PHK Massal Di Era Disrupsi

Hot News

Hotline

PHK Massal Di Era Disrupsi

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh. Tantri*


Zaman semakin berkembang sangat pesat. Daya saing serta tantangan menjadi jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Zaman ini disebut era disrupsi. Apakah yang dimaksud dengan era disrupsi atau teknologi industri 4.0 itu?

Secara bahasa discruption artinya gangguan, kekacauan atau masalah yang mengganggu suatu peristiwa, aktivitas atau proses (disturbance or problem which interupt an event, activity or process). Disrupsi dapat diartikan pula sebagai pergeseran fundamental aktivitas masyarakat, dari aktivitas nyata menuju aktivitas maya. Disrupsi diawali dan didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat sehingga memudahkan segala aktivitas manusia. Dampak pesat teknologi inilah yang melahirkan revolusi digital (revolusi industri 4.0).

Teknologi telah mengubah wajah dari seluruh aktivitas kehidupan manusia. Mulai dari gaya hidup, media komunikasi, seni dan hiburan, transportasi, pendidikan bahkan dunia industri. Rasulullah saw pernah memberi dua dirham kepada seseorang, kemudian beliau berkata, “Makanlah dengan satu dirham, dan sisanya belikanlah kapak, lalu gunakanlah ia untuk bekerja”. Berdasarkan hal ini, negara tidak sebatas wajib membuka lapangan pekerjaan, negara juga wajib menyediakan sarana dan prasarana, serta modal usaha yang diambil dari Baitul Mal. Modal diberikan secara cuma-cuma dan tanpa harus dikembalikan, apalagi dengan sistem pinjaman ribawi seperti yang kita saksikan sehari-hari.





Pemberian harta oleh negara kepada warganya tanpa kompensasi apapun ini dikenal dengan konsep i’tha’ daulah. Bentuk yang diberikan bisa berupa lahan pertanian, benih dan bibit, modal uang, harta yang langsung dimanfaatkan seperti sarana produksi traktor, mesin bubut, sarana perdagangan lapak di pasar, dan sebagainya. Bagi warga negara yang belum cukup keterampilan maka negara menyelenggarakan penyuluhan dan pelatihan sampai mereka memiliki skill yang cukup untuk bekerja, tanpa dibatasi waktu tertentu. Semuanya diberikan secara gratis tanpa pungutan.

Dalam kultur masyarakat umumnya, status sosial seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jabatan maupun popularitas. Namun seiring berjalannya waktu, eksistensi sosial ini bergeser perlahan ke ranah digital yang mampu menghasilkan generasi eksis secara parameter sosial.

Perubahan digitalisasi dan internet of thing ini pun berpengaruh pada aktifitas lainnya. Media komunikasi juga ikut mengalami perubahan. Media cetak berubah menjadi media online atau situs berita, surat-menyurat berganti dengan whatsapp, begitu pula sarana yang kian mudah. Dulu orang harus bersusah payah mencari ojek di pangkalan atau menunggu ojek yang lewat, kini hanya dengan memesan melalui online (ojek online). Bahkan mobil taksi konvensional (taksi argo) berubah menjadi taksi online.

Dunia pendidikan pun sama. Belajar sekarang bisa secara online karena sudah ada media yang menyajikan belajar sedemikian. Siswa  dapat bertanya dan mencari solusi atas pekerjaan sekolahnya melalui aplikasi tersebut. Meski begitu, dampak yang ditimbulkan adalah penjelasan guru serasa tidak dibutuhkan lagi oleh siswa. Siswa jadi malas belajar di sekolah yang akhirnya hubungan guru dengan murid terasa hambar.

Kemajuan teknologi yang pesat dapat juga mengubah peran manusia secara digital. Maka, hal ini akan sangat jelas berdampak bagi umat manusia. Salah satunya, PHK massal oleh perusahaan terhadap karyawannya dengan dalih efektifitas dan efisiensi.

Data BPS menunjukkan jumlah populasi Indonesia terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2015 lalu, penduduk Indonesia berjumlah 255 juta jiwa dan diprediksi akan bertambah menjadi 271 juta jiwa pada  tahun 2020 bahkan bertambah 305 juta jiwa pada tahun 2035 nanti. Bila kondisi ini dibiarkan, apalagi ditambah potensi berkurangnya lapangan pekerjaan akibat disrupsi teknologi, bonus demografi ini akan menjadi masalah yang sangat besar. Lapangan pekerjaan akan semakin sempit, daya saing antar individu semakin ketat, serta dampak lanjutannya adalah tingkat pengangguran akan semakin tinggi.

PHK massal sudah diprediksi sebagai dampak dari era disrupsi dan tren digitalisasi ini. Tetap saja, pemerintah tidak antisipatif terhadap hal ini. Rakyat hanya menjadi korban rezim yang latah mengadopsi tren global tanpa memikirkan bagaimana nasib rakyat selanjutnya dan tidak memiliki solusi dari masalah tersebut. Dan itu menegaskan lemahnya kedaulatan politik dan ekonomi negara. Revolusi industri 4.0 menciptakan sistem ekonomi baru yang dikenal sebagai kapitalisme industri.

Sesuatu yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri, tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Anak-anak menjadi remaja, remaja menjadi dewasa, menua lalu mati. Yang awalnya bagus menjadi biasa saja, kemudian berubah menjadi rusak dan akhirnya hancur. Begitulah sifat alam fana ini. Perubahan adalah kemestian. Bagi yang tidak siap berubah, maka akan digulung oleh perubahan. Islam memandang bahwa perubahan adalah keniscayaan. Karenanya, Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam disebut "shalihun likulli al-zaman wa al-makan," artinya cocok bagi umat di setiap era dan di tempat (daerah). Sebab di dalamnya terkandung nilai-nilai universal yang tidak akan pernah usang ditelan zaman.

Pandangan khas Islam terhadap kebutuhan asasi warga negara ini bukan saja meliputi kebutuhan dasar (community primary needs) seperti papan, sandang, dan pangan. Namun, juga kesehatan, pendidikan, dan keamanan yang bersifat komunal juga termasuk kebutuhan dasar. Dengan paradigma yang sama terhadap kedua jenis kebutuhan tersebut, maka negara sebagai penanggung jawab urusan rakyat (riayah su’un) wajib menerapkan mekanisme yang berbeda dalam pemenuhannya.

Negara Islam seperti yang telah dicontohkan Rasulullah saw bertanggung jawab untuk memampukan setiap warganya dalam memenuhi kebutuhan dasar individu ini secara tidak langsung. Tepatnya, kewajiban bekerja bagi laki-laki sebagai kepala keluarga. Oleh sebab itu, syariat memberi tugas kepada negara agar dapat mengadakan pembukaan lapangan pekerjaan seluas-luasnya disertai usaha yang kondusif. Wallohu a'lam.



*/Penulis adalah aktivis dan pemerhati masyarakat Cikarang

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.