Kata Si Doi, Agama Musuh Terbesar Pancasila

Hot News

Hotline

Kata Si Doi, Agama Musuh Terbesar Pancasila

(Ilustrasi/Mahesa- www.dapurpena.com )


Oleh: Jusniati Dahlan*


Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, tengah menjadi sorotan publik terkait pernyataannya. Agama adalah musuh terbesar pancasila. Selang beberapa waktu berikutnya ia segera mengklarifikasi pernyataanya tersebut. Agama yang dimaksud bukanlah agama secara keseluruhan, tetapi mereka yang mempertentangkan agama dengan pancasila. Ia meralat ucapannya bahwa dari segi sumber dan tujuannya pancasila itu religius dan agamis.

Pernyataan ‘agama adalah musuh terbesar pancasila’ dari mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu memantik reaksi luas masyarakat. Membandingkan pancasila dengan ideologi Islam saja sudah sangat keliru, apalagi menganggap agama sebagai musuh besar NKRI. Ini jelas merupakan tuduhan yang keji. Klarifikasi yang ia sampaikanpun terlihat jelas sangat bertele-tele dan membingungkan.

Sama seperti membingungkannya para menteri dan elit politik kerja Jokowi. Contohnya Moeldoko. Ia meminta semua pihak terkait tidak menyalahkan peryataan ketua BPIP Yudian. Ia berkeyakinan, Yudian adalah orang yang pintar dan agamanya tinggi. Pasti pendapatnya penuh pertimbangan dan pikiran yang jernih. Diperparah Menteri Agama, Fahrul Razi. Ia juga ikut angkat suara dan memberikan dukungan kepada kepala BPIP tersebut. Bahwa Yudian tidak bermaksud menyampaikan pertentangan antara agama dan pancasila. Justru Yudian menyampaikan bahwa pancasila didukung oleh para ulama dan sama sekali tidak bertentangan dengan agama.






Sikap para elit politik ini, sungguh disayangkan. Tidak hanya sekali dua kali mereka berulah dan mengambinghitamkan Islam. Cuitan-cuitan mereka sering membuat masyarakat resah dan dilema. Mereka saling membela demi urusan perut dan jabatan.

Dalam sistem sekuler, sudah biasa dijumpai sebuah wacana yang mempertentangkan agama dengan sesuatu yang lain. Bagi rezim, agama harus dipisahkan dari lini kehidupan. Bahkan sempat heboh beberapa waktu lalu adanya wacana memata-matai majelis taklim di masjid-masjid. Dikerahkannya polisi masjid. Alhasil, masyarakat jadi ngeri-ngeri sedap.

Tak kalah menarik. Wapres Ma’ruf Amin mewajibkan setiap khatib memiliki sertifikat da’i dan khatib harus memiliki komitmen kebangsaan karena posisinya sebagai penceramah akan sangat berpengaruh kepada cara berpikir, bersikap, dan bertindaknya umat Islam. Selain itu, khatib juga harus memiliki komitmen kebangsaan ditengah merebaknya ajaran-ajaran radikal dikalangan umat Islam. Ma’ruf menekankan cermah agama yang disampaikan para khatib di setiap ibadah shalat Jumat harus memuat nilai-nilai pancasila dan prinsip NKRI.

Sikap pemerintah ini menjadikan umat Islam Indonesia menjadi tidak mampu menjalankan ajaran Islam secara keseluruhan. Pemerintah cenderung selalu menjadikan Islam sebagai musuh negara, sebaliknya umat Islam Indonesia meminta penyelesaian problematika mereka diselesaikan dengan hukum syara’.

Ma’ruf menambahkan pula, para da’i tidak boleh menyampaikan narasi konflik dan permusuhan. Pernyataan ini nampak sangat tendensius. Makna narasi konflik dan permusuhan dari pemerintah ini sangatlah tidak jelas. Apakah sikap kritis terhadap segala kebijakan penguasa yang menzholimi rakyat termasuk narasi konflik dan permusuhan? Hmmm......

Telah nampak kerusakan yang berimbas pada rakyat. Pengaturan ekonomi dengan sistem ribawi, pendidikan yang semakin mahal namun tidak melahirkan generasi yang gemilang, jaminan kesehatan yang semakin membuat rakyat menjerit, bahkan sampai adanya strata sosial yang memisahkan si miskin dan si kaya.

Dalam pernyataan Ma’ruf dilain kesempatan, sistem khilafah yang menerapkan Islam sebagai ideologi bernegara, secara otomatis sudah tertolak di Indonesia. Karena negara Indonesia sudah menyepakati Pancasila sebagai ideologi bangsa. Nampaknya rezim ini semakin phobia dengan kerinduaan umat Islam akan tegaknya kehidupan Islam yang kaffah di negeri ini. Berbagai cara mereka lakukan demi terhambatnya penegakan khilafah. Pun para penentang khilafah begitu semangat tiada letih mencaci. Akal mereka tidak mampu menjangkau kebaikan khilafah. Padahal khilafah membawa keberkahan karena kekhilafahan adalah sistem yang diwajibkan oleh Allah SWT yang pastinya baik untuk seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita mewaspadai adanya rencana busuk rezim menjauhkan umat dari ajaran agama Islam, ajaran Rasulullah saw. Yakni dibalik narasi-narasi provokatif bin sesat mereka yang hanya mengandalkan akal manusia. Janganlah goyah meski rintangan menghadang. Janganlah mundur meski banyak suara-suara riuh mengucilkan. Sebab, jika hidup bukan untuk dakwah, lalu untuk apa? Kemenangan Islam tidak dilihat dengan mata, namun dengan keyakinan. Wallahu a’lam bish-shawab.



*/Penulis adalah Aktivis Muslimah Majelis Birul Dakwah dan Anggota AMK

Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.