Salam Pancasila : Bukti Phobia Syariat Islam

Hot News

Hotline

Salam Pancasila : Bukti Phobia Syariat Islam

(Ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh: Wiwik Fauziah


Hari ini ketaatan seorang muslim dalam beragama dipertentangkan dengan loyalitasnya dalam bernegara. Sejak berhembusnya berita menghebohkan untuk mengganti ‘Assalamu’alaikum’ dengan salam baru, masyarakat Indonesia dibuat bingung. Salam toleransi ala rezim sekuler ini dielu-elu dengan ‘Salam Pancasila’.

Dilansir dari Vivanews diketahui Yudian Wahyudi Ketua BPIP kembali berulah. Setelah sebelumnya pernyataan kontroversialnya ‘Agama adalah musuh terbesar pancasila’, kini ia membuat peraturan baru dalam kemasyarakatan. "Dulu kita sudah mulai nyaman dengan Selamat Pagi (sebagai salam nasional). Tapi, sejak reformasi diganti dengan Assalamualaikum. Maksudnya di mana-mana tidak peduli ada orang Kristen, Hindu, pokoknya hajar saja. Tetapi karena mencapai titik ekstremnya, maka sekarang muncul kembali. Kita kalau salam sekarang ini harus 5 atau 6 (sesuai dengan agama-agama). Nah ini jadi masalah baru lagi. Sekarang sudah ditemukan oleh siapa gak tau Yudi latief atau siapa yang lain (yang namanya) Salam Pancasila," seloroh Yudian Wahyudi Ketua BPIP.

Kegaduhan kembali menyelimuti masyarakat Indonesia di tengah ancaman virus corona yang telah menyebar ke-54 negara. Pendapat aneh dan nyeleneh ini spontan mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan terutama umat Islam. Dalam wawancaranya, Yudian Wahyudi Ketua BPIP yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengatakan perlunya ‘Salam Pancasila’ di tempat umum sebagai titik temu antara salam dari masing-masing agama di Indonesia. 






Kemudian, BPIP mencoba mengklarifikasi pernyataan nyelenehnya dengan berdalih bahwa BPIP tidak pernah punya keinginan mengganti ‘Assalamualaikum’ dengan ‘Salam Pancasila’. Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Aries Heru Utomo menjelaskan, pemberitaan berasal dari wawancara ‘Blak-blakan Kepala BPIP: Jihad Pertahankan NKRI’ di salah satu media nasional pada 12 Februari 2020.

Wacana Penggantian Salam

Wacana pengantian salam bagi umat Islam ini tenyata bukanlah hal baru. Empat belas abad yang lalu, Allah swt telah menjelaskan dalam QS. Al-Mujādalah (58) : 8. “Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, "Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Dan neraka Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.”

Jika disimak secara seksama, wacana penggantian salam itu tidak mungkin muncul begitu saja. Tetapi sengaja diciptakan dan tentunya melalui pembicaraan-pembicaraan tertutup di antara mereka, sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya.

Lagi dan lagi. Pemerintah membuat pernyataan yang menciderai akidah kaum muslimin dan memiliki unsur kebencian pada Islam. Tidakkah kalian berfikir? Dari sekian macam bentuk salam, kenapa hanya salam dari Islam yang dipersoalkan. Kita ketahui pula bahwa ketua BPIP ini sendiri adalah seorang Muslim. Sungguh mengherankan bila ketua BPIP pernah juga membuat pernyataan yang menimbulkan kegaduhan serupa, dengan mengatakan ‘musuh terbesar pancasila adalah agama’. Bisa dipastikan agama yang dimaksudpun adalah agama Islam. Sehingga dapat disimpulkan, ‘salam pancasila’ juga merupakan bentuk fitnah keji dan penyerangan terhadap Islam.

Phobia Terhadap Islam

Rezim sekuler ini begitu phobianya dengan syariat Islam. Hingga tiada lelah mereka mencari-cari masalah. Membenturkan umat Islam dengan loyalitas bernegara. Serta selalu menganggap Islam sebagai ancaman.

Dalam ajaran Islam, salam yang diajarkan Rasulullah SAW sangatlah agung dan mulia. Karena memiliki arti doa keselamatan, memuliakan, dan mendapat balasan pahala serta keberkahan bagi yang memberi maupun yang diberi salam. Maka sangatlah naif ketika ada yang mengaku muslim, namun justru merasa tidak nyaman bahkan risih dengan tuntunan salam yang diajarkan Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. 

Rasulullah SAW bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”  (HR. Muslim no. 54) 

Mengucapakan salam dalam kehidupan bermasyarakat menjadi hal yang penting, terutama bagi sesama muslim. Karena dengan mengucapkan salam, akan tumbuh rasa saling mengenal, memecah kebisuan, merubah suasana kaku menjadi bersahabat, juga sebagai perekat tali persaudaraan di antara mereka, meskipun diantara keduanya tidak saling mengenal. Adapun bagi non-muslim dengan ikut mendengar ucapan salam dari kaum muslim kepada kaum muslim lainnya merupakan pintu pertama kerukunan dan kunci pembuka penyebar syi'ar dengan rasa sayang dan bersaudara di tengah mereka sebagai pemeluk agama lain.

Pancasila bersumber dari ajaran Islam

Islam sebagai agama kerap dibenturkan dan dipertentangkan dengan pancasila. Padahal konon katanya pancasila sendiri dilahirkan dari nilai-nilai yang berasal dari ajaran agama. Tapi mengapa yang selalu ditampakkan adalah seolah-olah Islam dan ajarannya merupakan musuh yang akan membawa ancaman pada nilai-nilai yang terdapat dalam tubuh pancasila. Jangan-jangan pancasila tidak lagi sakti, Pancasila tidak lagi kuat. Pancasila sedang sakit karena ulah demokrasi sekulerisme. Maka pancasila butuh obat, bukan racun.




Editor: Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.