Kampus Merdeka, Lingkaran Pendidikan Korporasi ?

Hot News

Hotline

Kampus Merdeka, Lingkaran Pendidikan Korporasi ?

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh : Hafla Azzahra


Baru baru ini Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Markarim meluncurkan program kebijakan bagi perguruan tinggi , program yang bertajuk “ Kampus  Merdeka ” yang merupakan kelanjutan dari konsep “ Merdeka Belajar ”, namun ketika dikritisi lebih lanjut program yang diusung Nadhiem  memiliki kebijakan yang semakin mengkokohkan pelaku komersialisasi ilmu dengan dibentuknya kaum intelektual lulusan perguruan tinggi yang di tuntut sebagai budak industri bukan sebagai tenaga ahli suatu keilmuan,  hal ini diperkuat dengan konsep kebijakan “Kampus Merdeka”,  yang dimana perusahaan multinasional ,startup, BUMN, sampai organisasi  dunia seperti PBB bisa berlomba lomba join rekrutmen dengan universitas untuk membentuk kurikulum  baru sesuai kebutuhan pasar  komersil,selain memberikan kebebasan membuka  prodi baru  bagi PTN dan PTS Nadhiem memberikan kebebasan pembaruan akreditasi sesuai kebutuhan kampus, mempermudah kampus negeri menjadi Badan  Hukum dan yang terakhir mahasiswa bisa magang 3 semester, dengan satu semester mengambil kuliah di luar prodi, sedangkan dua semester lain diperuntukan untuk program magang yang memberikan pengalaman dunia kerja bagi mahasiswa. Menurut Nadhiem seperti yang dikutip KBR, Jumat ( 24/01/2020).




 BACA JUGA : Islam dan Virus Corona



Jika kita preteli lebih jauh mengenai program kampus merdeka ini maka di poin pertama jika perguruan tinggi ingin bekerjasama dengan perusahaan lokal maupun internasional maka pihak perusahan diberikan wewenang untuk ikut terlibat dalam penyusunan kurikulum, hal ini memungkinkan kurikulum yang dibentuk akan menyesuaikan sesuai keinginan pasar, disamping itu kebebasan akreditasi bagi PTN ataupun PTS tidak perlu menunggu waktu lama dan bisa diproses lebih cepat semakin mempermudah korporasi untuk memberikan penilaian sesuai kebutuhan. Perubahan status kampus menjadi PT-BH merupakan puncak keberhasilan suatu kampus, namun ketika hal ini terjadi  akan semakin memperkuat otoritas kampus dalam menentukan kebijakannya, pemerintah menjadi lepas tangan, sehingga beban pendidikan akan semakin dilimpahkan terhadaap PT dan mahasiswalah yang menjadi korban, sehingga manisnya PT akan dirasakan orang orang tertentu karena besarnya beban pendidikan, dan memicu kesenjangan dikalangan masyarakat sendiri, program 3 semester magang,penelitian,proyek kemanusiaan ataupun wirausaha merupakan bukti manisnya koorprasi menjadikan mahasiswa menjadi tenaga industrialisasi, disebabkan disini mahasiswa dituntut mengabdi dengan dalih mencari pengalaman industri.

Dengan munculnya kebijakan ini semakin mempermudah para korporasi menguasai kampus, hal ini akan sangat membahayakan bagi tujuan pendidikan kita, bisa saja hal ini menggeser tujuan pendidikan dari mendidik dan membentuk intelektual  berubah menjadi sarjana tukang/ orientasi pekerjaan,  selain itu kampus tidak lagi memiliki indenpendensinya karena harus mengikuti pasar, demi mengurangi tingkat pengangguran kampus rela mengikuti industri dan badan usaha lainnya, ini menunjukkan semakin tertekannya kampus dengan dunia korporasi. Maka semakin jelas upaya upaya liberalisasi pendidikan ke tangan korporasi, lalu bagaimana peradaban kita kedepan apakah akan muncul seorang pemimpin atau pemimpin korporasi? Sesungguhnya yang kita butuhkan adalah sosok pemimpin yang benar benar ikhlas mengurusi umat, namun apakah hal ini akan muncul dengan lingkaran pendidikan korporasi?.



Editor : Mahesa

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.