Kampus Merdeka vs Kampus Melejitkan Peradaban

Hot News

Hotline

Kampus Merdeka vs Kampus Melejitkan Peradaban

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh: Lisa Satryana*


Kampus adalah lembaga Pendidikan Tinggi dengan tujuan untuk memenuhi aspirasi masyarakat dalam pendidikan, menghidupkan generasi hebat dengan ketinggian ilmu dan kreativitas, dan memastikan pembangunan dan riset untuk menjaga dan melayani kebutuhan umat.

Sejalan dengan dunia yang kini telah dan sedang berjalan memasuki era Revolusi Industri 4.0 atau yang dikenal dengan RI 4.0, dengan perkembangan tekhnologinya yang semakin canggih dan tuntutan akan kebutuhan tenaga kerja yang handal semakin besar. Tentu saja ini menjadi tantangan bagi setiap negara agar tidak ketinggalan.

Begitu pula dengan Indonesia. Menteri perindustrian mengajak perguruan tinggi di Indonesia agar berperan strategis dalam memasuki era perubahan RI 4.0. Jadi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim baru saja mengeluarkan kebijakan baru dengan harapan sebuah perubahan. Program tersebut di beri tajuk Kampus Merdeka, setelah Nadiem Makarim meluncurkan kebijakan sebelumnya tentang merdeka belajar.

Dalam kebijakan Kampus Merdeka Nadiem Makarim merekomendasikan 4 program. Pertama, perguruan tinggi bebas membuka program studi baru apapun sesuai kebutuhan pasar, bermacam-macam lembaga multinasional, Start Up bahkan BUMN bisa join kurikulum ke strukturan.






Kedua, perubahan sistem akreditasi perguruan tinggi. Ketiga, perguruan tinggi negeri bisa dengan mudah merubah status hukum menjadi badan Hukum PT-BH. Dengan keberadaan kampus yang sudah memiliki badan hukum, kampus bisa melakukan pengaturan sendiri, sehingga bisa melakukan kerja sama langsung dengan para kapital/Industri ini  membuktikan bahwa pemerintah lepas tangan sebagai penyelenggara jaminan pendidikan.

Keempat, Mahasiswa diperbolehkan mengambil 3 mata kuliah di luar prodi diperuntukkan untuk magang, penelitian yang bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa. Alhasil, program pendidikan ini kemudian menuntut peserta didik belajar dan berfikir menghasilkan uang dalam waktu yang bersamaan.

Nah, tak ketinggalan salah satu Perguruan Tinggi di Indonesia, tepat pada tanggal 26 Januari 2020 Rektor UGM juga mengabarkan Bahwa UGM siap melakukan penyesuaian dan pembenahan agar tujuan kampus merdeka tercapai dengan baik. Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng, IPU, ASEAN Eng., menjelaskan kebijakan kampus merdeka merupakan pola baru sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi Indonesia.

Dengan demikian, akan ada banyak hal yang harus dibenahi dan disesuaikan mulai dari kurikulum, dosen, sistem informasi dan lain sebagainya. “Saya berharap UGM menjadi leader dan trendsetter transformatif pembelajaran 4.0,” Ucap Panut, Minggu (26/1).

Benarkah kemerdekaan kampus akan dihasilkan dengan program kampus merdeka? Nyatanya, program ini justru semakin menampilkan watak asli bagaimana pengelolaan Pendidikan Tinggi di negeri ini. Ya, apalagi jika bukan dari sistem kapitalis-sekuler Ini, program pendidikan yang seharusnya mencetak generasi hebat dengan ketinggian ilmu dan kreativitas serta memastikan pembangunan dan riset untuk menjaga dan melayani kebutuhan rakyat.

Namun, pada faktanya justru dalam sistem kapitalis generasi dicetak menjadi budak-budak Industri dengan melakukan kerjasama terhadap kampus dan Mahasiswa untuk menjadi SDM yang unggul tetapi dengan tujuan supaya terserap pasar industri. Lagi-lagi standar kebahagiaan hanyalah materi, materi dan materi buah dari sistem kapitalisme-sekuler-liberal.

