jawabnya terhadap pemeliharaan dan pengaturan urusan rakyat. Itulah kewajiban yang telah ditetapkan secara syar’i, dan telah diterapkan oleh para pemimpin negara Islam (Daulah Islamiyah), terutama di masa-masa kejayaannya.

Terakhir, langkah ketiga. Islam secara langsung memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan dari seluruh warga negara yang tidak mampu dan membutuhkan. Dalam Islam, negara berfungsi sebagai penyantun orang-orang lemah dan membutuhkan. Pemimpin (pemerintah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya. Dalam hal ini negara akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang menjadi tanggungannya.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok individu masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya secara sempurna, maka negara harus menempuh berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Golongan masyarakat yang wajib dibantu negara menurut Islam adalah mereka yang telah berusaha namun tidak cukup (fakir dan miskin), mereka yang lemah dan cacat sehingga tidak mampu bekerja, dan mereka yang sudah tidak memiliki ahli waris yang mampu menanggung kebutuhan hidupnya.

Negara dapat memberikan nafkah baitul mal yang berasal dari harta zakat. Zakat merupakan kewajiban syar’i dan diambil oleh negara dari orang-orang kaya, sebagaimana firman Allah :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS. At-Taubah :103)
.

Pangan dan sandang adalah kebutuhan pokok manusia yang harus terpenuhi. Tidak seorangpun yang dapat melepaskan diri dari dua kebutuhan itu. Oleh karena itu, Islam pun menjadikan dua hal tersebut sebagai nafkah pokok yang harus diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.

Demikianlah, negara harus maksimal mewujudkan kemaslahatan dan dinikmati oleh setiap individu yang tidak mampu meraih kemaslahatan itu sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Islam. Sebagai jaminan akan adanya peraturan pemenuhan urusan pemenuhan kebutuhan tersebut serta merupakan realisasi tuntutan syari’at Islam.

Sebagai contoh Khalifah Umar bin Khathab. Dulu beliau membangun suatu rumah yang diberi nama “daar ad daqiiq” (rumah tepung). Di sana tersedia berbagai jenis bahan makanan pokok, buah kurma, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Tujuannya untuk menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan sampai mereka terlepas dari kebutuhan itu. Kedai itu dibangun di jalan antara Makkah dan Syam, di tempat yang strategis dan mudah dicari (dicapai) oleh para musafir.

Begitulah cara Islam mengatasi masalah ketenagakerjaan dengan melihat akar masalah. Yakni tentang bagaimana setiap individu masyarakat mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dengan layak dan baik sesuai Islam. Oleh karenanya, semoga menjadi kesadaran kita bersama agar bergegas mewujudkan kembali kehidupan Islam dalam naungan Khilafah Islam demi terwujudnya kehidupan bahagia dunia akhirat untuk kita semua. Wallahu a‘lam.




Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.