Fenomena Bullying Tak Seharusnya Ada

Hot News

Hotline

Fenomena Bullying Tak Seharusnya Ada

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh : Kunthi Mandasari*


Fenomena bullying tak bisa dipandang sebelah mata. Dilansir dari Republika.com, 10/02/2020, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan sepanjang 2011 hingga 2019, KPAI mencatat  ada sebanyak 37.381 pengaduan mengenai anak. Salah satunya kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan.

Jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil kasus bullying yang masuk dalam laporan. Jumlah sesungguhnya bisa lebih besar lagi. Mengingat aktivitas bullying begitu mudah kita temui di sekitar kita dan bisa menimpa siapa saja.

Aktivitas bullying kian berkembang dalam sistem sekuler kapitalistik. Sistem sekuler yang berorientasi pada materi yang telah melahirkan strata sosial. Menjamin keberlangsungan hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Apalagi ditunjang dengan kebebasan berperilaku, membuat seseorang dengan mudah mengeluarkan cacian hingga penyiksaan.

Sistem sekuler kapitalis yang berorientasi pada materi, membuat korban mudah terpuruk. Mengingat apa yang diusahakan bukan lagi untuk meraih ridho-Nya, tetapi justru ridho manusia. Alhasil, korban bullying lebih mudah kecewa dan merana meratapi nasibnya.






Fenomena bullying seharusnya tak pernah ada. Jika Islam dijadikan aturan hidup manusia. Islam dengan tegas melarang menyakiti orang lain, meskipun melalui lisan. Jika dalam urusan perkataan saja Islam memberikan aturan, apalagi dalam perbuatan lainnya.

Rasullullah saw. bersabda:
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari)

Islam mengharuskan pemeluknya beriman melalui proses berfikir. Tentang darimana manusia berasal, untuk apa ia diciptakan dan akan kemana setelah ia mati. Dengan cara inilah manusia memecahkan permasalahan mendasarnya.

Islam memberikan jawaban yang memuaskan akal, memberikan ketenangan jiwa dan yang pasti sesuai dengan fitrah manusia. Beriman kepada Allah berarti mengakui bahwa Allah SWT sebagai pemegang keputusan hukum, maka aturannya lahir dari syari’at yang ditetapkan Allah melalui Rasul-Nya. Maka yang menjadi prioritas utama kaum muslim adalah Ridho-Nya. Dan satu-satunya yang menjadi pembeda kedudukan manusia hanyalah takwa. Dan negara bertugas untuk memastikan terlaksananya hukum syariat tanpa memandang bulu.

Alhasil, penerapan Islam mampu mencegah adanya bullying melalui penanaman akidah pada setiap individunya. Membiasakan aktivitas amar ma'ruf nahyi munkar serta peran negara dalam memberikan perlindungan bagi setiap negara. Jika Islam telah sempurna dalam mengatur urusan manusia, lantas mengapa kita masih mengabaikan penerapannya? Wallahu'alam bishshawab.


*/Penulis adalah seorang revowriter, pemerhati generasi dan member AMK

Editor : Mahesa Ibrahim

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.