Ketahanan Keluarga: Antara Harapan dan Kenyataan

Hot News

Hotline

Ketahanan Keluarga: Antara Harapan dan Kenyataan

(ilustrasi-www.dapurpena.com)


Oleh: Yayah Ummu Yumi*


Masuknya RUU Ketahanan Keluarga (RUU KK) dalam daftar program legislasi nasional, mengundang pro dan kontra. Pengusul RUU ini bermaksud untuk memperbaiki kualitas keluarga dan menyelesaikan berbagai masalah yang menimpa keluarga. Sebab, di dalam masyarakat sudah terlalu banyak pelanggaran norma, moral, dan perbuatan bebas yang menyimpang yang telah merusak keluarga dan generasi. Karenanya ada kesadaran untuk menyelesaikannya melalui pemberlakuan undang-undang.

Pihak yang kontra sangat tidak setuju agama dibawa dalam ranah pengaturan urusan publik. Urusan keluarga bersifat privasi dan diselesaikan oleh komitmen masing-masing keluarga sesuai dengan pemahaman dan keyakinannya. Oleh sebab itu sangat ditentang. Mereka tidak setuju jika negara turut campur dalam mengurusi teknis urusan rumah tangga.

Contoh persoalan lain adalah maraknya pelaku LGBT, disinggung di pasal 85-89 RUU ini. Pengaturan inipun diprotes oleh para pembela HAM. Pelaku LGBT tidak boleh dihambat, sebab itu pilihan bebas bagi seseorang. Menurut mereka, perlu dibedakan antara kejahatan seksual dengan penyimpangan seksual. Keluarga harus memanusiakan pelaku LGBT, tidak merendahkan mereka, apalagi menganggapnya kriminal.






Dari hal ini, dapat disimpulkan bahwa pro-kontra RUU KK lahir dari perbedaan perspektif yang tajam tentang peran negara dan agama dalam menyelesaikan persoalan. Dan polemik ini niscaya akan terus terjadi pada bangsa yang menyepakati sekularisasi terhadap agama.

Lihatlah! Agama tidak akan pernah mendapat tempat semestinya, hanya diposisikan sebagai keyakinan individu atau kelompok. Tidak boleh ada norma agama sedikitpun dalam perundang-undangan negara. Sesungguhnya, menginginkan syariat Islam--yang diyakini benar, lengkap, dan sempurna, dan akan menyelesaikan berbagai persoalan--tidak bisa hanya dengan menyuntikkan nilai atau ruhnya saja. Maka karena tubuh bangsa ini masih belum serempak menerima syariat, tetap saja masih ada penolakan.

Akankah Ketahanan Keluarga menjadi aturan yang diawasi para orang tua dan ditegaskan dengan Undang-undang? Mari kita doakan dan upayakan sebuah kebaikan bersama-sama.
  


*/Penulis adalah aktivis muslimah dan pemerhati masyarakat Cikarang

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.