Darurat Bullying di Kalangan Pelajar

Hot News

Hotline

Darurat Bullying di Kalangan Pelajar

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh: Ummu Ainun*


Akhir-akhir ini kita sering dibuat miris dengan berita yang ada di media cetak maupun elektronik tentang pelaku dan korban bullying, seperti berita anak berinisial MS yang dikabarkan jarinya harus diamputasi karena luka serius. Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 Kota Malang, Jawa Timur tersebut diduga dirundung (bully) oleh teman sekolahnya.

MS tidak sendiri, nasib yang sama juga menimpa seorang siswa yang berinisial FA. Siswa salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Pekanbaru Riau tersebut mengalami patah tulang hidung, akibat di-bully oleh teman sekolahnya. Mirisnya, FA tidak hanya di-bully, tapi ia juga diancam dan diperas.

Awal tahun ini saja, tercatat ada empat kasus perundungan di kalangan remaja seperti kasus MS dan FA. Dua kasus lainnya pun tidak kalah pilu. RS, seorang siswa kelas VI di salah satu SD Negeri di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, mengalami depresi berat usai diduga menjadi korban perundungan yang dilakukan teman-temannya. Ironisnya, RS sudah di-bully selama dua tahun atau sejak ia duduk di bangku kelas IV SD. Sedangkan Nabila, seorang siswi Sekolah Dasar (SD) di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Bandung Barat di-bully oleh teman-temannya karena masalah sepatu. Video Nabila yang tengah di-bully viral di linimasa hingga menuai simpati dari masyarakat (kompas.com, 8/2/2020).

Bullying, menjadi masalah akut generasi bangsa ini. Alih-alih semakin berkurang, sebaliknya mengalami tren peningkatan. KPAI mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan. Untuk bullying sendiri baik di pendidikan maupun di sosial media mencapai 2.473 laporan. Bahkan Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Lalu, adakah solusi yang tepat terhadap kasus bullying dan kekerasan yang menimpa generasi?

Generasi Sekuler, Generasi Problem Maker

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra, mengatakan data pengaduan anak kepada KPAI bagai fenomena gunung es. Ia juga mengatakan fenomena kekerasan adalah akibat dari terbiasanya anak-anak menyaksikan cara kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Artinya mereka tidak pernah diajarkan cara menyelesaikan masalah dengan baik, bahkan memandang kekerasan sebagai satu-satunya cara penyelesaian.

Masih menurut Jasra, secara fisik dan daya belajar anak dikategorikan baik bahkan memiliki prestasi. Namun ketika menghadapi realita, anak-anak tidak siap. Sehingga terjadi gejolak yang menyebabkan pelemahan mental yang dapat bereaksi agresif seperti bullying. Umumnya bullying adalah perbuatan berulang-ulang yang dilakukan seseorang. Pemicunya sangat banyak. Bisa karena kontrol sosial masyarakat yang berubah menjadi lebih agresif dan cepat sehingga sangat mudah ditiru oleh anak. Bisa pula karena sikap represif yang berulang-ulang seperti tontonan kekerasan, dampak negatif gawai, atau penghakiman media sosial.

Kisah-kisah kekerasan misalnya, bisa ditonton berulang karena bisa diputar balik kapan saja oleh anak. Tidak ada batasan untuk anak-anak agar jangan mengonsumsinya lagi. Sayang, kondisi yang mengganggu anak tersebut tidak banyak penyaringannya bila adanya di sosial media, keluarga, sekolah, dan lingkungan. Meskipun sudah ada guru dan orang tua serta guru konseling, namun tidak lebih nampak perannya saat terjadi kekerasan di sekolah (kpai.go.id, 10/2/2020).

Fenomena bullying dan kekerasan, semestinya menjadi perhatian serius pemerintah. Mengingat bullying dan kekerasan dapat menjadi tren generasi dalam menyelesaikan masalah. Sayangnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku belum punya terobosan baru mencegah bullying dan kekerasan yang masih terjadi di sekolah-sekolah (cnnindonesia.com, 7/2/2020). Aturan Permendikbud No. 82 tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan (P2TK) yang selama ini digunakan untuk mencegah tindak kekerasan dan bullying pada anak, juga ternyata mandul dalam mengatasi kasus tersebut. Faktanya, hingga hari ini kasus bullying dan kekerasan terus saja muncul bagaikan cendawan di musim penghujan.






