Waspada Penjajahan Berbungkus Toleransi

Hot News

Hotline

Waspada Penjajahan Berbungkus Toleransi

(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)


Oleh : Nursyam*


Presiden Joko Widodo telah menyepakati proyek renovasi Masjid Istiqlal yang di dalamnya termasuk rencana pembangunan terowongan silaturahmi yang akan menghubungkan dua tempat ibadah dari agama yang berbeda yakni gereja dan masjid. Penjelasan Abu Hurairah Kepala Humas Masjid Istiqlal membenarkan pernyataan yang disampaikan oleh Jokowi tersebut. Abu menambahkan bahwa rencana pembangunan terowongan yang dinamai terowongan silaturahmi ini akan masuk kajian secara detail. Sebab terowongan ini nantinya bisa jadi ikon toleransi di Indonesia.

Abu juga menyampaikan dukungannya atas rencana pembangunan terowongan tersebut. Karena selama ini dia melihat para jemaat Katedral yang memarkir kendaraannya di halaman masjid untuk beribadat, sering kerepotan bila menyeberang. Karena jika melalui jalan biasa mesti jauh memutar, jadi kasihan apabila ada jemaat yang sudah tua pakai tongkat harus berjalan jauh-jauh (Republika).

Namun jika menelaah persoalan yang terjadi dalam bangsa ini bukanlah persoalan toleransi. Hal ini terbukti setelah sekian lama bangsa ini bersatu. Meski terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama, semua mampu hidup berdampingan. Indonesia yang mayoritas umat Islam sudah sangat paham arti dan makna toleransi, sehingga membangun terowongan ini tidak akan menambah perkembangan arti toleransi itu sendiri.






Dikatakan bahwa pembangunan terowongan yang diwacanakan Jokowi hanyalah bentuk keberpihakan pemerintah kepada liberalisasi agama. Sebagaimana diketahui bersama, para musuh Islam baik kafir Barat maupun munafik tidak akan berpuas diri jika hanya menjajah umat Islam secara politik maupun ekonomi, melainkan juga berusaha menjajah pemahaman aqidah Islam itu sendiri melalui tangan-tangan penguasa.

Alhasil pembangunan terowongan ini secara tidak langsung menanamkan pemahaman kepada umat khususnya umat Islam tentang agama yang liberal. Upaya ini dilakukan agar umat Islam bisa menerima penafsiran atau ide dari luar. Sehingga setelah terealisasinya pembangunan terowongan silaturahmi ini, umat Islam harus waspada akan semakin banyaknya bermunculan kebijakan-kebijakan baru. Sebagaimana kampanye pluralisme agama yang sudah dilakukan oleh rezim dan diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia khususnya umat Islam.

Umat Islam seharusnya sadar bahwa musuh Islam bukan hanya dilakukan oleh non-muslim hingga tidak menyadari bahwa liberalisasi agama ini juga dilakukan oleh sebagian kecil umat Islam sendiri. Salah satu contoh yaitu sebuah pernyataan yang pernah disampaikan oleh mantan Menteri Agama, Lukman Hakim. Lukman menghimbau masyarakat untuk tidak menjauhi para pelaku LGBT, mereka harus dirangkul dan diayomi bukan malah dijauhi. Karena sebagai negara pluralisme, keberagamannya menjadikan perbedaan sebagai pemersatu agar bisa menerima dan menghargai setiap perbedaan.

Tergambar bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil oleh rezim saat ini adalah bukti bahwa bangsa ini sedang melakukan berbagai proyek liberalisasi agama. Hal seperti ini sangatlah berbahaya bagi umat Islam sebab mereka akan semakin sulit membedakan antara perbuatan perkara halal haram. Sehingga mereka bisa saja mencampur adukkan antara perkara yang haq dengan yang batil.

Jika ini dibiarkan maka umat Islam bisa semakin jauh dari Islam. Padahal inilah yang diinginkan oleh para musuh-musuh Islam. Hingga mereka akan semakin mudah untuk mengatur umat Islam. Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan bisa jadi ke depannya mereka yang menyetir keyakinan umat Islam dan yang lebih menghawatirkan lagi apabila umat Islam dengan suka rela mengikuti perintah mereka. Wallahu alam bishowab.



*/Penulis adalah seorang revowriter dan Anggota MT Khairunnisa Bal-Tim

Editor : Mahesa Ibrahim

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.