Terowongan Silaturahmi Bukti Pluralisme Masih Menjangkiti

Hot News

Hotline

Terowongan Silaturahmi Bukti Pluralisme Masih Menjangkiti

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST


Ada yang menarik saat Presiden Joko Widodo meninjau proyek renovasi Masjid Istiqlal Jakarta pada hari Jum’at (7/2). Dilansir dari suara.com (8/2), Presiden Joko Widodo telah menyetujui pembangunan terowongan dari Masjid Istiqlal ke Katedral yang selanjutnya disebut sebagai terowongan silaturahmi. Presiden Joko Widodo mengatakan, terowongan itu menunjukkan bahwa kedua kelompok pemeluk agama tidak saling berseberangan (kompas.tv). Bahkan menurut Wakil Kepala Humas Masjid Istiqlal, Abu Hurairah, ketika dihubungi (7/2) menegaskan terowongan tersebut nantinya diproyeksi bakal menjadi ikon toleransi di Indonesia (republika.co.id).

Tak berselang lama wacana tersebut menuai penolakan dari sejumlah tokoh mulai dari politikus hingga aktivis. Mencuplik dari suara.com (8/2), setidaknya ada lima tokoh yang telah menyampaikan penolakannya. Pertama, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain merasa pembangunan terowongan tersebut tidak terlalu berguna. Sebab menurutnya, jarak antara dua tempat ibadah sangatlah dekat. Kedua, Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyandingkan pembangunan terowongan silaturahmi dengan kasus intoleransi yang terjadi di tanah air. Menurutnya, intoleransi tidak akan selesai dengan terowongan. Sebab, terowongan tersebut semata-mata hanya simbolis.

Ketiga, Politikus Partai Demokrat lainnya juga memiliki pendapat yang sama dengan Ferdinand. Zara Zettira merasa anggaran untuk pembangunan terowongan silaturahmi justru lebih penting dipakai untuk program lainnya. Seperti menggaji guru madrasah. Keempat, Penolakan dari Dandhy Dwi Laksono. Sutradara, aktivis, dan jurnalis ini berpendapat kerukunan antar umat beragama tidak dibangun dari proyek infrastruktur. Terakhir, bos Charta Politika Yunarto Wijaya juga menyebut terowongan silaturahmi yang disetujui Jokowi hanyalah bersifat infrastruktur simbolik.

Pembangunan terowongan silaturahmi ini patut diwaspadai sebagai agenda memoderasi Islam. Pasalnya, selama ini yang diaruskan adalah Islam sebagai agama yang rentan menjadi perusak kerukunan antar umat beragama. Tentu bukan semua golongan umat Islam yang dimaksud. Yang menjadi pihak tertuduh adalah Islam yang mereka nilai radikal. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa label radikal itu disematkan oleh sekelompok orang agar golongan umat Islam yang menghendaki penerapan Islam dalam sistem kehidupan dicekal. Sekelompok orang itu bisa saja pemerintah kita sendiri yang sudah dicekcoki pemikiran kaum Barat. Mereka menilai Islam itu radikal dan tidak terbuka dengan keberagaman agama sebab pemeluk Islam hanya meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar.




Dengan pembangunan terowongan ini maka sekelompok itu mengharapkan dapat terciptanya pandangan bahwa umat Islam menerima keberagaman agama di Indonesia. Namun, dalam artian menganggap semua agama benar dan kebenaran setiap agama adalah relatif (pluralisme).

Allah swt melalui ajaran Sang Nabi saw menentang hal ini. Dalam Islam telah jelas bahwa secara i'tiqady (landasan keimanan) seorang muslim haruslah meyakini bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar. Jika telah meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, maka sudah tentu selain Islam tak dapat dibenarkan. Hal ini dilandaskan pada firman Allah yang artinya:

Siapa saja yang mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (TQS. Ali-Imran: 85).

Islam tak menafikan adanya pluralitas (keberagaman dalam artian umum). Karena adanya keberagaman pun merupakan sunnatullah seperti yang tertera dalam firman-Nya:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (TQS. Al-Hujurat: 13).

Justru menjadi kebablasan apabila pluralitas hanya mengarah pada pluralisme. Muhammad Chairul Anam dalam bukunya yang berjudul “Cinta Indonesia Rindu Khilafah” menyatakan bahwa konsep pluralisme yang mengajarkan semua agama benar sebetulnya ajaran yang penuh kepura-puraan.

Dimata para penganut pluralisme yang beragama Islam, mereka tetap menganggap Islam itu benar. Namun mereka khawatir terjadi konflik sehingga mereka mengatakan semua agama adalah benar. Sungguh disayangkan jika untuk menghindari konflik antar umat beragama harus dengan menyatakan bahwa semua agama benar. Hal ini akan menimbulkan keraguan dalam diri seorang muslim bahwa Islam bukanlah satu-satunya agama yang benar.

Islam telah memberikan tuntunan yang jelas bagaimana cara agar kerukunan antar umat beragama itu terwujud bukan hanya secara simbolik tetapi benar-benar terealisasi dalam kehidupan. Yakni dengan memberikan kebebasan bagi non-muslim untuk memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinannya.

Begitu pula sebaliknya, umat Islam juga diberikan kebebasan untuk memeluk Islam dan beribadah sesuai dengan keyakinannya itu. Hal ini telah Allah firmankan dalam Surah Al-Kafirun, lakum diinukum waliyadiiin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Maka usaha untuk mencampur adukkan antara yang haq dan bathil semisal dengan pembangunan terowongan silaturahmi tidak seharusnya dilakukan. Karena apa? Islam tidak butuh diselaraskan dengan agama yang lain agar dapat disebut agama toleran. Akan tetapi, cukup dengan menghormati pemeluk agama selain Islam dalam menjalankan ibadah mereka masing-masing. Wallahua'lam bish-shawab.



*/Penulis adalah seorang Aktivis Muslimah

Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.