Virus Corona Tak Hentikan Impor Bawang Putih

Hot News

Hotline

Virus Corona Tak Hentikan Impor Bawang Putih

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh : Nida Harli Al-Muslimun


Terjadinya wabah virus corona selama beberapa pekan ini mulai berdampak pada harga komoditas di pasar lokal. Salah satunya berpengaruh pada pasokan bawang putih di berbagai pasar di Jawa Barat. Harga per kilogramnya, masih tak bergerak (turun) di angka Rp60 ribu per kilogram (Jabar.idntimes). Diduga kenaikan harga bawang putih tersebut berkaitan dengan larangan masuknya hasil pertanian dari China akibat virus corona.

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto, Senin (3/2), menyatakan akan menghentikan impor makanan dan minuman yang berasal dari China. Selain makanan dan minuman, pemerintah juga akan menyetop distribusi bawang putih. Keputusan penghentian impor tersebut dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona yang berasal dari negara China.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan antisipasi untuk pemenuhan kebutuhan bawang putih yang masih perlu didukung oleh pasokan impor. Seiring merebaknya virus corona di China, Kementan mencari alternatif negara lain. Pasalnya, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi oleh pasokan impor. Bawang putih impor mayoritas didatangkan dari negeri tirai bambu itu karena ukurannya yang besar dan harga yang cenderung murah.

Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor Indonesia pada Juli 2019 mengalami peningkatan sebesar 34,96% menjadi 15,51 milliar dollar AS. Adapun 3 negara pemasok barang impor terbesar selama Januari-Juli 2019 masih ditempati China dengan nilai 24,73 milliar dollar AS, menyusul selanjutnya adalah negara Jepang dan Thailand. Sementara persentase nilai impor menurut penggunaan barang masih didominasi oleh bahan baku atau penolong. Diikuti barang modal dan barang konsumsi. Artinya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif pun, rezim pemerintahan negeri ini membangun ketergantungan kepada negara lain. Bukan membangun kemandirian.






Seharusnya pemerintah pusat bisa segera mencari solusi sebagai langkah antisipasi kekurangan pasokan komoditi pasar baik bawang putih ataupun komoditas lain. Namun sepertinya, hingga saat ini sikap pemerintah belum jelas apakah hanya akan memperketat atau bakal melarang total importasi komoditas pangan dari China. Justru maraknya pemberitaan kenaikan harga karena impor bawang putih dari China dibatasi, menambah daftar panjang bukti bahwa negeri ini makin terjajah ekonominya. Jauh panggang dari api, antara jargon pembangunan ekonomi dengan realitas faktanya. Bagaimana mungkin menjadi Macan Asia, sementara berbagai kebutuhan negeri berpenduduk 200 juta orang lebih ini, pasarnya dikuasai negara lain?

Meskipun pemerintah berdalih bisa memenuhi kebutuhan bawang putih, salah satunya di Kota Bandung. Kemudian mengirim sebagian dari sentra petani bawang putih Kabupaten Bandung, dirasa tetap tidak akan bisa sepenuhnya membantu kekosongan komoditas tersebut. Karena 80-90 persen Indonesia masih mengandalkan impor dari Tiongkok. Ditambah, kurang dari dua bulan lagi akan menghadapi bulan Ramadan, dimana permintaan komoditas pasti akan naik.

Sistem ekonomi kapitalis liberal yang diterapkan negeri ini acapkali menyelesaikan masalah dengan memunculkan masalah baru. Alih-alih memberikan solusi, justru pemerintah bersikukuh untuk impor lagi dari negara lain selain Tiongkok. Di level harga yang sama nantinya bawang putih petani lokal harus bersaing dengan bawang putih impor. Ujung-ujungnya, hanya rakyatlah yang dirugikan.

