Body Positivity Bukan Solusi Kecantikan

Hot News

Hotline

Body Positivity Bukan Solusi Kecantikan

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Punky Purboyowati S. S*


Kampanye kebebasan perilaku kini kian liar. Ialah foto setengah bugil yang diunggah artis Tara Basro. Lewat foto tersebut, ia mengampanyekan body positivity. Mengajak orang untuk mencintai tubuhnya dan percaya dengan diri sendiri. Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Mariana Amiruddin mengatakan, apa yang dilakukan Tara Basro sebagai ‘membangkitkan kepercayaan diri perempuan’ saat kampanye tersebut merupakan sesuatu ekspresi hak-hak perempuan. Ekspresi itu sesuatu yang perlu dihargai, yaitu tubuh kita sendiri. Sementara juru bicara Kemenkominfo Ferdinandus Setu berpendapat, unggahan foto itu ada unsur ketelanjangan dan berpontensi melanggar pasal tentang kesusilaan dalam UU ITE.

Meski banyak yang menilai negatif terhadap kampanye body positivity tersebut hingga memunculkan kontroversi, upaya untuk memiliki rasa 'bangga' terhadap tubuh sendiri  ini mendapat banyak cibiran serta candaan yang sebenarnya bukan niat memuji. Penilaian negatif ini muncul dari aktifitas body shaming. Body shaming adalah tindakan mengejek atau berkomentar negatif terhadap kondisi fisik pada tubuh seseorang. Misalnya, 'badanmu kog selama ini semakin kurus aja', 'kamu cantik tapi kog gemuk', dan lain sebagainya. Body shaming merupakan jenis bullying yang dibalut dengan candaan. Seberani itukah body positivity dan body shaming bergerak melalui dunia maya?

Efek Body Positivity dan Body Shaming

Inilah permasalahannya. Tidak banyak yang mengetahui efek body positivity dan body shaming ini. Keduanya merupakan ungkapan yang berasal dari pemahaman liberal, yakni bebas. Bebas berperilaku dan bebas berpendapat. Tidak ada standar baku yang jelas sehingga wajar menuai kontroversi. Sebagian menganggap hal itu positif namun sebagian yang lain menganggapnya negatif. Padahal baik body positivity maupun body shaming tak ubahnya hanya sebuah cara pandang yang keliru dalam menilai sosok perempuan. 






Cara pandang yang salah dilahirkan dari sistem yang salah pula. Akibat sistem kapitalis sekuler, memisahkan agama dari kehidupan, kehidupan telah dipandang hanya untuk meraih materi sebanyak-banyaknya. Apapun dipandang sebagai manfaat tanpa memandang halal dan haram. Perempuan dinilai dengan wajah cantik, putih, tubuh sexy, mulus, ramping, tinggi, montok dan lain sebagainya. Banyak perempuan menjadi korban barang komoditas yang memiliki nilai jual. Hampir seluruh iklan di media memperlihatkan tubuh perempuan. Media sangat lihai memberi penilaian lebih atas kecantikan perempuan. Penilaian cantik diukur dari cara pandang Barat yang liberal.

Alhasil tanpa disadari, banyak perempuan yang berlomba-lomba mempercantik diri secara bebas tanpa batasan. Dari wajah hingga foto tanpa busana di depan umum. Sejatinya, hal tersebut merupakan bentuk pornografi yang dikemas dalam bentuk body positivity.

Baik body positivity maupun body shaming, keduanya sama-sama menimbulkan efek yang buruk terutama bagi mental seseorang. Seseorang akan cenderung minder dengan apa yang dimilikinya. Tanpa disadari juga akan muncul penyakit hati, seperti iri dan dengki. Dan akan lebih berbahaya lagi, dampak bagi anak-anak. Mereka disuguhkan oleh gambar atau foto yang memperlihatkan para perempuan tanpa busana. Anak-anak menjadi korban sekaligus akan menjadi pelaku perbuatan. Alhasil terciptalah perendahan terhadap kehormatan perempuan dengan beragam bentuk. Maka body positivity bukanlah solusi kecantikan tubuh perempuan.

Hak Kepemilikan atas Body Positivity

Sejatinya body positivity bukanlah hak milik pribadi apalagi milik bersama. Sebab tubuh manusia ada hak yang harus dijaga keutuhannya. Manusia tak memiliki hak untuk bebas memperlakukan tubuh layaknya apa yang digambarkan oleh media iklan. Perempuan perlu mewaspadai bahwa dibalik body positivity ada bahaya yang mengintai. Menjerumuskan perempuan pada perilaku melanggar norma agama sebab dengan atas dalih body positivity tidak lagi memandang batasan halal dan haram.

Maka, untuk mencegah sekaligus menghentikan body positivity dan body shaming ini perlu mengubah pandangan dan gaya hidup kepada arah pandangan yang benar. Islam dapat menghentikan dan mengubahnya. Islam memandang bahwa tubuh wanita tidak layak diumbar, termasuk disebut-sebut kecantikannya di depan umum dengan gaya body positivity.

Body positivity hanya bisa dirawat dan dipercantik dengan balutan jilbab (baju kurung/gamis) yaitu dengan menutup aurat perempuan ke seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sebab hak atas tubuhnya merupakan hak Allah yang wajib dijaga.

Firman Allah dalam Q.S Al Ahzab ayat 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Gambaran wanita shalehah, diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).

Ciri-ciri wanita shalehah, salah satunya adalah menutup auratnya kepada yang bukan mahramnya (bukan suaminya). Aturan Islam bukan mengekang kebebasan perempuan sebagaimana yang dikatakan oleh para feminis. Justru Islam hendak memelihara perempuan dari segala fitnah dunia dan akhirat. Dengan Islam, perempuan dapat menemukan jati dirinya bahwa ia adalah hamba Allah SWT yang harus patuh dan tunduk pada aturanNya.

Saatnya perempuan bersama saling menyadarkan. Bukan saling mencaci sebagaimana body shaming. Bukan mengumbar aurat sebagaimana body positivity. Serta saling mengajak untuk bersama-sama mengkaji Islam dan berdakwah. Mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Beramal sholeh dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Bangga sebagai diri seorang muslimah yang taat, itulah sejatinya body positivity dalam Islam.

Dengan demikian, media takkan berani mengotak-atik kepribadian perempuan tanpa izin. Justru Islam akan menggiring media agar tidak mengekspos serta mengumbar segala sesuatu yang mengandung mudharat dan dosa. Di samping itu, negara juga turut andil dalam pencegahan dan penghentian perilaku body positivity dan body shaming ala liberal yang merusak. Niscaya para generasi perempuan akan terjaga kemuliaannya. Wallahu a'lam bisshowab.



*/Penulis adalah Pegiat Literasi Jombang

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.