Mengerikan jika tujuan pelajar semuanya diarahkan hanya untuk mengisi kekosongan-kekosongan Industri. Orientasi pendidikan tinggi bukan lagi untuk menghasilkan Intelektual yang menjadi tulang punggung perubahan menuju kemajuan, bukan lagi menjadi sosok yang menyelesaikan permasalahan masyarakat dengan Ilmu dan Inovasinya bagi kepentingan publik. Namun perguruan tinggi hanya menjadi mesin pencetak tenaga terampil bagi kepentingan Industri/kapitalis.

Pendidikan saat ini, di negeri-negeri kaum muslimin termasuk Indonesia, berjalan dalam arahan kepentingan pemegang peradaban sekuler. Tidak berjalan berbasis kebutuhan umat. Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan sistem pendidikan dalam Islam. Dimana fungsi pendidikan yang strategis dalam membangun peradaban sebuah bangsa dan umat, maka pendidikan merupakan visi negara, modal awal untuk pembangunan sebuah peradaban.

Jadi, dalam membangun peradaban bangsa yang luhur, juga harus dibangun pendidikan yang luhur pula. Islam sejak diturunkan telah memberikan perhatian penting pada pendidikan. Karena dari pendidikan inilah lahir peradaban gemilang, asas pendidikannya pun dibangun berdasarkan Akidah Islam. Seluruh mata pelajaran terintegrasi ke dalam Iman dan Islam.

Islam sangat memprioritaskan pendidikan. Karena kebijakan pendidikan adalah pembentukkan sistem berfikir dan kejiwaan kepada peserta didik. Pengelolaan pendidikan tinggi dalam Islam di rancang untuk mengoptimalkan potensi Intelektual untuk kemanfaatan umat bukan melayani kepentingan korporasi apalagi menjadi antek negara lain.

Sehingga upaya sadar, terstruktur, tersistematis untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan, tekhnologi, dan iptek dan memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna. Kurikulum harus di sesuaikan dengan Aqidah Islam sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang bukan hanya handal ilmu dunianya saja tetapi juga faqih fiddin.

Sistem pendidikan Islam memiliki tujuan yang jelas, mencakup pengaturan kurikulum sehingga mencetak generasi pemimpin bukan budak, tidak terpengaruh dan dipengaruhi oleh kepentingan kapital/Industri. Maka sudah seharusnya Islam menjadi satu-satunya pilihan untuk menuju sebuah perubahan peradaban.

Islam mampu menjawab persoalan kualitas generasi, bahkan mendorong terwujudnya peradaban yang paling mulia nan agung. Dimana adanya sistem komando yang terintegrasi secara global yang peranannya secara politik sejalan dengan peranan agama sangat dibutuhkan untuk memecahkan kebuntutan dan kebekuan problem pendidikan negeri saat ini. Sudah seharusnya kita mengambil Islam sebagai solusi fundamental.

Dengan demikian, Khilafah akan membangun pendidikan tinggi kelas dunia, menghidupkan kembali generasi besar intelektualitas dan kreativitas, serta membuat langkah besar dalam pengembangan dan penelitian. Penerapan sistem pendidikan berbasis Islam hanya bisa terwujud dalam bingkai negara Khilafah Islam. Bukan negara kapitalis-sekuler-liberal. Dan hanya Khilafah yang mampu menjawab tantangan pendidikan dimasa depan.

Oleh karena itu, manipulasi yang dilakukan oleh peradaban Barat terhadap pendidikan tinggi di negeri-negeri muslim harus dihentikan. Saatnya membawa kembali Khilafah untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Wallahu’alam Bish-awwab.


*/Penulis adalah Mahasiswi Aktivis Universitas Islam Negeri Jember

Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.