Duhai! Tingginya Pengangguran Di Tengah Maraknya PHK

Hot News

Hotline

Duhai! Tingginya Pengangguran Di Tengah Maraknya PHK

(ilustrasi-www.dapurpena.com)


Oleh: Tri S, S.Si*


PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) massal yang melanda ratusan karyawan PT Karyadibya Mahardika (KDM) Kabupaten Pasuruan cukup mengejutkan. Apalagi, itu terjadi tak lama setelah akuisisi perusahaan Jepang, Japan Tobacco. Diketahui, berdiri sejak 2007 lalu PT KDM semula merupakan bagian dari Gudang Garam Group. Ada 9 lokasi pabrik KDM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Termasuk, Jawa Tengah dan Jakarta. Di Kabupaten Pasuruan, PT. KDM memiliki dua lokasi perusahaan. Masing-masing di Tawangrejo, Kecamatan Pandaan dan Desa Bakalan, Kecamatan Purwosari dengan jumlah karyawan 2 ribu lebih. Sepuluh tahun di bawah kendali GG, perusahaan yang familiar dengan produk rokok merk ‘Apache’ itu berganti kepemilikan. Tepat pada akhir 2017, manajemen GG memutuskan menjual 100 persen kepemilikannya di KDM kepada Japan Tobacco, sebuah perusahaan rokok asal Jepang.

Para karyawan dibuai harapan tinggi pasca akuisisi itu. Sebab, kenyataan berkata sebaliknya. Hanya dua tahun berselang sejak kesepakatan itu, pihak JTI memutuskan untuk melakukan efisiensi. Per Senin, 3 Februari 2020, sekitar 800 lebih karyawan di-PHK oleh manajemen perusahaan. Selain produksi yang menurun, besaran UMK yang dirasa terlalu tinggi disebut-sebut sebagai alasannya.

Perusahaan peralihan itu nampak menutupi fakta sebenarnya. Sebab belum ada penjelasan dari pihak terkait mengenai pemecatan ratusan pekerja tersebut. Usaha konfirmasi oleh media tidak membuahkan hasil bahkan usaha dari pihak Disnaker setempat.






Perubahan adalah keniscayaan. Tidak seorang pun bisa menolak perubahan zaman. Saat ini kita memasuki era disrupsi. Memasuki era serba digital bisa menjadi ancaman jika gagap tekhnologi (gaptek), tidak berinovasi. Konsekuensinya, akan tersingkir.

Disrupsi merupakan inovasi yang menggantikan seluruh sistem lama dengan yang baru. Disrupsi berpotensi menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien. Misalnya saja pergeseran sistem dalam perekonomian. Dampak perubahan sistem penjualan sudah dirasakan saat ini. Pengusaha retail yang mempertahankan cara lama terancam gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan daring. Seperti yang dialami salah satu supermarket di bawah PT Hero Supermarket Tbk, Giant. Giant terpaksa menutup beberapa gerai karena tergerus toko online.

Maka apatah lagi, manusia dengan tenaganya. Efek dari kecanggihan tekhnologi berimbas pada perampingan managemen. Di perusahaan sepatu misalnya, operator cutting material kini digantikan dengan mesin auto cutting. Sebuah inovasi yang mampu meningkatkan target dan menurunkan resiko reject.

Era disrupsi sungguh menjadi ancaman khususnya bagi pekerja atau buruh. Peralihan sistem kerja menjadi serba digital tentu akan terjadi pengurangan karyawan secara besar-besaran. Karena pengusaha selalu mengikuti hukum ekonomi yaitu menekan cost demi mendapat profit besar.

Laporan hasil riset yang dipublikasikan akhir bulan September lalu oleh McKinsey Global Institute bertajuk ‘Otomasi dan Masa Depan Pekerjaan di Indonesia: Pekerjaan yang Hilang, Muncul, dan Berubah’  memprediksi Indonesia di tahun 2030 telah memasuki era otomasi. Akibatnya, 16 persen aktivitas pekerjaan berimbas pada hilangnya pekerjaan bagi sekira 23 juta pekerja. Sebuah hasil riset yang menakutkan bagi pekerja khususnya yang berhubungan dengan alat produksi manual.

Meskipun era disrupsi berimbas pada hilangnya jutaan pekerjaan, namun justru akan tercipta lapangan kerja baru yang jauh lebih luas. Karena meskipun banyak pekerjaan manual beralih ke mesin robotic atau otomasi, banyak juga pekerjaan yang harus dikerjakan oleh manusia. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa digantikan mesin yaitu sesuatu yang menyangkut interaksi dengan pemangku kepentingan serta mengelola dan mengembangkan karyawan.

Komunikasi menjadi hal yang krusial di era disrupsi. Mempersiapkan tenaga kerja yang siap menyambut era digitalisasi merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah. Harus ada upaya konkrit dalam menyiapkan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan substansial dalam dunia kerja di masa mendatang.

Pada faktanya hari ini jumlah pengangguran semakin meningkat. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 7,05 juta orang per Agustus 2019, dimana mengalami peningkatan dari tahun lalu. Masuknya investor ternyata tidak mampu menyerap tenaga kerja yang signifikan.

Ibarat mengemis penuh pesimis nun berkepanjangan. Tidak ada kebijakan pemerintah yang bisa dirasakan manfaatnya secara lansung oleh rakyat. Alih-alih menyejahterakan, justru banyak kebijakan yang semakin menyengsarakan. Jutaan kepala keluarga harus kerja serabutan demi memenuhi kebutuhan dasar.

Demokrasi hanyalah retorika kosong yang mengumbar janji kemakmuran. Pada faktanya, kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang dari penguasa dan pengusaha. Kebijakan dibuat tidak lepas dari kepentingan atau intervensi pihak asing. Hegemoni Barat mencengkeram seluruh aspek kehidupan terutama perekonomian.

Kewajiban mencari nafkah dirasa sulit bagi kaum Adam. Kenyataannya semakin sulit bagi para makhluk berjakun untuk mencari pekerjaan. Perusahaan banyak menetapkan kriteria hanya menerima karyawan dengan batasan umur tertentu dan lebih banyak lapangan kerja disiapkan untuk wanita.

Dalam sistem Islam, pemimpin bertanggungjawab memampukan warga negaranya untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan menyiapkan lapangan kerja yang luas. Serta menyediakan sarana kesehatan dan pendidikan yang menjadi hak warga negara tanpa terkecuali.

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.”(HR Bukhari-Muslim).



*/Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.