Bullying dan kekerasan sebagai problem akut dan masif generasi bangsa, sejatinya menjadi indikator kegagalan pembangunan SDM yang dilandasi oleh sekularisme. Kurikulum pendidikan diarahkan untuk mencetak siswa berprestasi secara akademik saja. Di sisi lain, penanaman ide sekuler telah membentuk generasi yang mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah secara instan tanpa melibatkan aturan agamanya. Tidak heran jika lahir generasi yang problem maker, bukan problem solver.

Peran masyarakat dan negara pun mandul. Lemahnya kontrol sosial masyarakat akibat paham individualis, mendorong generasi pada perilaku permisif. Alhasil, generasi semakin enjoy dalam melakukan kekerasan dan bullying. Sedangkan peran negara hanya sebatas pada regulasi semata. Faktanya, regulasi tersebut tidaklah ampuh. Terbukti kekerasan dan bullying masih saja terjadi baik di dunia nyata maupun jagat maya.

Tindakan preventif yang dilakukan akan menjadi sia-sia belaka, selama pemerintah masih menerapkan sistem pendidikan sekuler yang terbukti gagal. Sedangkan upaya kuratif pun tidak akan berhasil secara sempurna jika tanpa dibarengi dengan upaya mencampakan sekularisme sebagai biang kerusakan generasi.

Lelah sudah rasanya saat masyarakat berulang kali harus menyaksikan berbagai  peristiwa yang menyedihkan di lingkungan para pelajar. Terlebih tindakan bullying ini selain menyisakan duka dan kepiluan yang mendalam, perbuatan tersebut juga sangatlah dilarang dan bertentangan keras dengan akidah umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas di negeri ini.

Masyarakat sudah tidak bisa lagi berharap pada sistem tambal sulam yang hanya concern pada akibat yang tidak pernah mampu menjadi solusi tuntas terhadap akar masalah. Maka solusi yang harus diambil yaitu kembali kepada sistem kehidupan Islam. Islam sebagai agama paripurna, tidak hanya mengatur urusan dengan Tuhan tapi juga mengatur bagaimana urusan diri sendiri serta urusan hubungan manusia lainnya. Di bawah naungan sistem kehidupan Islam, masyarakat dapat terjaga di bawah tiga pilar, yang terangkai sebagai berikut :

Pilar utama, yaitu kokohnya akidah pada setiap individu. Individu yang mempunyai akidah yang kokoh akan mampu menekan keinginan mem-bully teman yang merupakan hal yang bertentangan dengan agama. Individu yang mempunyai cara pandang hidup benar dan lurus (pandangan hidup Islam berdasarkan pada akidah Islam) yakni menanamkan bahwa kebahagiaan hidup adalah mendapatkan ridha Allah, maka tidak akan dicapainya hal-hal yang bersifat kesenangan duniawi dan material semata. Penanaman pikiran dan pemahaman seperti ini bisa dilakukan melalui pembinaan yang bisa dimulai dari rumah-rumah maupun di tempat-tempat umum. Oleh sebab itu, setiap orang harus ‘memaksa’ dirinya untuk terus mengkaji Islam secara tepat, bukan untuk kepuasan intelektual, melainkan untuk diyakini, dihayati, dan diamalkan.

Dengan pengamalan tersebut, ia akan menjadi orang yang memiliki keyakinan teguh, cita-cita kuat, tawakal hebat, dan optimisme tinggi yaitu zikirnya rajin, shalatnya khusyuk, dan ibadah lainnya melekat dalam dirinya. Perjuangan dan pengorbanannya untuk Islam pun membara. Ia akan beraktivitas di dunia dengan keyakinan Allah SWT akan menolongnya. Kesulitan dipandang sebagai ujian hidup dan pandangannya jauh tertuju ke depan, ke akhirat. Dia berbuat di dunia untuk mencapai kebahagiaan hakiki yaitu ridha Allah (al-Khaliq). Jika ini dilakukan niscaya para pelajar itu akan terhindar dari perbuatan tercela.

