Ketika Islam Disudutkan Oleh Pemerintah

Hot News

Hotline

Ketika Islam Disudutkan Oleh Pemerintah

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Alfianisa Permata Sari


Awal Februari kemarin, Indonesia terkejut dengan pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi. Ia mengatakan, agama adalah musuh terbesar pancasila. Selang beberapa waktu akibat reaksi dari masyarakat, Yudian langsung mengklarifikasi pernyataannya. Bahwa yang ia maksud bukanlah agama secara keseluruhan, tetapi mereka yang mempertentangkan agama dengan pancasila. Sebab pancasila itu religius (agamis) dari segi sumber dan tujuannya.

Ditambah pernyataan dari Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Ia mengatakan, setiap khatib harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan karena posisinya sebagai penceramah akan berpengaruh pada cara berpikir, bersikap, dan bertindaknya umat Islam. Diharapkannya agar para khatib tidak memberikan materi yang membangun narasi konflik dan permusuhan diantara umat atas nama toleransi.

Pernyataan para petinggi negara itu termasuk sesat dan menyesatkan. Kalian tahu? Pernyataan mereka mampu menggiring opini masyarakat seolah-oleh umat beragama merupakan musuh pancasila serta penyebab dari segala kekacauan yang terjadi di negeri ini.






Menyebut agama sebagai musuh, mengingatkan kita kepada pernyataan kalangan sosialis-komunis dan ateis yang menganggap agama sebagai candu. Sehingga agama, terutama Islam, harus disingkirkan dari kehidupan.

Amat disayangkan! Disaat umat semakin sadar bahwa Islam adalah rujukan dalam mencari solusi permasalahan bangsa, justru rezim semakin berupaya menjauhkan umat dari Islam. Semakin pahamlah kita, rezim ini sekuler dan sangat jelas memusuhi Islam. Apakah karena Islam, dengan segala aturan Ilahi, menjadi penghalang mereka dalam mencapai tujuan utamanya (yakni melanggengkan kekuasaan) ?

Manusia diciptakan Allah SWT lengkap dengan akal. Pembeda utama manusia dengan makhluk lain yang Ia ciptakan. Dengan akal dapatlah berpikir bahwa diri adalah makhluk yang lemah, terbatas, serba kurang, dan sangat bergantung pada Zat yang Mahahebat.

Disisi lain, Allah SWT mengaruniai manusia dengan fitrah naluri beragama yang mendorong manusia untuk melakukan pemujaan terhadap apa yang dianggapnya sebagai realitas yang hebat dan tak terbatas itu. Namun sayangnya, dua kenyataan diatas tidak otomotis membuat manusia mengenal Allah SWT dan tunduk patuh kepada-Nya. Justru, malah lebih tunduk pada hawa nafsunya yang mengantarkannya pada sikap pengingkaran total terhadap eksistensi sang Pencipta. Inilah gambaran manusia yang berpaham sekulerisme, mengakui keberadaan Tuhan tapi mengingkari aturan-Nya.

Semestinya Muslim menyadari bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Dengan kesempurnaannya, Islam sebagai tuntunan cara hidup haruslah dipatuhi secara keseluruhan (kaffah) dan tidak sepotong-sepotong. Untuk apa? Supaya hidup manusia berhasil dunia dan akhirat.

Tuntunan cara hidup Islam sudah jelas tertulis dalam Al-Quran dan Hadits. Sedangkan sekulerisme jelas menyatakan diri sebagai musuh Islam. Kewajiban Muslim adalah harus full di dalam menjalankan aturan Islam. Bukan mengambil sebagian hukum dan mencampakkan sebagian hukum yang lain. Hal ini dilarang.

Mengambil sebagian hukum dan mencampakkan sebagian yang lainnya saja dilarang, apalagi memisahkan Islam dari kehidupan. Oleh karena itu, marilah kita menjadi muslim yang kaffah dalam berjuang menerapkan syariat Islam di kehidupan kita. Wallahu a’lam bish shawab.



Editor: Wannajmi Aisyi


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.