Potret Perempuan Saat Ini

Hot News

Hotline

Potret Perempuan Saat Ini

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Hafla Azzahra


Perempuan menjadi masalah seksi yang terus diperbincangkan. Saat ini pemerintah nasional maupun internasional terus memberikan program-program yang bertujuan untuk membuat perempuan lebih berdaya seperti pada KTT APEC 2013. Peningkatan keterlibatan perempuan dalam pembangunan ekonomi, para pemimpin negara APEC telah sepakat mengadopsi rekomendasi Women’s Economic Forum 2013 yang mengajukan peran strategis perempuan sebagai pengendali ekonomi keluarga dan bangsa (women as economic drivers). Selain itu Kim Jung Sook, Presiden International Council Of Women (ICW), menyampaikan keinginannya bahwa perempuan sebenarnya bisa mengubah dunia menjadi lebih baik lagi bagi generasi mendatang apabila mereka mendapat pemberdayaan di segala bidang, baik sosial, budaya maupun pendidikan.

Kim Jung Sook menyebutkan, saat ini baru ada 17 negara di dunia dipimpin oleh perempuan. Para perempuan masih dihadapkan dengan budaya ‘glass-celling’. Ditempat kerja, jumlah perempuan yang menduduki posisi strategis di perusahaan masih sangat terbatas. Di Timur Tengah misalnya, baru 3,9 persen perempuan yang berada di posisi puncak. Sementara di Amerika Latin 6,4 persen, di Asia Pasifik 9 persen, di Eropa dan Amerika Serikat masing masing 20 dan 19 persen.

Sama halnya dengan dunia internasional, pemerintah nasional pun ikut serta menyerukan hal yang sama seperti pernyataan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi IMF 2018. Yang pertama harus dipahami, dari sebuah negara itu harus ditingkatkan partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan, dan untuk keluarganya. Maka apabila kita menarik benang merah dari berbagai program yang ditawarkan dunia saat ini, perempuan berdaya jika dikatakan berdaya secara ekonomi, tentu akan semakin banyak perempuan yang bekerja atau berkarier. Dan pertanyaannya akankah berdampak pada pertumbuhan ekonomi?






Faktanya, dari sekian banyak perempuan yang bekerja, di sektor formal maupun non formal, keadaan taraf perekonomian tidak juga berubah. Sepertinya perempuan yang tidak bekerja dianggap sebagai beban ekonomi sehingga diharuskan serta didorong dengan kebijakan pemerintah agar perempuan terlibat perekonomian.

Saat ini perempuan lebih banyak dilirik sebagai tenaga kerja. Pertimbangannya adalah perempuan dinilai lebih penurut dibanding tenaga kerja laki-laki. Upah yang diberikanpun umumnya relatif lebih rendah dari laki laki meski beban kerja sama. Kalian tahu akibatnya? Peran perempuan sebagai ibu semakin terpinggirkan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Khofifah Indar Parawangsa selaku Menteri Sosial. Ada 4,1 juta anak Indonesia terlantar dan butuh perlindungan.

Kekurangan kasih sayang dan konflik sosial antar anak dan remaja banyak yang menjerumuskan mereka pada pergaulan bebas dan narkoba. Komisi Perlindungan Anak (KPAI) mencatat dari 87 juta populasi anak Indonesia, sebanyak 5,9 juta diantaranya menjadi pencandu narkoba. Peran ibu dalam membimbing dan mengayomi anaknya tergerus dengan kewajiban bekerja.

Lantas, kenapa sesuatu yang dianggap sebagai solusi perekonomian justru banyak menimbulkan konflik baru? Sebenarnya yang salah bukan karena kurang ikut andilnya perempuan dalam masalah ekonomi sehingga ekonomi terpuruk, akan tetapi kemiskinan saat ini timbul akibat penerapan sistem kapitalisme.

Dalam sistem  kapitalisme, azas berasarkan pilar kebebasan. Bebas berkepemilikan, bebas berperilaku serta bebas berpendapat. Setiap individu boleh memiliki kepemilikan umum maupun negara asalkan dia mampu secara ekonomi. Sehingga wajar jika perekonomian ini hanya dinikmati segelintir orang yaitu para kapital. Kapitalisme hanya memandang manusia, khususnya perempuan, sebagai barang  yang dinilai segi ekonomisnya. Semua beban ekonomi dibebankan terhadap individu, sehingga faktor inilah yang memicu keterpurukan ekonomi.

Potret perempuan saat ini berbanding terbalik dengan masa pemerintahan Islam. Di dalam Islam, perempuan dipandang sebagai sosok yang mesti dimuliakan dan dimanusiakan. Karena standar kebahagiaan dalam Islam adalah mencari ridha Allah, maka baik itu laki laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya.

Islam memperbolehkan perempuan dalam ranah karier atau ekonomi asalkan kewajiban utamanya sebagai ummu warabbatul bayt terpenuhi. Islam bukan sebuah agama yang mengekang individu pemeluknya, namun justru memuliakan dan menyejahterakan mereka. Dalam masalah ekonomi yang sangat besarpun, Islam menuntut agar negara bertanggung jawab dalam pengelolaan perekonomian dan bukan dibebankan pada individu semata. Ketika negara menerapkan sistem Islam dalam kehidupan, bukan hanya perempuan yang diberdayakan namun segala aspek.



Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.