Pilar kedua yakni keluarga, sejatinya masalah pada seorang anak tidak selalu tersebab pada keluarga yang berantakan. Ada juga orang yang berasal dari keluarga baik. Secara umum, keluarga yang tak tertata berpeluang lebih besar melahirkan anak-anak yang berkelakuan tidak baik. Allah SWT Maha Tahu terhadap karakteristik manusia yang diciptakannya. Dia adalah Zat Yang Maha Lembut yang menurunkan konsep keluarga yang islami, harmonis, serta jauh dari hal-hal yang dapat merusak pondasi dan pilar-pilar keluarga agar terbentuk keluarga yang ‘sakinah mawaddah wa rahmah’ serta memiliki buah hati yang shalih dan shalihah yang kokoh secara akidah.

Pilar ketiga yaitu masyarakat. Masyarakat Islam yang dinamis dan mempunyai tingkat kepedulian yang tinggi akan mampu menciptakan kontrol sosial di tengah masyarakat dengan baik. Kehidupan masyarakat, kata Nabi, seperti sekelompok orang yang mengarungi lautan dengan kapal. Jika ada seseorang yang hendak mengambil air dengan melubangi kapal dan tidak ada orang lain yang mencegahnya, niscaya yang tenggelam adalah seluruh penumpang kapal. Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh anggota masyarakat terhadap kehidupan masyarakat secara umum. Masyarakat yang para anggotanya mengembangkan bibit-bibit generasi yang tidak baik, jika dibiarkan akan melahirkan masyarakat yang tidak baik pula. Sebaliknya, warga masyarakat yang menumbuh suburkan kebaikan akan mampu mewujudkan masyarakat yang baik pula.

Oleh sebab itu, agar masyarakat menjadi baik maka harus ada upaya untuk menumbuhkan solidaritas dan kepedulian sosial, menciptakan atmosfir keimanan, serta mengembangkan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Masyarakat Madinah pada zaman Nabi saw merupakan contoh ideal untuk hal ini. Para sahabat, baik Muhajirin maupun Anshar, bahu-membahu dan saling mengasihi satu sama lain. Rasulullah mempersaudarakan mereka dan menanamkan sikap saling membantu dalam kekurangan di antara sesamanya. Nuansa keimanan begitu dominan baik di pasar Madinah, kebun-kebun kurma, dan tempat berkumpul lainnya. Mereka juga saling mengajak berbuat kemakrufan dan mencegah kemungkaran.

Masyarakat saat itu menyatu menjadi masyarakat dakwah. Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling menghasut, saling membelakangi, dan saling memutuskan tali persahabatan. Akan tetapi, jadilah kalian itu hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pilar terakhir yakni negara. Negara bertanggungjawab sepenuhnya terhadap berbagai kasus yang mendera dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri pemerintah memiliki peran yang cukup besar dalam menciptakan atmosfir pendidikan di tengah-tengah masyarakat dan para pelajar. Karena sejatinya sistem pendidikan yang jauh dari tuntutan Islam menjadi pemicu terjadinya bully-membully di tengah kehidupan masyarakat dan masyarakat pendidikan. Maka hendaknya negara wajib membina masyarakat dan pelajar dengan akidah Islam melalui sistem pendidikan Islam, mengatur media massa hingga tidak menyebarkan budaya hedonistik dan materialistik yang bersumber dari ideologi kapitalisme atau sosialisme, menerapkan hukum-hukum Islam secara total, serta mencampakkan akidah dan sistem kehidupan yang materialis dan sekuler.

Hanya dengan sikap tegas dari penguasa untuk melakukan hal tersebut maka kasus bullying di kalangan pelajar dan masyarakat dapat dicegah. Dan benar-benar akan mampu menjadi solusi tuntas dalam menekan kasus bullying dengan menjadikan mereka pejuang Islam. Maka sudah jelas dari berbagai ulasan di atas, kasus yang menghantarkan pada tindakan hilangnya nyawa seseorang merupakan persoalan kompleks, dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu, solusi untuk mengatasinya harus tepat dan komprehensif, tidak bersifat parsial dan individual. Artinya, diperlukan peran masyarakat dan negara untuk mengatasinya, bukan sekadar peran individu dan keluarga saja.

Dasarnya pun bukanlah sistem hidup kapitalisme ataupun sosialisme yang justru mengandung bibit-bibit penyebab seorang melakukan bullying, melainkan Islam. Allah SWT berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS al-An‘am [6]: 153). Wallahu a’lam bish-shawwab.



*/Penulis adalah Akitifis Dakwah dan Ibu Rumah Tangga

Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.