Seharusnya pemerintah bisa memberi perhatian lebih dalam peningkatan produksi bawang putih dan juga beragam kebutuhan masyarakat lainnya agar stok selalu terjaga dan harga bisa murah, sehingga tidak perlu mengandalkan impor dari luar. Pemerintah juga mesti memberikan kemudahan bagi para produsen bawang putih untuk memiliki teknologi penanaman dan panen yang lebih canggih agar secara kualitas bawang putih hasil dari petani lokal mampu bersaing.

Siapa yang diuntungkan dengan impor bawang putih ini? Tentunya bukan rakyat atau petani. Keuntungan bagi mafia bawang putih saja cukup fantastis hingga ruang impor terus dibuka pemerintah. Keuntungannya bisa mencapai angka Rp 19 triliun selama satu tahun dengan cara memainkan harga bawang putih. Ironisnya, pemerintah yang memberi ijin Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH), menambah daftar panjang masyarakat yang dirugikan secara sistem.

Berlakunya permainan licik nan kotor para pengusaha dalam komoditas bawang putih di alam demokrasi kapitalis tak bisa lagi ditutup-tutupi. Backing sistem dan rezim neolib melahirkan korporatokrasi. Mereka lazim memanfaatkan kebutuhan masyarakat untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya untuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Inilah salah satu akibat dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi kapitalis jelas tidak bisa diharapkan menjadi solusi atas problem apapun. Distribusi kekayaan yang selama ini terjadi justru disebabkan oleh kaum kapitalis bercokol di Indonesia. Ruang gerak mereka begitu leluasa karena pemerintah memfasilitasi. Kendati secara teoritis kapitalisme memberikan kesempatan yang sama (equality of opportunity) kepada setiap anggota masyarakat, namun dalam kenyataannya bersifat diskriminatif.

Hanya mereka yang dekat dengan sumber dana, sumber informasi, atau kekuasaan saja yang sering mendapatkan kesempatan. Imbasnya, muncul sekelompok orang yang menguasai sebagian besar aset ekonomi. Mereka bebas menentukan sikap dan kebijakannya meski rakyat menjadi korban. Terjadilah liberalisasi perdagangan.

Menurut Abdul Qadir Zallum, tujuan utama liberalisasi perdagangan tidak lain agar negara berkembang membuka pasar mereka terhadap negara maju. Akibatnya negara berkembang terus menjadi konsumen. Negara berkembang sulit membangun fondasi ekonomi yang tangguh karena tergantung kepada negara industri. Hal ini berbahaya bagi ekonomi suatu negara.

Satu-satunya harapan yang mampu mengatasi problem ekonomi saat ini adalah sistem ekonomi Islam. Sistem berbasis syariah, bebas dari kepentingan manusia dan terbukti 1300 tahun lebih berhasil memberikan kesejahteraan, keadilan dan terjaganya stabilitas negara (lihat:tarikh al khulafa).

Dengan demikian, bertahan pada sistem ekonomi sekuler hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat negeri ini disamping dosa bagi penguasanya. Dikecam Rasulullah manakala mereka mempersulit rakyatnya. Menderita di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah Swt:

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.  (TQS Al-Maidah : 49).

Maka sudah saatnya negara menghentikan aktivitas apapun tanpa syariat. Bagaimanapun besarnya upaya penguasa negeri ini dengan korporatokrasinya tak akan pernah mampu mensejahterakan rakyat karena kesalahan yang sama, yakni berpijak pada aturan bodoh yang lahir dari keterbatasan akal manusia. Allah SWT berfirman:

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?  (TQS. Al-Maidah: 50).

Jelas, bertahan pada sistem ekonomi sekuler hanya akan semakin memperpanjang penderitaan rakyat negeri ini. Mewabahnya virus corona seharusnya menjadi ibroh bagi negeri ini agar segera berlepas diri dari mata rantai ekonomi politik asing sehingga negara fokus memenuhi kebutuhan masyarakatnya tanpa harus mengandalkan impor dari luar. Dan semua ini hanya bisa kita dapatkan ketika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan di bawah naungan Daulah Khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah. Wallahu a'lam bi ash-shawwab.


Editor: Ulfiatul Khomariah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.