Fenomena Raja-rajaan di Tahun 2020

Hot News

Hotline

Fenomena Raja-rajaan di Tahun 2020


(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)

Oleh: Linda Ummu Karim


Masih segar di ingatan, beberapa waktu lalu dunia jagad maya sempat dihebohkan dengan adanya kerajaan baru yang berdiri di tengah-tengah bangsa kita. Hal ini bisa saja muncul dikarenakan tingkat frustasi sosial dan perekonomian rakyat yang semakin sulit. Mereka bingung mencari jawaban dan solusi atas carut marutnya negeri ini, seakan kemunculan kerajaan-kerajaan ini merupakan angin segar untuk mereka. Bukan hanya kerajaan Kraton Agung Sejagat yang baru-baru ini muncul, masih ada kerajaan lain dibelahan bumi Indonesia lain yang juga bermunculan, misalnya Sunda Empire, Kerajaan Ubur-ubur, Gafatar, dan lain-lain.

Kemunculan Keraton Agung Sejagat beberapa waktu silam menghebohkan masyarakat. Dua orang mengklaim diri mereka sebagai pimpinan kerajaan. Mereka adalah Toto Santoso yang menyebut dirinya Sinuhun dan Fanni Aminadia sebagai ratunya. Polisi akhirnya menguak motif penipuan di balik beragam aktivitas Keraton Agung Sejagat tersebut, dan menetapkan Fanni dan Toto sebagai tersangka.

Banyak kelompok kerajaan dan organisasi yang pernah muncul di Indonesia dan menggegerkan masyarakat. Seperti Kerajaan Ubur-ubur yang muncul di Kota Serang, Banten pada 2018 lalu. Kerajaan ini didirikan oleh sepasang suami istri berinisial AS dan RC. Pasangan tersebut mengaku mendapat wangsit untuk mendirikan kerajaan dan membuka kunci kekayaan dunia. "Jadi memang kalau kita lihat dari hasil pemeriksaannya, apa yang dilakukan oleh yang bersangkutan, dia didatangi oleh gaib ditunjuk oleh pembuka pintu kekayaan dunia," ungkap Kapolresta Serang AKBP Komarudin seperti dilansir dari Tribun Jakarta, Rabu (15/8/2018). Untuk membuka pintu kekayaan, mereka harus melakukan ritual ala kerajaan ubur-ubur

Juga seperti yang terjadi sekitar 2016 lalu, beberapa orang dikabarkan hilang secara serentak. Orang-orang yang diketahui tergabung dalam Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), memutuskan meninggalkan kampung dan eksodus ke Kalimantan. Menurut keterangan Kasubdit I Keamanan Negara Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri AKBP Satria Adhy Permana, para pengikut Gafatar berangkat dari rasa kebingungan. Kebingungan tersebut lalu dimanfaatkan oleh para pengurus dengan cara melakukan pendampingan terus-menerus kepada mereka. "Lalu, mereka wajib mengucapkan syahadat dengan mengakui Ahmad Musaddeq sebagai nabi menurut versi Millah Abraham. Bikin syahadat sendiri," kata Satria.

Kelompok itu juga memiliki buku bacaan wajib yang harus dibaca oleh setiap pengikutnya. Ada pula kaset CD deklarasi negara di daerah, akta aqiqah, akta pengorbanan hingga Tabloid Gafatar. "Buku-bukunya kemudian menjadi kewajiban untuk dibaca setiap malam, tengah malam pukul 02.00 WIB sampai 03.00 WIB, Bangun Aktivitas Malam (BAM)," ujarnya. MUI mengeluarkan fatwa sesat bagi organisasi tersebut. Gafatar dinilai mencampuradukkan atau sinkretisme tiga agama, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Organisasi Gafatar dibubarkan pada 13 Agustus 2015 melalui kongres luar biasa. Saat dibubarkan anggota Gafatar mencapai 50.000 orang. Tiga mantan petinggi Gafatar dijatuhi hukuman lantaran dinilai melakukan penodaan agama.(Kompas.com 19/1/20).




