Perlukah Terowongan Silaturahmi Antar Umat Beragama?

Hot News

Hotline

Perlukah Terowongan Silaturahmi Antar Umat Beragama?

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh : Suci Tiasari Kaputri*


Toleransi itu tidak perlu mencampuradukan semua agama menjadi satu. Toleransi itu cukup dengan menghormati, menghargai, dan tidak memaksakan seseorang untuk masuk ke agama tertentu.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membangun terowongan bawah tanah guna menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang lokasinya berhadapan langsung. Usulan pembangunan terowongan ini muncul di tengah proyek renovasi Masjid Istiqlal yang ditinjau Jokowi pada Jumat (7/2) lalu.

Pembangunan terowongan itu sendiri sebelumnya tidak ada di rancangan awal renovasi masjid yang diklaim terbesar se-Asia Tenggara itu. Renovasi hanya meliputi bagian interior dan sejumlah bagian eksterior masjid yang di antaranya meliputi sungai, taman, dan lahan parkir. Namun, usulan pembangunan terowongan kemudian muncul di tengah proyek yang ditargetkan rampung April mendatang. Pembangunan tersebut digadang-gadang pemerintah sebagai bentuk dari silaturahmi, kebersatuan, dan toleransi antar umat beragama.

Hal ini pun lantas menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Salah satunya dari Wakil Ketua Umum MUI, KH Muhyiddin Junaidi yang dengan tegas menolak pembangunan terowongan tersebut. Ia sependapat dengan sikap Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang menolak perihal rencana pembangunan terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta Pusat itu.

Toleransi dalam Islam

Benarkah Indonesia darurat toleransi agama? Sehingga, seolah-olah pembangunan terowongan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral dijadikan sebagai ikon agar umat islam makin bertoleransi.






Pada faktanya kerukunan antar umat beragama di Indonesia sudah berjalan dengan baik, sehingga pembangunan terowongan Istiqlal-Katedral tidak urgensi untuk dikontruksi. Rencana pembangunan terowongan silaturahmi ini akan menjadi hal yang sia-sia dan hanya akan menghabiskan uang negara semata. Seperti kita ketahui bersama, saat ini perkembangan ekonomi Indonesia sedang merosot tajam dan banyak rakyat yang masih kelaparan.


Tahukah anda? Islam telah mengajarkan dan memperagakan toleransi dengan begitu luar biasa sejak masa Rasulullah saw. Islam memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain. Tidak memaksa non-Muslim untuk masuk Islam dan sebaliknya.

Rasul saw pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim, menghargai tetangga non-Muslim, dan sebagainya. Negara Islam perdana di Madinah yang Rasul saw pimpin kala itu juga menunjukkan kecemerlangan beliau dalam mengelola keberagaman masyarakat. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski Nasrani dan Yahudi hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat non-Muslim tersebut mendapatkan hak-hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh jaminan keamanan, juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Sesama pemeluk agama Islam sendiri, Islam mengajarkan bahwa penyimpangan hal pokok (ushul) dalam Islam tidak boleh ditoleransi, tetapi wajib diluruskan. Namun, perbedaan dalam cabang (furu’) harus dihargai dengan jiwa besar dan lapang dada.

Perlakuan adil Islam terhadap non-Muslim bukan sekedar konsep, tetapi benar-benar diaplikasikan. Bukan juga berdasar pada tuntutan toleransi ala Barat, melainkan karena menjalankan hukum syariah Islam. T.W. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menulis, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan kepada mereka. Perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.” Arnold kemudian menjelaskan, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Ottoman, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…Kaum Protestan Silecia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… Kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.

Berdasarkan penjelasan tersebut jelas bahwasanya sejak dahulu Islam sangat toleransi terhadap agama lain. Meskipun demikian, toleransi dalam Islam tidak berlaku dalam perkara akidah. Islam tidak akan pernah mengakui kebenaran agama dan keyakinan selain Islam. Seluruh keyakinan dan agama selain Islam adalah kekufuran. Demokrasi, pluralisme, sekularisme, liberalisme, dan semua paham yang lahir dari paham-paham tersebut adalah kufur. Kemudian juga tidak ada toleransi dalam perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil qath’i, baik menyangkut masalah akidah maupun hukum syariah.

Dengan begitu pembangunan terowongan ini tidaklah perlu dilakukan jika hanya untuk dikait-kaitkan menjadi hal toleransi umat beragama. Sejatinya, pembangunan terowongan antara Istiqlal dan Katedral ini semakin memperlihatkan keberpihakan pemerintah pada liberalisasi beragama. Pemerintah semakin menggencarkan pluralisme agama dengan kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Hal ini pun tentu bisa membuat semakin maraknya kebijakan dan kampanye pluralisme agama.

Pemerintah berusaha menyamakan semua agama dengan berbagai kebijakan yang mereka buat. Doktrin pluralisme (suatu paham yang mengajarkan semua agama sama) begitu kuat di negeri ini. Jelas hal ini sangat berbahaya karena bisa menyesatkan umat Islam dengan pencampur adukan antara haq dan batil. Wallohua'lam bishowab



*/Penulis adalah seorang Aktivis Dakwah Cikarang

Editor : Mahesa Ibrahim

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.