Harga Setetes Air Dalam Gelas

Hot News

Hotline

Harga Setetes Air Dalam Gelas

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Rosendah Dwi Maulaya


“Jangan lupa mengisi gelasmu, Sen,” ujar Ibu ketika hendak pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Ia tidak berpesan apapun padaku, kecuali mengisi gelas itu. Sungguh aneh!

Aku masih bingung, kenapa Ibu menyuruhku mengisi gelas peraknya dengan air setetes demi setetes setiap hari. Untuk apa? Apa tujuannya? Pembelajaran apa yang aku dapatkan nanti? Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya menurut saja, bagai kerbau dicucuk hidungnya.

Setiap pukul tiga dini hari aku melaksanakan perintah Ibu. Aku berwudhu, kemudian memercikkan jemariku pada gelas perak Ibu dengan peluh air wudhuku, setetes saja. Setelah itu baru menunaikan tahajud dua atau empat rakaat dan mengaji hingga waktu subuh tiba.

Ketika kepergian Ibu beberapa hari, aku masih rutin mengisi gelasnya. Hingga suatu kali aku tidak telaten lagi. Aku memang masih shalat malam, tapi aku tidak pernah lagi mengisi gelas perak milik Ibu.

Kalau aku sedang sadar dan teringat pesan Ibu, kupercikkan juga air ke dalam gelas itu meski tidak tetes demi tetes. Biarlah, toh Ibu juga tidak akan seteliti sampai mengukur volume gelas tersebut.

Seminggu kemudian Ibu pulang. Ibu menghampiriku ketika aku sedang takzim belajar.

“Kau mengisi air dalam gelas ini, Nak?” tanyanya.

“Ya Bu, tentu saja,” kataku dengan penekanan supaya tak kentara kalau aku sedang berbohong.






Tap!! Ibu menaruh gelas kesayanganya di meja belajarku. Aku sedikit terlonjak dan mendongak. Kulihat Ibu menggeleng pelan sembari terus mengamatiku begitu dalam. Sorot matanya seperti menelanjangi tubuhku, begitu merasuk dan menusuk jiwaku. Aku jadi merasa bersalah. Melalui sorotnya, aku tahu Ibu sedang membaca hatiku.

Reflek, tanganku menelisik buku-buku di atas meja. Mencoba mencari sesuatu yang benar-benar tidak sedang kucari untuk menghindari sorot tajam mata Ibu.

“Kau tidak amanah, Sen...” lirih suara Ibu, hampir-hampir tak terdengar. Tanganku berhenti menggapai buku.

Krash!! Seperti ada yang hancur berkeping-keping di hatiku. Bak ikan yang dilempar ke darat, menggelepar-gelepar. Aku hampir tidak bisa bernapas. Karena, ini kali pertama Ibu menegurku dengan cara yang berbeda.

Dari kecil aku sudah biasa dimarahi. Dengan teriakan keras dan suara yang melengking. Dan ketika aku tumbuh besar, aku paham betul kalau itu hanya teguran untuk membuatku hidup lebih disiplin dari sebelumnya. Namun, teguran lirih barusan rasanya aku belum pernah merasakannya. Sekalinya kurasa, aku hampir-hampir tidak bisa merasai tubuhku sendiri. Fisikku memang masih ada, tetapi ruhku sudah lama menghilang pasca Ibu mengatakan kalimatnya tadi.

“Aku mengajarimu supaya tidak tidur dalam setiap aktivitas yang kau lakukan, Nak,” katanya kemudian. Aku mengernyit tanda tak paham.

“Kau memang belum mengerti, kenapa aku menyuruhmu rutin untuk mengisi gelas itu. Aku tahu, Nak. Kau berpikir untuk apa harus mengisi gelas itu dengan sisa tetes air wudhumu? Tapi, ya dengan itulah cara Ibu mendidikmu. Dengan tetes air, bukan dengan api,” Ibu diam sebentar. Sedangkan aku, aku merasa makin ruwet dengan kata-katanya barusan.

