Sejarah Runtuhnya Khilafah, Awal Runtuhnya Pelindung Umat

Hot News

Hotline

Sejarah Runtuhnya Khilafah, Awal Runtuhnya Pelindung Umat

(ilustrasi/www.dapurpena.com)


Oleh : Dita Mega*   


"Aku telah menemui banyak raja dan penguasa sepanjang hidupku. Aku menemukan mereka semua lebih lemah jika dibandingkan denganku. Atau yang terkuat sekalipun adalah yang sebanding denganku. Namun jika berhadapan dengan Abdul Hamid, aku merasa gentar." (Kaisar Jerman, Wilhelm II)

Sultan Abdul Hamid adalah khalifah  ke-32 dari Kekhalifahan Utsmani, juga sebagai khalifah terakhir yang memimpin daulah Islam. Walaupun saat itu ia dijuluki The sick man of europe (pria eropa yang sedang sakit)--istilah yang disematkan Barat karena Khilafah Utsmani mulai mengalami kemunduran-S-namun kewibawaan serta ketegasannya dalam melindungi Islam dan umat Rasulullah tidak bisa dianggap remeh. Termasuk penguasa negara besar kala itu, Jerman, yaitu Wilhelm II.

Duta Besar Perancis juga seketika membubarkan sebuah opera yang akan ditayangkan di negaranya saat digertak oleh Khalifah Abdul Hamid. Sebab isi  opera tersebut menghina Nabi Muhammad SAW.

Tanah Palestina berkali-kali ditawar oleh Theodore Hertzl--penggagas berdirinya Negara Yahudi--lewat sogokan sejumlah uang, hingga janji melunasi semua hutang luar negeri Utsmani dengan satu syarat yakni melepas wilayah Palestina. Namun, berkali-kali pula Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran tersebut. Ucapannya yang sangat mahsyur Aku tidak akan menjual satu inci pun tanah Palestina. Palestina bukan milikku, tapi milik semua rakyat Utsmani.




 BACA JUGA : Ketika Islam Disudutkan Oleh Pemerintah



Sungguh! Saat itu adalah saat dimana kaum Muslim masih memiliki sosok pemimpin yang melindungi. Telah sejak 94 tahun lalu, Daulah Islamiyah kokoh selama hampir 13 abad. Dimulai dari kepemimpinan Nabi terakhir umat Islam--Muhammad SAW--hingga Sultan Abdul Majid II. Dari pusat pemerintahan di Madinah hingga Istanbul. Kekhalifahan Islam pernah membentang dari Afrika Utara sampai ke Spanyol di sebelah barat, dari Cina sampai Hawaii di sebelah timur. Bahkan Indonesia juga adalah bagian darinya.

Khilafah mampu menyelesaikan segala permasalahan umatnya. Menjaga kemuliaan perempuan. Melahirkan generasi-generasi polymath dengan berbagai penemuan gemilang. Memberikan keamanan dan kenyamanan juga jaminan kebutuhan pokok. Pendidikan berkualitas dan pelayanan kesehatan terbaik. Juga segala fasilitas umum untuk kemaslahatan umat. Baik itu muslim atau non muslim.

Namun, sejak Khilafah ditumbangkan Mustafa Kemal Atarturk, seorang antek Inggris keturunan Yahudi pada 3 Maret 1924 silam, dengan konspirasi Barat, Yahudi dan kaum munafikin, maka kaum Muslim menjadi bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Semakin lemah dan terhina.

Bak malapetaka. inilah akhir dari sistem kepemimpinan dunia yang tidak lagi didasari oleh ideologi Islam. Al Quran dan As Sunah bukanlah pedoman lagi. Sebab semenjak itu, problem kaum Muslimin tidak mendapat solusi yang bersumber dari syariat. Tidak adanya ijtihad. Yang ada adalah perundang-undangan dan hukum yang jelas merupakan buatan manusia. 

Hukum-hukum syariat diabaikan dan bahkan direndahkan sebagai hukum yang tidak sesuai zaman. Adzan diganti dengan bahasa Turki. Pelajaran tentang Islam dihapuskan. Bahkan kewajiban jilbab dan kerudung bagi perempuan sebagai penjagaan kehormatannya dilarang keras.

Masyarakat diarahkan untuk lebih cinta dan takjub dengan peradaban Barat yang dianggap maju. Berfikir terbalik. Padahal sesungguhnya Barat baru menemui kebangkitannya saat mulai meninggalkan agamanya. Inilah juga yang diinginkan kepada kaum Muslimin. Menancapkan azas sekulerisme yang memisahkan aturan Islam dari kehidupan. Itulah awal dari kehancuran kaum Muslim. Mencampakkan agamanya sendiri.

Produk sekularisme yang sudah baku adalah imperialisme (penjajahan). Yang tidak luput dari 3G (glory, gold, dan gospel). Selain merampas tanah dan kekayaan alam negeri-negeri kaum Muslim, Barat juga merampas tsaqofah Islam. Menggantinya dengan racun sekulerisme, nasionalisme, dan liberalisme yang dikemas cantik melalui demokrasi.

Lebih menakjubkan, wilayah kekhalifahan terakhir di bawah naungan Khilafah Ustmani tahun 1924 dipecah menjadi 50 negara bangsa (nation state). Semakin mempermudah penjajahan bagi Barat.



*Penulis adalah Pemerhati Generasi

Editor : Wannajmi Aisyi

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.