Polemik RUU Ketahanan Keluarga dan Fenomena Mencari Cinta

Hot News

Hotline

Polemik RUU Ketahanan Keluarga dan Fenomena Mencari Cinta

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Kunthi Mandasari


Ramainya pembahasan RUU Ketahanan Keluarga yang menuai pro-kontra. Ada yang berpendapat bahwa keberadaan RUU KK mampu menjadi penangkal krisis keluarga. Namun, adapula yang menganggap RUU KK telah disisipi oleh ideologi agama tertentu. Menurut penulis, ini merupakan tuduhan yang tendensius. Karena tidak memiliki tolak ukur yang pasti.

Sebenarnya, RUU KK ini lahir akibat keprihatinan terhadap tingginya angka perceraian. Detik.com menyebutkan data, ada 485.223 pasangan di Pengadilan Negeri merupakan kasus perceraian berawal dari gugatan istri. Sedangkan 121.042 perceraian di Pengadilan Agama dilakukan atas permohonan talak suami. Penyebab utama tingginya angka perceraian ini beragam. Perselisihan, pertengkaran, ekonomi, KDRT, mabuk, dan sebagainya.

Bagi para penganut liberal, pacaran dianggap sebagai ajang penjajakan untuk mengukur kecocokan. Namun nyatanya, pacaran yang sering dipropagandakan dan dianut sebagian besar orang ini tak bisa menjamin bahtera rumah tangga selamat dari guncangan. Perselisihan dan pertengkaran kerap mewarnai. Visi pernikahan hanya untuk sekedar bersama, memiliki keturunan, tempat tinggal, pekerjaan, dan angan-angan keindahan masa depan dunia, bukan untuk visi bersama hingga meraih surga-Nya.

Alih-alih mencabut akar permasalahannya yaitu sistem kapitalis yang melahirkan kebebasan. Justru UU Ketahanan Keluarga dijadikan tambal sulam dengan serbuan beberapa pasal yang dianggap kontra. Mulai dari pasal yang mengatur perasaan yang tak kasat mata hingga pasal pasca perceraian.






Dalam pandangan masyarakat kapitalis yang memiliki gaya hidup hedonis, penentuan kriteria dalam mencari pasangan tidaklah jauh dari tampang, pendidikan, latar belakang, dan kekayaan. Meskipun tidak mutlak demikian, namun banyak yang mengagungkan hal tersebut terutama dengan latar belakang dan kekayaan. Jika tak selevel maka tak layak untuk dipersatukan bahkan berbagai upaya akan dilakukan untuk dipisahkan. Meskipun pada hakikatnya manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah Swt. Namun manusia tetap melakukan standarisasi dalam hal penyatuan dua insan.

Di hadapan Allah swt yang membedakan manusia hanyalah takwa. Oleh karenanya, Islam menekankan standar memilih pasangan adalah yang baik agamanya. Meski ada yang menjadikan cinta sebagai alasan utama untuk membina mahligai rumah tangga, namun dalam sistem sekuler liberalis cinta ditafsirkan sesuai dengan keinginan. Cinta hanya dibingkai oleh hawa nafsu semata. Sedangkan dalam Islam, cinta merupakan fitrah (suci). Untuk menjaga kesuciannya hanya bisa diwujudkan melalui pernikahan. Dengan cara melakukan ta'aruf, bukan dengan cara pacaran yang jelas-jelas diharamkan sesuai dengan QS Al-Isra' ayat 32.

Jika solusi yang ditawarkan sistem kapitalis tidak bisa memberikan penyelesaian tanpa menimbulkan permasalahan baru, lantas kenapa masih bertahan dengan sistem rusak ini? Sudah seharusnya kita sebagai muslim hanya mengambil Islam sebagai satu-satunya solusi serta mencampakkan hukum buatan manusia yang amat kerdil ini. Wallahu'alam bishshawab.



Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.