Hei, aku baru saja beranjak dua belas tahun! Kenapa Ibu bicara seolah-olah aku paham filsafat. Padahal di usiaku yang masih terbilang tanggung ini, aku lebih suka membicarakan keteladanan Nabi, cerita tentang wali-wali Allah, atau dongeng-dongeng lainnya yang menginspirasi.

“Barangkali kau tahu sedikit perihal ini,” Ibu mengambil napas. Kemudian melanjutkan, “dari setiap peristiwa yang terjadi kadang hanya mengalir saja, tidak ada yang membekas. Tenar sebentar, lantas dilupakan. Merenunglah barang sebentar, Nak. Supaya kau sadar hidup ini bukan untuk mengejar deadline, bukan untuk mengejar setoran sehingga kita terperangkap pada rutinitas yang memperbudak, rutinitas yang menjemukan. Kau berlari, tetapi dalam waktu yang sama kau tidur. Barangkali itulah ungkapan yang tepat untukmu.”

“Aku tidak mengerti,” sahutku. Bukankah itu ungkapan untuk seseorang yang tak pandai menikmati hidup. Benarkan? batinku.

Ibu kembali melanjutkan, “Apa kau setiap hari shalat?” Aku mengangguk.

“Apa kau setiap hari mengaji?” Aku mengangguk ragu, karena sejujurnya ketika Ibu sedang pergi, aku juga malas untuk mengaji.

“Bagaimana perasaanmu seusai shalat? Apakah kau merasa tenang, jiwamu damai?” Ahh... Kali ini aku tak berani mengangguk, karena justru aku berkebalikan dari apa yang Ibu katakan.

“Kau tidak akan menjawabnya, Sendah? Ibu pikir kau sudah mengerti apa maksud dari mengisi gelas perak itu.”

“Aku tidak bisa memahaminya, Bu,” kataku berterus terang.

Ibu menghela napas sebelum melanjutkan, “Begini, Nak! Untuk mengisi gelas perak itu sebenarnya sangatlah mudah, hanya dengan memercikkan jarimu usai wudhu maka  gelas itu sudah terisi setetes. Namun kau lihat dan rasakan sendiri? Meskipun begitu mudahnya tanggung jawab yang Ibu bebankan padamu, kau tetap lalai dan berbohong telah mengisinya dengan air wudhumu. Kau tidak sadar kalau dirimu masih dikelabui oleh kuantitas, bukan kualitas. Bukankah kau sering berpikir, yang penting gelas ini terisi, dengan air apapun toh aku tidak tahu. Nak... mungkin dirimu saat itu sedang dikuasai oleh rasa kantuk yang sangat besar sehingga kau hanya berjalan melewati gelas perak itu dan mengabaikan perintah Ibu”.

Ibu menatapku dalam. Sedang berusaha menancapkan pemahaman yang belum pernah kuterima di sekolah mana pun.

“Bahkan shalatmu itu hanya seperti gerakan-gerakan simbolis menyembah Tuhan. Hanya gerakan, tidak lebih, tidak kurang. Kau jalani semua shalat, yang sunnah yang wajib. Tapi, kenapa kau tidak kunjung juga merasa tentram, Nak? Itu karena kau hanya shalat, dan tidak sadar kalau kau benar-benar menghadap Tuhan saat itu.”

Aku mengangguk paham. Walaupun, sangat sedikit yang bisa kupahami dari semua penjabaran ibu padaku. Sama seperti setetes air dalam gelas itu. Yang penting terisi, begitulah anggapanku selama ini.

Kalau perumpamaan itu dipakai untuk kegiatan ibadah seperti shalat, berarti selama ini aku ‘yang penting salat’. Meskipun aku melakoni semuanya, baik sunnah maupun wajib. Namun, sepertinya aku hanya membuang-buang waktuku saja dengan kegiatan yang aku tidak benar-benar ada di dalamnya.

“Perkara gelas itu, kau tidak boleh lupa lagi mengisinya, Sen,” kata Ibu lantas melenggang pergi dari kamarku.



*/Penulis adalah Siswa SMAN 1 Dompu

Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.