BPFA+25 Terhadap Perempuan

Hot News

Hotline

BPFA+25 Terhadap Perempuan

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Anandita Gadis Valentine


Barat terus mencari berbagai cara untuk mengadakan propaganda demi menggiring opini publik. Perempuan dan kesetaraan gender menjadi salah satu sasaran untuk propaganda mereka. Membuat pemahaman baru yang menghasilkan berbagai gerakan mulai dari aksi hingga konferensi. The Beijing Declaration and Platform for Action atau Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing mempunyai arti penting karena memuat dokumen strategis dan kerangka aksi pemberdayaan dan kemajuan perempuan, penegakan hak asasi manusia, dan keterlibatan dalam pembangunan. Dalam konferensi dunia tentang perempuan yang dilaksanakan di Beijing tanggal 4 hingga 15 September 1995 ini, seluruh negara anggota PBB sepakat untuk mengadopsi BPFA menjadi resolusi dan merekomendasikan Majelis Umum dalam sesi kelima untuk mengesahkan BPFA. BPFA menghasilkan 12 bidang kritis dan setiap 5 tahun harus dilaporkan perkembangannya oleh setiap negara.

Akan tetapi, ternyata selama 25 tahun pelaksanaan BPFA ini tidak maksimal karena masih banyak permasalahan perempuan yang belum terselesaikan. Kesetaraan gender yang diperjuangkan oleh kaum feminis ini tidak mampu membendung kemiskinan yang masih terjadi, khususnya di Indonesia. Mengatasi kemiskinan sistemis dengan pengaruh keutamaan gender justru menghasilkan masalah baru berupa tidak berfungsinya peran keibuan, anak terlantar atau terjerumus anak ke dalam masalah asosial amoral.

Sebagai contoh, perempuan yang bekerja sebagai TKI karena tuntutan ekonomi. Mereka dipaksa, mau tidak mau, mencari nafkah hingga pergi ke negeri asing sehingga melupakan tugas utama sebagai seorang ibu yaitu mendidik anak. BPFA +25 pun hanya ibarat perpanjang waktu dalam mencari solusi global masalah perempuan. Faktanya, eksploitasi perempuan semakin marak atas nama kebebasan berekspresi dan profesional kerja. Seolah hal tersebut menjadi legal karena merupakan suguhan Barat dan menjadi hal yang lumrah.






Dengan dalih kesetaraan gender, perempuan diperjuangkan agar bisa bekerja layaknya laki-laki. Barat sengaja menciptakan banyak lapangan pekerjaan khusus perempuan. Sebenarnya hal itu sama saja membunuh generasi. Mengapa? Para ibu harus melupakan tugasnya dan berkewajiban mencari nafkah. Seperti contoh KBN, fakta dalam masyarakat serendah-rendahnya pendidikan perempuan, minimal dia bisa menjahit maka dia akan bekerja di pabrik industri. Sehingga dia lupa tugas seorang ibu untuk mendidik anaknya. Ia lebih sibuk dalam pekerjaannya. Ia lupa pentingnya komunikasi dengan anak. Perempuan dicetak menjadi berorientasi ‘uang’, mereka tidak tahu caranya bersyukur. Rencana Barat berhasil; terbentuknya cara pandang kapitalistik pada diri perempuan. Ideologi feminisme yang menyeru kesetaraan gender ini, secara destruktif cepat atau lambat akan menghancurkan masyarakat dari segala lini kehidupan.

Butuhnya perempuan yang berpendidikan sehingga ia mampu mendidik anaknya dengan benar, memang sudah seharusnya. Akan tetapi, pintar tidak hanya dari segi pendidikan. Perempuan juga harus mempunyai kemampuan dalam membina hubungan yang menyenangkan dan sehat. Kecerdasan yang dapat mendukung suasana belajar maupun proses pembelajaran. Maka dari itu, cara berpikir seorang wanita haruslah cemerlang agar dapat membangkitkan pula pemikiran sekitar. Yang terdekat adalah anak dan keluarga, maka wanita harus lebih siap dan mampu dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian)” (QS. An-Nisa’: 34).

Hari ini banyak anak yang tidak mempunyai akhlak lagi karena tidak mendapat informasi dan pengetahuan dari ibunya. Padahal, dikatakan madrasatul ula adalah ibu. Ibu, sekolah utama bila engkau mempersiapkannya, engkau telah mempersiapkan generasi terbaik, kata pepatah Arab. Dalam ayat di atas tadi, dapat disimpulkan bahwa perempaun tidak diwajibkan untuk bekerja, namun lelaki-lah yang mencari nafkah.

Pada dasarnya, kodrat perempuan bukan sebagai kepala rumah tangga, bukan sebagai pencari nafkah. Perempuan dimuliakan dalam Islam dengan segala syariat dan aturan yang sebenarnya melindungi dan menghormati perempuan. Segala aksi dan konferensi yang diadakan secara globalpun sejatinya tidak memecahkan masalah keperempuanan.

Sudah jelas bahwa Islam merupakan agama sempurna yang mengatur segala urusan, sebagaimana tertera dalam kalam-Nya, Al Qur’an yang mulia, bahwa Islam dan Al-Quran memberikan solusi terhadap seluruh problematika kehidupan. Hanya dalam Islamlah, sosok perempuan dimuliakan. Tidak ada eksploitasi tubuh, pikiran, tenaga yang hanya untuk kesetaraan semu. Karena setiap gender, perempuan atau lelaki, masing-masing sudah ditetapkan perannya yang sesuai.



Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.