Jembatan Penyeberangan Sudah Cukup, Tak Perlu Terowongan

Hot News

Hotline

Jembatan Penyeberangan Sudah Cukup, Tak Perlu Terowongan

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Mila Afiah,S.Pd


Maraknya isu intoleran antar umat beragama dan pembangunan terowongan yang disebut-sebut sebagai terowongan silaturahmi untuk menjadi icon yang menjembatani stigma intoleran di tengah-tengah masyarakat semakin memanas. Anggapan bahwa Islam sebagai agama yang intoleran dibuktikan bukti-bukti yang penuh kekonyolan. Seperti isu terorisme yang mengatasnamakan islam.

Rencana pembangunan terowongan (Masjid Istiqlal-Gereja Katedral) telah disambut baik oleh para pemuka kedua agama, yakni Islam dan Kristen. Nantinya, terowongan tersebut diproyeksi sebagai ikon toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Menurut Humas Masjid, dari sisi efektivitas pembangunannya terowongan ini dapat meningkatkan efisiensi di berbagai aspek.

Efesiensi yang pertama tentu saja dalam hal penyeberangan antar kedua tempat. Selama ini para jemaat Gereja Katedral sering menggunakan halaman parkir Masjid Istiqlal untuk memarkirkan kendaraan ketika hendak beribadat. Hal itu membuat para jemaat sering kerepotan untuk menyebrang karena harus memutar terlebih dahulu. "Jadi kalau lewat jalan biasa, itu muter itu para jemaat gereja. Jauh sekali. Jadi ada yang sudah tua, pakai tongkat, jalan muter-muter kan kasihan,” ungkapnya.

Makna Toleransi

Perlu kita fahami, makna dari toleransi ini apa. Toleransi secara bahasa berasal dari kata tolerance. Maknanya adalah ‘to endure without protest’, yang berarti menahan perasaan tanpa protes. Menurut Webster's New American Dictionary, arti toleransi adalah memberikan kebebasan dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain.
Kata tolerance kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi toleransi. Dalam KBBI, kata toleransi berasal dari kata toleran. Mengandung arti: bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya.






Dari sini kita melihat bahwa adanya kesamaan makna dari istilah toleransi baik dari pandangan kaum muslim maupun pengertian toleransi secara umum. Yang dapat ditarik garis besarnya adalah sikap yang membiarkan, lapang dada, dan menghargai adanya keberagaman. Seharusnya toleransi tidak sampai bablas tanpa ada rambu yang dapat memunculkan ide-ide toleransi yang intoleran dan tidak perlu diwujudkan. Seperti kasus hendak membuat jalur untuk mempermudah para jamaah yang berjalan. Mengapa tidak membuat jembatan penyebrangan saja dan kenapa harus lewat bawah tanah?

Toleransi Sesungguhnya Dalam Islam

Islam telah mengajarkan dan mewujudkan toleransi yang hakiki dan telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Islam memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain serta tidak memaksa non-muslim untuk memeluk Islam.

Rasulullah saw pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non-muslim, juga menghargai tetangga non-muslim. Negara Islam perdana di Madinah yang Rasul saw pimpin kala itu juga menunjukkan kecemerlangannya dalam mengelola keberagaman. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski mereka hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat non-muslim di sana mendapatkan hak-hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh jaminan keamanan, juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Perlakuan adil negara saat itu bukan sekadar konsep, tetapi benar-benar diaplikasikan. Bukan juga berdasar pada tuntutan toleransi ala Barat, melainkan karena menjalankan hukum syariat Islam. Wallahu'alam bish-showab.




Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.