Virus Corona Menyingkap Tabir TKA dan Impor Unfaedah

Hot News

Hotline

Virus Corona Menyingkap Tabir TKA dan Impor Unfaedah

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh. Kunthi Mandasari


Virus Corona semakin hangat diperbincangkan. Penyebarannya kian meluas ke berbagai negara, termasuk di Indonesia. Namun ada hikmah dibalik kabar tersebut. Mencuatnya Virus Corona menyingkap tabir yang sebelumnya tertutup rapat.

Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, berbagai sanggahan muncul atas tudingan adanya TKA asal China. Kini dengan beredarnya virus Corona telah mengkonfirmasi sejumlah TKA asal China. Dilansir dari liputan6.com, 28/01/2020, data Nakertrans,  ada sebanyak 5.390 pekerja asal China yang ada di kawasan PT IMIP. Mereka tersebar di 17 perusahaan sub kontraktor di kawasan tersebut.

PT IMIP sendiri sejak 25 Januari 2020 telah mengumumkan untuk menghentikan sementara rekrutmen pekerja dari seluruh daerah di China dan melakukan pemeriksaan kesehatan ketat terhadap seluruh pekerjanya yang berjumlah 30.000 orang. Selain itu, terungkap pula jika selama ini ada impor kera dan ular dari China.

Sebagaimana dilansir dari kumparan.com, 05/02/2020, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diterima kumparan, Rabu (5/2), China mengirim 1,21 ton hewan primata sepanjang Januari-Desember 2019. Nilainya mencapai USD 898.372 atau sekitar Rp12,3 miliar (kurs Rp13.700 per dolar AS). Impor tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama 2018 sebanyak 1,1 ton atau sekitar USD 205.730.






Tak hanya itu, China juga mengirim hewan reptil hidup ke Indonesia sebanyak 18,18 ton atau senilai USD 215.968 sepanjang tahun lalu. Angka ini pun melonjak dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018 sebanyak 11,67 ton atau senilai USD 120.444. Tentu kabar ini semakin membuat publik meradang. Kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat sasaran.

Di tengah 22 juta orang yang masih mengidap kelaparan, ternyata jumlah pengangguran tak juga berkurang. Dilansir dari cnnindonesia.com, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia naik 50 ribu orang per Agustus 2019. Alhasil dengan kenaikan tersebut, jumlah pengangguran meningkat dari 7 juta orang pada Agustus 2018 lalu menjadi 7,05 juta orang.

Kendati jumlah pengangguran naik, tetapi Suhariyanto mengklaim Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2019 mencapai 5,28 persen. Pengangguran terbuka tersebut turun dibanding Agustus 2018 yang mencapai 5,34 persen. Adapun tren pekerjaan formal dari Agustus 2018-Agustus 2019 meningkat 1,12 persen.

Suhariyanto menyebut penduduk yang bekerja paling banyak berstatus buruh, yakni 51,66 juta orang. Sehingga tak heran jika masih ada banyak jumlah kelaparan. Jika tren pekerjaan yang ada adalah sebagai buruh yang upahnya masih pas-pasan. Sedangkan pekerjaan yang layak hanya dikuasi oleh segelintir orang.

Pemberian pekerjaan terhadap TKA dan adanya impor unfaedah menjadi bukti nyata, bahwa negara berparadigma kapitalis telah salah kelola. Bukannya memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyat yang tengah dihimpit berbagai kebutuhan hidup, peluang lapangan pekerjaan justru disodorkan pada tenaga asing. Bukan lagi pada tataran pekerjaan profesional, tetapi juga pada pekerjaan kasar.

Sehingga tak heran, jika masih ada banyak orang yang mengalami kelaparan. Dampak dari sulitnya mencari penghidupan yang memang telah dirancang melalui berbagai kerja sama yang menguntungkan pihak pemodal. Padahal jika amanah kepemimpinan yang telah diemban ditunaikan dengan penuh tanggung jawab, serta pengelolaan yang sesuai dan baik, tidak akan ada kelaparan ataupun pengangguran.

Bagaimana Pengelolaan Kenegaraan dalam Pandangan Islam?

Dalam pandangan Islam, menerapkan syariah Islam secara sempurna memberikan jaminan pada kebutuhan pokok manusia. Mulai dari sandang, pangan serta papan. Memastikan setiap individu mendapatkan haknya. Tak akan ada impor unfaedah yang hanya memberatkan pengeluaran. Alhasil, pengeluaran hanya akan berjalan sesuai dengan posnya, yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan umat.

Kapitalisme dengan ide kebebasan yang diembannya telah terbukti gagal memberikan kesejahteraan. Sampai kapan kita terus berharap pada sistem rusak ini? Jika akhirnya hanya berujung pada kesengsaraan hakiki. Sudah selayaknya kita menengok pada sistem Islam yang telah terbukti mampu memanusiakan manusia dengan syariatnya. Memberikan kesejahteraan lebih dari 1.300 tahun lamanya. Wallahu'alam bish-shawab.



Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.