Fenomena ini berangkat dari kisah peristiwa Ratu Adil. Bukan fenomena baru sebenarnya, bahkan di dunia ada gerakan milenarianisme yang muncul setiap waktu tertentu. Gerakan ini menawarkan jalan keluar bagi kebuntuan zaman. Fenomena sejenis juga terjadi di berbagai negara. Saat ini terbukti gagal misi Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.

Tentu tidak heran, dengan berbagai himpitan problem hidup ditambah dengan minimnya keimanan bisa mengantarkan pada tingginya tingkat stres pada masyarakat. Banyak orang tertarik dan bergabung karena sedang mengalami kebuntuan mencari jalan keluar persoalan, gampang tergiur tawaran yang tidak rasional. Hal itu dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk mencari keuntungan materi.

Dari hal ini dapat kita lihat dampak dari sekularisme yang jelas berbahaya karena merupakan asas dari ideologi kapitalisme yang terbukti bobrok. Inti ide ini adalah menyingkirkan peran dan fungsi agama (terkhusus islam) dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Kalau pun mau, agama hanya diberi peran yang bersifat moral saja. Sekularisme menihilkan peran dan fungsi Islam untuk mengatur masyarakat. Atas nama kebebasan berkeyakinan setiap orang kemudian bebas membuat keyakinan dan aturan sendiri. Mengaku jibril, Nabi, sholat dengan dua bahasa, dan ajaran menyesatkan lainnya. Kemusyrikan pun akan merajalela atas nama kebebasan.

Islam memberikan solusi agar setiap individu masyarakat beriman kepada Allah dan rasul-Nya dengan keimanan yang benar. Meyakini bahwa ketakwaan menjadi sebab dibukakannya jalan keluar dari problem kehidupan. Bersyukur atas setiap pemberian-Nya, bersabar atas musibah yang menimpanya, karena boleh jadi semua itu sebagai penggugur dosa.

Bagaimana ketika diperlakukan negara dengan sistem Islam? Sudah pasti negara dengan sistem islam akan menjaga kondisi keimanan ini senantiasa berada dalam kondisi yang kokoh. Negara akan menghindarkan masyarakat dari pemikiran-pemikiran liberal dan materialistik yang bertentangan dengan akidah Islam.
Di dalam Islam, salah satu tugas negara yang penting adalah menjaga akidah umat (muhafadzah ‘ala al aqidah).

Atas dasar itulah Rasulullah saw mewajibkan negara menjatuhkan sanksi hukum mati atas orang yang murtad. Hal ini disebabkan akidah merupakan persoalan yang mendasar dan penting (fondasi). Kalau akidah seseorang lemah dan rusak, maka rusak pula dia. Demikian juga kalau akidah masyarakat rusak, bangunan masyarakat akan rusak. Ketika seseorang seenaknya murtad (keluar dari Islam ) dia telah menyebarkan virus yang berbahaya yakni menganggap ringan masalah akidah, dan kalau ini dibiarkan akan membahayakan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam hal ini, perlu tindakan tegas dan antisipatif dari pemerintahan agar kasus serupa tidak berulang sehingga tidak meresahkan masyarakat dan tidak banyak korban yang berjatuhan lagi. Salah satunya dengan memberikan sanksi. Sanksi ini dijatuhkan setelah lewat proses pembinaan dimana dia diberi kesempatan untuk bertaubat, kalau tetap menolak lewat proses pengadilan baru dia dijatuhkan sanksi.  Mereka diminta bertaubat dan kembali kepada Islam, jika mereka menolak mereka wajib diperangi.

Demikianlah, sepanjang negeri ini masih menerapkan sistem sekuler-kapitalis-liberal seperti sekarang, maka penderitaan masyarakat tidak akan pernah menemukan solusinya. Sejauh ini hanya Islam solusi satu-satunya untuk atasi ragam masalah kehidupan yang terjadi saat ini. Wallaahua'lam bishshawab.



Editor: Muh Fahrurozi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.