Negara dan Agama Selayaknya Bergandeng Tangan

Hot News

Hotline

Negara dan Agama Selayaknya Bergandeng Tangan

(ilustrasi-www.dapurpena.com)

Oleh: Yayah Ummu Yumi*


Dalam Islam, negara dan agama bak saudara kembar. Tak bisa dibedakan. Tak mungkin dipisahkan. Agama--syariat Islam--bentuknya nampak dalam wujud negara, negara wadah penerapan syariat Islam, representasi Islam adalah negara. Islam menetapkan negara sebagai penanggung jawab utama untuk kebaikan bangsa, masyarakat termasuk keluarga. Ketahanan keluarga adalah isu penting dalam Islam, sebagai madrasah ula, keluarga ditempatkan sebagai dasar pembentukan identitas bangsa.

Antara negara dan keluarga punya ikatan sinergi yang kuat dan strategis. Suksesnya kepemimpinan kepala keluarga dalam mewujudkan keluarga sholih-mushlih (baik dan memberi kebaikan pada masyarakat dan negara) wajib ditopang oleh kepemimpinan di tingkat negara. Karena itu, Islam memberi tugas pada negara untuk menyiapkan berbagai perangkat demi mewujudkan ketahanan keluarga. Negara melanjutkan pembentukan manusia utuh yang sudah disiapkan keluarga.

Negara menciptakan suasana masyarakat tempat generasi menimba pengalaman hidup dan menempa mentalnya. Menyediakan pendidikan formal dengan kurikulum yang bertarget melahirkan calon orang tua sholih-mushlih dan siap membina rumah tangga. Negara menebar nilai-nilai kebaikan melalui sistem media massa yang bermanfaat menguatkan keyakinan masyarakat dan mencerdaskan. Mencegah munculnya informasi negatif di media massa, kontra produktif dengan akidah dan akhlak. 




Pembentukan keluarga yang benar, pergaulan di tengah masyarakat yang sehat dan produktif, penerapan syariat Islam di aspek ideologi, politik, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan layanan publik, ketahanan dan keamanan. Semua dilakukan oleh negara serta kepengurusannya dengan benar dan bertanggung jawab penuh. Maka secara efektif akan dapat melahirkan keluarga yang kuat, masyarakat mulia, dan umat terbaik.

Semua ini bisa terwujud karena perundang-undangan dalam bingkai syariat Islam kaffah, ruhnya adalah akidah. Umat Islam percaya penuh bahwa syariat Islam akan menyelesaikan masalah dan mengatur urusan dengan benar dan baik. Tidak seperti dalam kemasyarakatan sekuler, ada Muslim yang antipati dengan syariatnya sendiri. Berani menuduh nas-nas syariat tidak fleksibel, tidak kosmopolit terhadap perubahan masyarakat. Seperti mengatakanpenetapan peran suami istri dalam pandangan Islam lebih banyak merugikan perempuan. Atau perlu penafsiran ulang nas syara’ sesuai perspektif gender--hasil rekayasa akal manusia yang memandang kesetaraan gender sebagai format terbaik bagi relasi laki-laki dan perempuan.

Dalam masyarakat sekuler yang mengadopsi ideologi kapitalisme, akan banyak terdapat pelanggaran syariat dan hasilnya seperti yang kita saksikan saat ini. Karena itu, sebenarnya jika kita bersemangat untuk meningkatkan kualitas keluarga yang menentukan kebaikan bangsa, tidak lain hanya dengan menerapkan syariat Islam kaffah dalam format pemerintahan Islam. Wallahu a'lam.



*/Penulis adalah aktivis muslimah dan pemerhati masyarakat Cikarang

Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.