Mengapa Wanita dan Pria Harus Setara?

Hot News

Hotline

Mengapa Wanita dan Pria Harus Setara?


(ilustrasi/www.dapurpena.com)

Oleh: Kunthi Mandasari


Dalam peringatan hari wanita internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret, kesetaraan gender masih menjadi topik utama. Menurut kaum feminis, tanpa adanya kesetaraan kehidupan mereka seperti dalam neraka. Tidak memiliki kebebasan, kehormatan, keamanan, kedudukan maupun pendidikan. Oleh karenanya, mewujudkan misi planet fifty fifty (kesetaraan) selalu mereka gelorakan. Mengapa wanita dan pria harus setara?

Tahun demi tahun telah berganti, kesetaraan yang dianggap membawa kebaikan justru membawa sejumlah permasalahan. Karena perbedaan fitrah antara pria dan wanita nyatanya tak bisa dipaksakan. Atau akan berakhir dengan berbagai kerusakan fatal.

Selama ini kesetaraan dijadikan dalih kaum kapitalis untuk mengeksploitasi kaum perempuan. Salah satunya eksploitasi di bidang ekonomi. Memberikan pekerjaan dengan jabatan rendah, gaji murah serta harus rela menggadaikan iffah. Mengumbar aurat untuk mengejar standar manusia. Melalaikan kedudukannya sebagai ummu warabbatul bayt (ibu sekaligus pengatur rumah tangga), suatu kedudukan yang seharusnya menjadi posisi yang paling diidamkan. Kedudukan mulia yang belum pernah diberikan oleh peradaban sebelumnya, jika konsep pemahaman yang dimiliki bersandar pada Islam.

Dampak tereksposnya perempuan ini, meningkatnya kekerasan melalui cyber sebesar 300%. Dari semula 97 kasus pada tahun 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019. Diikuti dengan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan menjadi 65% di tahun 2019. Sepanjang tahun 2019, Komnas mencatat telah terjadi 2.341 kasus atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 1.417 kasus. Kasus paling banyak terjadi akibat inses (sebanyak 770 kasus), kekerasan seksual (571 kasus), dan kekerasan fisik (536 kasus). Penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015 mengatakan, di desa Desa Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal ibu atau bapak atau keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Hong dan negara-negara Timur Tengah.


Anehnya, alih-alih melihat kesetaraan gender sebagai kegagalan, ketidaksetaraan gender justru dikambinghitamkan. Sri Mulyani dalam Voyage to Indonesia’s Seminar on Women’s Participation for Economic Inclusiveness di Surabaya berucap, ketidaksetaraan gender mengakibatkan dampak negatif dalam berbagai aspek pembangunan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga pertahanan dan keamanan. Beberapa lembaga internasional melihat ketidaksetaraan gender memiliki hubungan yang kuat dengan kemiskinan, ketidaksetaraan akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga akses keuangan.

Padahal kemiskinan bukanlah akibat dari ketidaksetaraan gender, tetapi karena penerapan sistem ekonomi kapitalis. Penguasaan kekayaan hanya berputar pada segelintir orang. Sumber daya alam yang menjadi milik umum diobral pada pihak swasta dan asing. Hingga mengalami swastanisasi dan lapangan pekerjaan bagi kaum pria sangat minim.

Bukan hanya itu saja, dalam sistem kapitalis segala aspek kehidupan dianggap sebagai ladang bisnis untuk meraup keuntungan. Baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun hajat publik lainnya. Bahkan tubuh juga menjadi bagian eksploitasi. Tak heran jika kaum perempuan menjajakan tubuh mereka lewat media. Demi lembaran rupiah yang tak seberapa dibanding siksa yang kelak akan diterimanya.

Jika begini, masih pantaskah kesetaraan gender dipertahankan? Kesetaraan tidak seharusnya hanya diukur dari materi, sebuah tolak ukur yang muncul dari kedangkalan berpikir akibat dari penerapan sekularisme yang meniadakan keberadaan Sang Pencipta untuk mengatur kehidupan.

Islam datang untuk memuliakan perempuan. Memberikan kedudukan yang setara melalui standar ketakwaan. Sebuah ukuran yang bisa diraih baik oleh pria maupun wanita. Berdasarkan peran yang mereka miliki untuk saling melengkapi.

Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. an-Nisa': 32)

Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah swt. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. at-Taubah: 71)

Syariat Islam yang dituduh kaum feminis sebagai pengengkang, faktanya telah mengangkat derajat wanita. Menjaga serta memuliakan keberadaan wanita serta dari rahim kaum Hawa inilah lahir para intelektual Islam dan penakluk peradaban yang tak lekang dimakan masa.

Meskipun syariat Islam telah sempurna, tetapi apabila diterapkan secara parsial tidak akan memberikan perubahan yang signifikan. Hanya melalui penerapan secara menyeluruh, peradaban gemilang bisa kembali diwujudkan. Wallahu'alam bishshawab.



Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.