Membunuh Terinspirasi Oleh Film, Siapa Salah?

Hot News

Hotline

Membunuh Terinspirasi Oleh Film, Siapa Salah?

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Ambarukmningsih, S.Si


Publik dibuat geger oleh berita tentang remaja putri berinisial NF (15 tahun) yang membunuh tetangganya sendiri, APA (5 tahun) di rumahnya, kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. NF menyerahkan diri ke Polsek Metro Taman Sari Jakarta Barat pada Jumat (6/3) pagi saat hendak berangkat ke sekolah. Dia mengaku baru saja membunuh seorang bocah dan jasadnya disimpan di dalam lemari. Mayat APA dibungkus kain sprei, diikat, dan mulut disumpal dengan tisu. Dan ketika ditanya bagaimana perasaannya setelah membunuh, NF menyatakan puas dan tidak menunjukkan rasa  penyesalan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, NF kerap menonton salah satu film bergenre horor dan sadis, yakni film Chucky yang mengisahkan tentang boneka pembunuh. Selain itu, NF juga menggambar tokoh kartun The Slender Man, karakter fiksi yang biasanya digambarkan tanpa muka dan berperawakan tipis serta memiliki tentakel dan menggunakan pakaian hitam dan dasi merah. The Slender Man ini dikisahkan suka menculik atau melukai orang, terutama anak-anak.

Boleh jadi menurut pengakuan tetangga dan orang tuanya, NF adalah anak pendiam. Tetapi di dalam pikiran dan alam bawah sadarnya, dia menyimpan berbagai rangkaian peristiwa kejahatan yang didapatkannya dari menonton film horor. Yang kemudian mendorongnya untuk mempraktekkan kepada siapa saja yang ada di sekitarnya.

Lalu, kenapa film Chucky dan The Slender Man yang mengerikan dan bisa mendorong seseorang berbuat sadis itu bisa beredar bebas di negeri ini bahkan digandrungi oleh para remaja hingga dibuat berseri?

Apa itu film?

Film pada hakekatnya adalah upaya visualisasi tentang suatu keadaan, perilaku atau peristiwa. Film sangat mudah terekam oleh benak dan mampu mempengaruhi  perasaan penonton untuk hanyut dalam alur ceritanya. Sedikit demi sedikit, film bisa mempengaruhi pemikiran yang selanjutnya akan mendorong lahirnya perilaku. Maka tak heran jika film Chucky dan The Slender Man yang mengandung kejahatan dan sadisme ini, mampu mempengaruhi NF untuk berbuat hal yang sama.






Termasuk film-film lain yang bergenre romantis, action, komedi, dan lainnya yang mengandung kerusakan atau kejahatan, akan mudah membuat penonton labil melakukan perbuatan sesuai isi film. Terlebih, mayoritas penonton di negeri ini adalah orang yang tidak memiliki pemahaman standar yang benar tentang kehidupan.  Sehingga ketika akan melakukan sesuatu, mereka tidak akan menyandarkan perbuatannya kepada benar salah, halal-haram atau pahala dan dosa.

Lalu, jika pengaruh tontonan itu sedemikan dahsyat, mengapa justru bertebaran tontonan-tontonan buruk yang akan merusak pemikiran dan mental generasi  kita dengan begitu bebas dan massif?

Apakah penyebabnya sebab hilang fungsi pemerintahan bersistem kapitalis ini?

Yah, saat ini kita berada dalam sistem kapitalisme. Sistem yang tidak peduli dengan apapun efek dari film atau tontonan yang beredar, termasuk kerusakan generasi. Asal bisnisnya mendatangkan keuntungan, maka show must go on, meski akibatnya generasi kita bisa menjadi pelaku atau korban kejahatan yang bahkan berujung pada kematian. 

Jaminan keamanan dan perlindungan dari segala hal yang merusak, baik berupa pemikiran maupun perbuatan melalui media cetak, elektronik, sosial media maupun media digital tidak akan bisa diberikan oleh negara yang menganut sistem sekuler kapitalis ini. Negara justru lebih tunduk kepada kepentingan pebisnis, pengusaha maupun pemodal yang memberikan pundi-pundi ke kantong-kantong penguasa meski harus mengorbankan rakyatnya sendiri.

Berbeda dengan Islam. Negara adalah junnah (perisai) dan ri’ayah (pengurus) seluruh urusan rakyatnya, termasuk mengurus masalah perfilman dan media. Di dalam Islam, media melindungi generasi, sebagai sarana dakwah, dan juga pendidikan. Siapa saja boleh membuat media tanpa izin dan penyebarluasannya tanpa batasan, asalkan isi media tersebut tidak mengandung pelanggaran hukum syara’.

Tidak ada tempat bagi penyebaran pemikiran dan pemahaman yang rusak dan merusak, sesat dan menyesatkan, kedustaan, berita manipulatif, propaganda negatif, fitnah, penghinaan, pemikiran porno, amoral, dan kekerasan. Sehingga media menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat. Dan semua ini hanya ada dalam negara yang menganut sistem Islam. Wallahu a’lam bishshowab.



Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.