Investasi Asing Pintu Penjajahan

Hot News

Hotline

Investasi Asing Pintu Penjajahan

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)

Oleh: Siti Subaidah*


Sebagai negara besar Indonesia tentu tak lepas dari keikutsertaan dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lain. Hal ini menjadi wajar ketika melihat begitu banyak potensi yang dapat diambil dan dikembangkan di Indonesia. Zamrut  khatulistiwa yang disematkan pada Indonesia mampu menarik minat negara-negara lain untuk melakukan kerjasama-kerjasama internasional.

Dahulu kerjasama internasional dibuat sebagai bentuk perdagangan atau lebih dikenal dengan ekspor dan impor menyangkut kebutuhan masyarakat. Namun seiring berkembangnya zaman dan semakin kompleksnya permasalahan baik itu dari sisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya bahkan hingga teknologi menjadikan pola kerjasama internasional semakin meluas dan semakin bervariasi bentuknya.

Penanaman Modal Asing (PMA) menjadi tren bisnis internasional saat ini. Penanaman modal atau investasi asing merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi perusahaan. Secara wacana investasi asing dikatakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Penanaman modal dengan cara membangun perusahaan atau pabrik diharapkan bisa menyerap tenaga kerja lokal dengan maksimal. Dengan mempekerjakan sumber daya manusia lokal, perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia bisa mengedukasi pekerja mengenai kualitas produk, teknologi produksi, dan etos kerja yang baik. Jadi, investasi bukan hanya dilakukan untuk kepentingan ekonomi demi menaikkan devisa negara tetapi juga membangun investasi intelektual bagi tenaga kerja.

Ibarat sihir, Indonesia pun ikut terbuai dengan manisnya investasi asing ini. Hal itu dibuktikan dengan semakin giatnya pemerintah membuka kran investor asing ke Indonesia. Ditahun 2018, menurut data realisasi investasi didominasi oleh PMA sebesar 55 persen sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri ( PMDN) hanya 45 persen. Selain itu hal ini pun semakin di perkuat dengan payung hukum yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan adanya kebijakan terkait kemudahan perizinan yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan dan beberapa fasilitas fiskal lainnya. Namun benarkah investasi asing ini berdampak pada kemajuan ekonomi terutama ekonomi rakyat?

Investasi Asing Hanya Menguntungkan Korporasi

Investasi asing dengan jalan bantuan dana langsung ataupun membangun sarana produksi seperti pembukaan lahan, pembangunan pabrik maupun kegiatan pertambangan  hanya akan menguntungkan pemilik modal. Hal ini semakin  terlihat manakala eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam dilakukan. Walaupun pemerintah berdalih hal ini akan menyerap tenaga kerja lokal namun dampak negatif jelas lebih banyak menyertai. Lihat saja bagaimana aktivitas tambang banyak meninggalkan lubang-lubang yang membahayakan masyarakat umum. Belum lagi potensi longsor akibat ketidakstabilan struktur tanah karena galian dan pencemaran lingkungan akibat limbah hasil produksi tambang yang membahayakan kesehatan masyarakat. Dari sisi upah pun tak dapat memberikan penampakan kesejahteraan yang signifikan bagi masyarakat bahkan banyak kasus buruh lokal yang dibayar murah oleh perusahaan asing.




Tak hanya itu, negara asing yang berinvestasi di Indonesia berusaha menguasai pasar dan menekan biaya produksi sehingga merusak harga pasar yang mengakibatkan matinya industri kecil rakyat. Begitu pula dengan fasilitas umum yang harusnya dinikmati gratis oleh masyarakat, sebagai akibat dari investasi asing maka kini beralih menjadi fasilitas berbayar karena harus memberikan keuntungan kepada pemilik modal. Hal yang lebih berbahaya adalah investasi membuka intervensi sehingga asing dapat ikut mengatur kebijakan negara. Hal ini terlihat dari banyaknya undang-undang yang menguntungkan korporasi atau pemilik modal ketimbang menguntungkan rakyat. Dari sini jelas alih-alih dapat meningkatkan ekonomi rakyat, justru membuat kesejahteraan masyarakat semakin terpuruk.

Investasi Jalan Masuk Penjajahan

Jerat investasi asing tak ubahnya gurita yang kian melilit kemandirian negara. Bahkan menyebabkan ketergantungan dan membuat negara berleha-leha serta lalai dalam mengoptimalkan potensi yang ada. Seolah-olah tak dapat membangun jika tak ada dana dari investasi. Padahal lewat investasi asing inilah penjajahan terbuka lebar baik dari penjajahan kekayaan alam maupun penjajahan pemikiran.

Di penjajahan sumber daya alam kita ketahui bersama bahwa sebagian besar kekayaan alam di Indonesia di kelola asing. Dimana Indonesia hanya mendapat sekian persen keuntungan dari hasil pengelolaan tersebut. Dengan kontrak kerjasama yang begitu panjang maka perampokan SDA besar-besaran terjadi. Apalagi jika investasi asing ini di sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak maka dapat dipastikan semua akan berujung pada komersialisasi yang akan semakin mencekik rakyat.

Penjajahan pemikiran pun tak terelakkan, arus deras pemikiran liberal (gaya hidup bebas) pun akan turut menginfeksi masyarakat terutama generasi muda yang cenderung labil. Seks bebas, narkoba, LGBT, dan penyakit masyarakat lainnya merupakan buah dari pemikiran liberal yang masuk lewat transfer budaya. Semua ini terjadi karena ketergantungan negara terhadap investasi asing hingga menggadaikan kemandirian negara dan merusak tatanan kehidupan masyarakat.

Islam Menjaga Kemandirian Negara

Islam menuntut negara agar mandiri tidak bergantung pada negara lain. Hal itu direalisasikan dengan pengoptimalan sumber daya alam yang dimiliki negara. Banyaknya kekayaan alam yang dimiliki suatu bangsa adalah potensi pendapatan yang luar biasa besar yang dapat membiayai pembangunan infrastruktur negara. Kita lihat, tidak ada tanah-tanah kaum muslimin yang tidak dianugerahi kekayaan alam oleh sang pencipta. Di Indonesia sendiri, dari berbagai sektor baik itu dari laut, pertanian, hutan, dan hal-hal yang ada di bawah perut bumi semuanya memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan negara jika dikelola dengan baik. Bahkan menjadi sumber pendapatan utama negara yang dapat membiayai pembangunan di segala sektor dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Hal ini membuktikan bahwa islam mampu menjaga kemandirian negara dengan segala mekanisme yang ia punya. Sehingga asing tak akan memiliki celah untuk menguasai kaum muslimin dan melakukan penjajahan didalamnya. Sebagainama firman Allah SWT
Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 141). Wallahu a'lam bishawab



*Penulis adalah seorang Pemerhati Lingkungan dan Generasi.


Editor: Mahesa Ibrahim

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.