Demokrasi Nan Diskriminasi

Hot News

Hotline

Demokrasi Nan Diskriminasi

(ilustrasi-www.dapurpena.com)


Oleh: Mutia Rahmi*


Muslim di India, sebuah negeri demokrasi terbesar di dunia, tengah menghadapi panasnya ancaman eksistensial oleh kebijakan partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa saat ini. Mayoritas 80% rakyat beragama Hindu berperilaku diskriminasi terhadap minoritas (rakyat beragama Islam). Penindasan dipicu oleh penghapusan pasal 370, putusan Masjid Babri, dan Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAA2019). Kaum Muslim yang merasakan penindasan dan ketidakadilan dari kebijakan-kebijakan ini menyalahkan ideologi Hindutva. 

Penulis melihat ini merupakan dampak dari konsep demokrasi, Istilah Demokrasi mengacu pada aturan rakyat. “Rule of the people/Aturan Rakyat” mengacu pada dua aspek penting, yaitu Legislasi dan Voting. Legislasi berarti orang memutuskan apa yang legal dan ilegal untuk diri mereka sendiri (buatan manusia). Voting mengacu pada hak rakyat untuk memilih penguasa mereka. Dengan kata lain, kekuasaan ada di tangan rakyat. 





Konsekuensinya, semakin banyak dukungan rakyat yang dimiliki sebuah partai, semakin kuat pula kekuatannya. Ini secara alami menghasilkan partai-partai politik dalam demokrasi untuk mengidentifikasi dan memisahkan orang berdasarkan karakteristik umum seperti agama, ras, bahasa, warna, dan sebagainya. Kelompok ‘mayoritas’ yang memiliki karakteristik umum dapat dipisahkan dari kelompok ‘minoritas’ yang memiliki karakteristik berbeda. Maka, dapat disimpulkan bahwa penindasan Muslim di India adalah dampak dari demokrasi.

Kita saksikan, umat Islam yang menjadi kelompok minoritas di suatu negeri selalu menjadi pihak terindimidasi. Penulis amati hal ini karena tidak adanya pelindung bagi umat Isam di seluruh dunia. Yah, berbeda halnya jika Islam menjadi mayoritas di dalam suatu kenegaraan.

Kalian tahu sejarah kepemimpinan dalam Islam? Pemerintahan Islam senantiasa menjaga perdamaian antar agama. Pun sebagai pemimpinnya, akan selalu memutuskan perkara hukum berlandaskan hukum syara dan bukan berdasarkan mayoritas. Hal ini demi menghindar dari sikap diskriminasi minoritas.

Kalian tahu juga apa yang terjadi pasca keruntuhan Islam? Ketiadaan kepemimpinan telah menyebabkan perpecahan umat muslim antar negara. Akibatnya, pemimpin Muslim tidak lagi berfungsi sebagai pelindung saudaranya. Sedangkan umat Islam adalah satu tubuh.

Rasulullah SAW bersabda, perumpamaan kaum mukmin dalam hal cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh terjaga (tak bisa tidur) dan merasakan demam (HR.Muslim).

Oleh sebab itu sungguh ironi, jika para penguasa Muslim malah membiarkan sesama Muslim ditindas dan dibunuh kaum kafir, tidak memberi bantuan ataupun pembelaan. Selama demokrasi menjadi sistem kehidupan masyarakat maka diskriminasi terhadap Muslim akan terus terjadi. Akankah menurut pembaca dibutuhkan khilafah, hadir ditengah-tengah sistem kenegaraan dunia yang tidak adil ini?

Pernahkah mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda? ”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)



*Penulis adalah Pemerhati sosial

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.